
Sesuai janji Puspa, saat Kemal sudah sampai di rumahnya dan merebahkan dirinya.
Dengan tidak sabarnya, Kemal langsung menyambar ponselnya dan menghubungi nomor Puspa.
''Maafkan aku jika aku tidak tidak sabar.'' Ucapnya begitu telponnya tersambung.
''Kau sudah sampai rumah?'' tanya Puspa tanpa mengindahkan ucapan Kemal.
''Sudah, bagaimana?'' tanya Kemal.
''Isshhh, kekanak-kanakan sekali,'' gumam Puspa.
''Aku mendengar nya,'' ketus Kemal.
''Baguslah,''
''Bagaimana, mpus.'' Ucap Kemal dengan sisah kesabaran nya.
''Jalani saja dulu, tapi jika aku merasa ucapan mu tidak lagi bisa di pegang, aku akan pergi tanpa pamit dari hidupmu.'' Ucap Puspa, Kemal terdiam berusaha mencerna kata-kata Puspa yang penuh tekateki menurut nya.
''Kenapa wanita tidak bisa sesimple pria sih,'' gumam Kemal dalam hati.
''Kem?'' panggil Puspa karena tidak ada lagi suara yang di dengar nya.
''Aah, iya mpus.'' Jawab Kemal kelabakan.
''Kenapa kamu diam, kamu ga bisa terima jawaban aku?'' tanya Puspa memastikan.
''Tidak, eh bukan itu. Maksud aku aku tidak mengerti maksudnya.'' Ucap Kemal dengan gugup.
''Ya sudah, aku tutup dulu ya. Selamat malam.'' Puspa pun mengakhiri obrolan via telpon itu.
''Lho kok di tutup?'' heran Kemal.
Kata-kata Puspa terus ia translate di otaknya. Kenapa lagi situasi ini otak tidak bisa di ajak kompromi sih, pikir Kemal.
Dia meraih ponselnya lagi, tapi kali ini tidak menghubungi kembali nomor Puspa melainkan Zen.
__ADS_1
''Halo Zen, aku ingin tanya sesuatu padamu.'' Ujar Kemal tanpa basa basi.
''Tanya apa Tuan Kemal?'' tanya Zen dengan suara lirih, ya Zen sudah tidur dan harus terganggu dengan adik sang bos.
''Artikan bahasa ini, Jalani saja dulu, tapi jika aku merasa ucapan mu tidak lagi bisa di pegang, aku akan pergi tanpa pamit dari hidupmu. Cepat aku tunggu.'' Ujar Kemal mengulang kata-kata Puspa.
''Itu berarti orang yang mengucapkan hal itu menerima suatu hubungan namun masih dalam percobaan.'' Jawab Zen dengan suara seraknya.
''Benarkah? berarti aku di terima?'' tanya Kemal dengan senang.
''Apa kau habis menyatakan perasaan mu, Tuan?''
''Ya kau benar Zen, berarti aku di terima kan Zen?'' tanya Kemal lagi.
''Dengan seorang wanita kan?'' ucap Zen dengan mempertanyakan hal nyeleneh.
''Bodoh! ya sudah pasti perempuan, tidak mungkin aku menyatakan perasaan pada sesama pria, aku pria normal, Zen.'' Jawab Kemal dengan meledak-ledak.
''Ya Tuan maaf, tapi ingat. Dia mengucapkan itu artinya dia menerima mu tapi jika kau mengecewakan nya barang sekali saja, dia akan langsung pergi dari hidupmu.'' Ucap Zen mengingatkan.
Kemal menutup telpon tanpa menunggu jawaban Zen lagi, Zen mendengus kesal.
''Tidak kakak, tidak adiknya sama saja. Bahkan kata terima kasih dan maaf saja sulit sekali terucap,'' dengus Zen melempar ponselnya dan melanjutkan tidur nya kembali.
.
.
.
Matahari sudah mengintip, burung-burung telah berkicau dengan merdunya.
Seorang gadis sudah rapih dengan pakaian santainya, satu yang dia lupakan.
Seseorang mengatakan harus bersiap-siap karena untuk mengajaknya ke suatu tempat.
Ya gadis itu adalah Devita, saat ini Ia sedang berada di meja makan bersama sang Ayah dan seorang pria kepercayaan Ayah nya, Reno.
__ADS_1
Pria dingin tanpa expresi apapun itu, duduk dan makan tanpa suara dan tanpa menoleh kiri kanan.
''Reno, bisa kau menolong ku mengemas barang-barang Devita.'' Ucap Mahendra setelah menyelesaikan sarapan nya.
''Bisa Tuan,'' jawabnya singkat, tanpa ada pertanyaan lagi.
''Mengemas? untuk apa, Ayah?'' tanya Devita.
''Bukannya kau ingin pergi dengan Daniel?'' ucap Mahendra yang bertanya balik.
''Pergi? kemana?'' tanya Devita lagi.
''Astaga, sifat Rani yang pelupa itu ternyata menurun ke anaknya.'' Gumam Mahendra dengan gelengan kepala.
''Tadi malam saat Daniel pamit pulang, dia meminta izin pada Ayah, untuk membawa mu kesuatu tempat,'' ujar Mahendra.
''Astaga, iya aku lupa,'' tawa Devita.
Reno yang memang mempunyai sifat dingin dan tidak pernah memperdulikan apapun itu, tapi saat ini seperti tertarik dengan obrolan Ayah dan anak di depannya itu.
Mata yang terus menatap Mahendra dan Devita secara bergantian, dan saat melihat tawa Devita, Reno seakan tertular sampai Ia tak sadar menyunggingkan senyum tipisnya.
Namun dengan sekejap expresi aslinya kembali saat Devita menoleh ke arahnya.
''Tuan Reno, tidak perlu menyiapkan barang-barang ku. Aku bisa sendiri kok.'' Ucap Devita lembut.
''Devi, panggil Reno dengan sebutan kakak, ya?'' titah Mahendra mengoreksi panggilan Devita ke Reno.
''Baik Ayah.''
''Oh iya, Oji kemana Yah?'' tanya Devita.
''Dia sudah berangkat kesekolah tadi pagi-pagi sekali, ada tugas katanya,'' jawab Mahendra.
''Sekolah? wah syukurlah Oji bisa bersekolah lagi,'' ucap Devita dengan senang.
''Oji anak yang cerdas, sayang kalau tidak di kembangkan,'' ujar Mahendra.
__ADS_1