
Kehidupan Daniel dan Devita sangatlah harmonis di tambah dengan kehadiran si buah hati sebagai pelengkapnya.
Tumbuh kembang baby David pun sangat bagus, kini usia baby David sudah menginjak delapan bulan dan sudah mulai belajar berjalan.
Daniel membelikan rumah untuk Devita dan anaknya tepatnya tidak jauh dari mansion sang Ayah, sebenarnya keluarga merasa keberatan dengan keputusan Daniel karena keluarga menginginkan kalau Devita dan Daniel bisa tinggal bersama dengan mereka, tapi Daniel tetaplah Daniel yang memiliki keputusan sendiri tanpa ingin di ganggu gugat.
Di taman belakang rumah yang luas, Devita sedang mengajarkan baby David berjalan dan rumput lah sebagai pijakan kakinya mungil baby David.
Dengan telaten dan sabar, Devita terus melatihnya, sampai ketika seseorang datang dari arah pintu belakang dan memanggil baby David dengan lembut.
'' Anak papah, David. Kemarilah, papah pulang,'' ucap Daniel memanggil anaknya.
Sontak si kecil David menoleh dan berusaha untuk melangkah agar sampai ke pelukan Daniel, papah nya.
'' Pelan-pelan nak'!'' teriak Devita.
'' Jangan takut honey, anak ku tidak akan kenapa-kenapa, bukan begitu jagoan papah,'' ucap Daniel yang langsung memeluk anaknya dengan sayang.
Dengan suara dan cara bicara yang kurang jelas baby David terus saja mengoceh tiada henti di gendongan Daniel.
'' Anak papah mulai bawel ya,'' ucap Daniel sambil mencubit hidung mancung anaknya.
'' Daniel, hidung anak ku memerah, kamu sih,'' omel Devita yang langsung mengambil baby David dari gendongan Daniel.
'' Hahahah, tidak apa-apa honey, baby-nya saja tidak menangis,'' tawa Daniel. Devita menekuk wajahnya dengan masam karena ulah Daniel yang sangat jail itu.
Daniel meraih pinggang ramping Devita dan menciumnya dengan gemas bergantian dengan wajah lucu sang anak.
'' Hentikan Daniel, geli,'' ucap Devita namun Daniel yang tidak mengindahkan nya sama sekali terus saja menciumi istri dan anaknya sampai anaknya tertawa terbahak-bahak karena geli terkena rambut-rambut halus wajah Daniel.
'' Lihat anak kita tertawa honey, astaga betapa tempanya dia seperti ku, bukan?'' ucap Daniel.
Devita hanya tersenyum karena memang iya, wajah David bak seperti jiplakan seorang Daniel, dan Devita mengingat wajah David seperti Daniel sewaktu kecil di foto yang pernah dia lihat di kantor Daniel dulu.
'' Sudah-sudah, kau belum makan kan?'' tanya Devita dan Daniel hanya mengangguk sambil terus menjahili anaknya.
'' Ayo, kita makan. Kebetulan aku dan David juga belum makan,'' merekapun masuk ke dalam rumah mewahnya dan makan bersama di meja makan dengan suasana manis.
Di Mansion, Puspa yang kandungan nya sudah menginjak ke 9 bulan masih merasa tenang karena ia belum merasakan tanda-tanda melahirkan. '' Sayang kau yakin, aku tidak apa-apa berangkat ke restoran?'' tanya Kemal tidak yakin meninggalkan Puspa yang sudah hamil tua itu.
'' Tidak apa-apa suami ku, lagipula aku juga belum merasakan ada tanda-tanda melahirkan,'' tepis Puspa meyakinkan suaminya.
__ADS_1
'' Haaahh, tapi kehamilan mu sudah waktunya melahirkan bukan?''
'' Menurut yang di katakan dokter, prediksi nya empat hari lagi, kau tenang saja lagipula disini kan ada ka Linda dan ka Zen,'' ucap Puspa lagi memberikan penjelasan agar suaminya bisa tenang.
'' Iya aku tau, tapi sebentar, biar ku hubungi Rezky agar dia saja yang menghandle klien hari ini,'' ucap Kemal dengan keputusan validnya.
'' Haahhh, terserah kau saja lah,''
Di halaman belakang mansion, Linda Zen dan Dinar sedang berbincang mengenai bulan madu kedua Linda dan Zen yang Linda sendiri keberatan akan rencana itu.
'' Lin, tidak ada salahnya kan kalau kalian berbulan madu lagi,'' bujuk Dinar.
'' Iya sih ka, tapi nanti saja lah aku pikirkan lagi, lagipula pekerjaan Zen di perusahaan pasti tidak bisa di tinggal,'' ucapnya dengan menekuk wajahnya.
Ya saat ini Zen sudah setuju untuk mengurus perusahaan peninggalan orangtua Linda dan Linda hanya diam di rumah sesuai apa yang Dokter anjurkan untuk banyak istirahat, karena Zen dan Linda sedang melakukan program hamil.
Zen hanya diam, di dalam lubuk hatinya ia juga sangat ingin berbulan madu lagi untuk kesempatan waktu hanya mereka berdua saja, tapi Linda yang sangat mengkhawatirkan perusahaan peninggalan orangtuanya tentu saja membuat Zen juga berpikir lagi untuk itu.
'' Ya sudah terserah kalian saja, oh ya sebentar ya kakak kedalam dulu,'' pamit Linda yang sudah beranjak dan berlalu ke dalam Mansion.
Tinggallah Zen dan Linda di taman itu, Linda melihat suaminya yang tengah murung dengan kepala yang di senderkan di senderan kursi.
'' Zen, kau kenapa?'' tanya Linda sebagai lembut.
'' Lapar, bukannya tadi barusan kita makan ya?''..
'' Iya, tapi ini berbeda Lin,''
'' Berbeda bagaimana?''
'' Yang lapar bukan perut ku, tapi si Otong kesayangan mu,'' bisik Zen ketelinga Linda dan tentu membuat Linda tersipu malu karena mengerti apa yang di maksud Zen.
Linda memukul lengan Zen dengan manja.
'' Zen, kau ini.'' Ucap Linda dengan wajah yang memerah.
'' Kenapa sayang, aku sungguh-sungguh menginginkan itu sekarang juga,'' ucap Zen lagi meminta haknya.
Linda hanya diam tidak mengatakan apapun, dan itu membuat Zen menyimpulkan kalau istrinya juga setuju dengan apa yang Zen maksud.
Zen meraih tangan Linda dan beranjak untuk mengajaknya ke kamar mereka, tidak ada berontakan dari Linda dia hanya ikut menurut dengan ajakan Zen karena menurut nya memang sudah beberapa hari ini Zen tidak mendapatkan haknya karena Linda yang belakangan ini sangat merasakan lemas dan lesu pada dirinya.
__ADS_1
Dari arah ruangan makan, Dinar yang baru saja selesai membuat minuman untuk dirinya sendiri melihat Zen yang sedang menggandeng tangan Linda dengan wajah Linda yang memerah.
Dinar mengerti apa yang akan mereka lakukan, karena bukan tidak paham akan hal itu, mengingat Dinar yang memang lebih pengalaman.
'' Dasar si Zen, masih sore padahal, ah biarkan lah, semoga saja Linda juga cepat mengandung.'' Gumam Dinar menggelengkan kepalanya dengan harapan di akhir katanya.
Ya sudah hampir setahun usia pernikahan Zen dan Linda namun belum ada tanda-tanda kehamilan diri Linda yang tentu nya membuat keluarga merasa cemas, pasalnya Devita dan Daniel sudah memiliki momongan dan Kemal juga Puspa akan ikut menyusul tapi pasangan kutub ini belum juga memberikan tanda-tanda itu.
Frans sebagai ayah mereka sering sekali menganjurkan untuk melakukan pemeriksakan keadaan atau kesehatan Linda dan juga Zen tapi mereka menolak itu, karena mereka sangat yakin dengan pasangan nya masing-masing, dan mereka yakin kalau itu hanya membutuhkan waktu saja.
Di kamar Zen dan Linda, Zen sudah merebahkan Linda di kasur empuknya, dan Zen sudah akan bersiap untuk melakukan pemanasan.
Keadaan mereka sudah sama-sama tidak menggunakan apapun kecuali pakaian dalam yang masih terpasang di tubuhnya.
Zen sudah memberikan kenyamanan dari mencium sampai memberikan rangsangan tapi saat akan melakukan jauh dari pemanasan, pintu di ketuk dengan sangat keras dari luar.
'' Sial! siapa!!!!'' teriak Zen yang kesal karena kegiatannya di ganggu.
'' Zen, cepatlah bantu aku. Puspa sudah mengeluarkan air ketuban!'' teriak Kemal dari arah luar kamar dan tentunya membuat Linda langsung mendorong tubuh Zen sampai Zen terpental dan terjatuh dilantai kamar.
'' Kita harus segera membawa Puspa kerumah sakit, Zen,'' ucap Dinar yang langsung sigap memakai pakaiannya kembali yang sudah tercecer di lantai itu.
Zen berdecak kesal karena keinginannya tidak terlaksana lagi, sudah beberapa hari ini dia terus menahan hasratnya dengan alasan tidak tega melihat Linda yang tidak enak badan, tapi saat ada kesempatan malah di ganggu oleh Kemal.
'' Ck, awas kau Kem,'' gerutu Zen yang kembali memakai pakaian nya lagi.
Dengan wajah yang di tekuk, Zen membuka pintu kamarnya. '' Ayo Zen, aku takut terjadi apa-apa pada istri ku,'' ajak Kemal dengan tidak sabar nya.
'' Kau ini bawel sekali.''
'' Ya lagipula kau sedang apa sore-sore di dalam kamar?''
'' Bodoh! kau kan sudah berumah tangga, tidaklah mungkin kau tidak mengerti,'' maki Zen yang kesal dengan pertanyaan Kemal.
'' Sudah-sudah, kenapa kalian malah berdebat, ayo kita segara bawa Puspa.'' Sela Linda yang sudah keluar kamar dan menuju kamar Puspa dan Kemal.
Kemal pun langsung berlari mendahului Linda untuk ke kamarnya. Zen membuntut dari belakang dengan perasaan yang masih kesal.
'' Sabar ya Otong, kau harus menahannya lagi,'' gumam Zen dengan kepala yang melihat ke tubuh bagian bawahnya.
Merekapun langsung membawa Puspa ke rumah sakit dengan Dinar yang selalu sigap menghubungi pihak rumah sakit untuk mempersiapkan ruang persalinan yang harus di sterilkan dahulu.
__ADS_1
TBC...