Cinta CEO Arrogant

Cinta CEO Arrogant
Makan siang bersama Ayah


__ADS_3

''Daniel,''


Seorang wanita masuk ke ruangan Daniel dengan senyum manisnya.


''Kau kesini? ada apa?'' tanya Daniel dengan lembut.


''Aku ingin menagih janjinmu,'' ucapnya den manja dan duduk di kirsi depan Daniel.


''Janji? janji apa?'' tanya janji.


''Menemani ku makan,'' jawabnya.


Daniel menghela nafasnya dengan kasar, Ia pun membereskan tumpukan berkas dan beranjak berdiri.


''Kau mau, Daniel?'' tanyanya, Daniel mengangguk dan merogoh saku celananya untuk mengambil ponselnya.


''Aku hubungi Devita dulu, siapa tau dia mau bergabung dengan kita,'' ucapan Daniel membuat gadis itu mendengus kesal.


Daniel terus menghubungi nomor Devita, namun Devita tidak kunjung menjawabnya.


''Tidak di angkat ya?'' tanya Nadia, ya gadis yang tidak tau malunya itu adalah Nadia.


''Iya, entah kemana dia,'' jawab Daniel yang masih mencoba menghubungi nomor Devita.


''Ya mungkin Devita sedang sibuk Niel, sudahlah aku sudah lapar sekali,'' dengan manjanya Nadia merangkul lengan Daniel.


Daniel terkekeh dan mengacak rambut Nadia, ''Kau sudah dewasa, tapi tetap saja manja,'' ucap Daniel.


''Manja dengan mu tidak apa-apa kan?''..


Mereka pun berlalu pergi dari ruangan menuju lobby, di lift Daniel berpapasan dengan Zen.


''Tuan, anda ingin kemana?'' tanya Zen.


''Aku ingin makan siang dengan Nadia, apa kau ingin bergabung Zen.'' Ucap Daniel dengan menawari Zen.


Nadia dengan sontak menatap langsung dengan raut tidak sukanya ke wajah Zen, Zen tersenyum miring. ''Apa boleh saya ikut, Tuan.'' ucap Zen dengan mata yang melirik ke Nadia.


''Kenapa tidak, ya sudah ayo, kau yang membawa mobil,'' Daniel berlalu melemparkan kunci ke arah Zen yang dengan sigapnya menangkapnya.


Nadia melihat Zen dengan sinis. ''Bisa kan kamu menolak tawaran Daniel,'' ketus Nadia.

__ADS_1


''Aku tau otak bulus mu,'' cetus Zen yang langsung berlalu meninggalkan Nadia yang sedang menghentakan kakinya.


''Sial!!'' gerutunya.


.


.


Di Mansion Huang.


Devita dan Puspa baru saja tiba yang langsung di sambug bak putri raja dengan para maid-maid di Mansion.


''Selamat datang Nona muda,'' sapa Mimi kepala pelayan yang di kenal Devita.


''Mimi, apa kabar?'' Devita memeluk tubuh mungil Mimi, Mimi yang di peluk hanya tersenyum canggung.


''Baik Nona, maaf Nona jangan seperti ini, saya takut di tegur Tuan besar,'' dengan tidak enak hati Mimi melepaskan pelukan Devita.


''Memangnya kenapa?'' tanya Devita dengan polosnya.


''Issshh, dia itu takut karena dia hanya pelayan dan kau Nona besar disini,'' bisik Puspa.


''Anak Ayah datang,'' ucap suara berat dari arah dalam Mansion.


''Saya permisi Nona,'' pamit mimi yang di angguki Devita dan Puspa.


''Ayah, apa kabar?'' tanya Devita yang dengan manjanya memeluk erat tubuh Ayah nya dan di balas dengan sang Ayah juga.


''Ayah selalu baik, kau nakal ya, kembali dari Indonesia tidak langsung menemui Ayah,''


''Maaf Ayah,'' kekeh Devita.


''Wah ada gadis manis di sana, siapa dia?'' tanya sang Ayah yang melihat seorang gadis cantik yang sedang berdiri terpaku di ambang pintu yang tak lain ialah Puspa.


''Oh iya, itu sahabat ku Yah, Puspa namanya.'' jawab Devita.


''Pu, kemarilah,'' panggil Devita, Puspa melangkah kakinya dan membungkuk setelah sampai di hadapan Mahendra dengan sopannya.


''Selamat siang Tuan,'' ucap Puspa.


''Ayah, jangan memanggil ku dengan sebutan itu,'' ucap Mahendra mengkoreksi panggilan nya.

__ADS_1


''Baik Ayah,'' ucap Puspa dengan canggung.


''Ya sudah putri-putri Ayah yang cantik, kita makan siang bersama bagaimana, biar Mimi yang mengurus nya, kalian ingin makan apa?'' tanya Mahendra.


Puspa tersenyum haru mendengar ucapan Mahendra yang menyebut nya sebagai putrinya.


''Ayah, Devi ingin makan di luar, Devi sengaja kemari ingin mengajak Ayah makan di restoran favorit kita dulu,'' ucap Devita dengan manja.


''Aahh iya, ide yang bagus, baiklah Lets go kita berangkat.'' Mahendra berlalu dan di buntuti Devita yang bergandengan dengan Puspa.


''Ayah mu sangat baik sekali, Dev.'' bisik Puspa.


''Ya begitulah,'' jawab Devita.


Mahendra mengajak Devita dan Puspa dengan menggunakan mobil mewahnya dengan di supiri supir pribadinya, dan tidak lupa di buntuti beberapa mobil para bodyguard kepercayaan nya.


''Berasa anak sultan ya Dev,'' bisik Puspa yang terkekeh.


Selama di perjalanan, Mahendra terus mengajak bicara Devita dan Puspa, yang awalnya Puspa merasa canggung sekarang tidak lagi.


Dengan sifat Humble Ayah dari sahabat nya yang membuat Puspa tidak lagi canggung.


''Puspa, tinggal satu atap dengan Devita?'' tanya Mahendra.


''Tudak Yah, aku tinggal bersama Mama,'' jawabnya dengan senang.


''Ayah mu bagaimana?'' tanya Mahendra yang tidak tahu apa-apa.


Puspa berubah murung, Devita yang melihat sahabat nya berubah Expresi dengan cerewetnya memarahi sang Ayah.


''Ayah, kenapa Ayah menanyakan itu,'' omel Devita.


''Memangnya kenapa? Ayah salah yaa, Maaf ya Puspa.'' Ucap Mahendra dengan merasa bersalah.


''Tidak Ayah, tidak apa-apa. Ayah ku pergi meninggalkan aku dan Mama ku karena wanita lain. Jadi aku hanya tinggal berdua saat ini,'' jawab Puspa dengan senyum yang terlihat sekali di paksakannya.


''Astaga, maafkan Ayah Puspa, Ayah benar-benar tidak sengaja, ya sudah kau tidak perlu sedih ya, anggap saja aku ini Ayah mu.'' Ucap Mahendra berusaha menghibur Puspa.


Puspa tersenyum senang mendengarnya.


'Ada ya seorang Ayah meninggalkan putri dan istrinya hanya untuk Wanita lain, sungguh tindakan tak terpuji.' batin Mahendra.

__ADS_1


__ADS_2