
Permintaan sang Ayah di anggap sebuah perintah bagi Dinar, Ia harus lebih berusaha lagi menyatukan adik dan kaka itu yang tak pernah saling sapa sedari dulu, tapi yang masih di hedankan Dinar, kenapa Daniel menjadikan Kemal sebagai kepercayaan nya.
Dari pertama dia dengar kalau Kemal bekerja untuk Daniel, Dinar merasa heran, tapi entahlah hanya Daniel lah yang tahu alasannya bertanya pun percuma, bukan hanya sekali Dinar menayangkan alasannya tapi beberapa kali Ia terus menanyakan itu, ya jawaban yang sama pula yang di dapatkan Dinar.
''Sudahlah kau banyak bertanya, urus saja urusan mu, ka.'' Itulah jawaban yang sama terucap dari mulut Daniel.
Dinar sedang membaca majalah di sofa yang letaknya tak jauh dari ranjang sang Ayah, pintu terbuka dan orang yang datang adalah Zen dan Kemal.
''Kalian datang,'' ucap Dinar dengan senang.
Kemal memeluk Dinar, Dinar membalasnya dengan sayang.
''Kemarin kau datang kan, kenapa tidak menunggu kaka datang.'' Ucap Dinar dengan lembut, Kemal tersenyum miris mengingat kejadian kemarin.
''Aku ada urusan mendadak Ka, jadi harus buru-buru,'' alasan Kemal.
''Daniel kemana ka?'' tanya Zen, ya selagi masih di lingkungan hanya ada kluarga inti, Zen memanggil Dinar dengan sebutan kakak, bukan Nona muda.
''Dia bilang ingin ke toko Devita,'' jawab Dinar.
.
Dinar wanita yang lembut, sedari dulu Ia selalu menyayangi adik-adiknya, saat Daniel mengadu dan menangis karena Ibu nya, Dinar yang selalu memeluknya dengan sayang.
Dan di saat Kemal murung sendirian di sudut ruangan, Dinar selalu menghibur nya agar Kemal kembali tersenyum lagi begitu juga Zen yang notabene nya bukan keluarga tapi Ia juga sudah menganggapnya adiknya sendiri.
Dia tidak pernah membenci Ibu nya, dia hanya membenci kelakuan nya saja, Ibu dan Ayah nya menikah tanpa keharmonisan di dalamnya, karena suatu insiden mau tidak mau, mereka harus menikah.
__ADS_1
Tuan Carroll yang biasa di sebut dengan nama Frans, ya karena nama depannya adalah Frans, Frans Carroll.
Dia harus menikah dengan Mirna kekasih sahabat nya sendiri karena sahabat nya lah yang memintanya, sahabat nya yang sudah di jodohkan orang tuanya harus melepaskan Mirna yang sudah hamil dengan nya dan Frans lah yang menanggung nya karena demi sebuah hubungan yang di sebut SAHABAT.
Mirna menolak keras untuk menikah dengan Frans karena tidak ada sedikitpun perasaan di dalamnya untuk pria tampan pada masanya itu.
Setelah melakukan pernikahan, ternyata Mirna dan sahabat nya masih saja berhubungan diam-diam dan pada akhirnya saat mereka pergi bersama. Mereka mengalami kecelakaan hebat sampai membuat sahabat Frans meninggal dunia dan Mirna yang harus kehilangan janin yang di kandung nya.
Frans selalu berusaha menerima Mirna tapi tidak dengan Mirna, sampai pada suatu malam Mirna yang datang sendiri ke kamar Frans dan mengajaknya tidur bersama karena pengaruh alkohol, ya hobi Mirna sedari dulu adalah bersenang-senang dengan dunia malam, dan tiba saatnya juga Ia mengandung Dinar, dan juga Daniel. Mirna selalu datang sendiri untuk menagajak Frans tidur bersama di saat keadaan mabuk.
Frans yang mulai jengah dengan Mirna yang tak pernah mau merubah dirinya menjadi lebih baik lagi padahal sudah memiliki dua anak, akhirnya menikah dengan wanita yang di cintainya yaitu Ibu dari Kemal sekertaris nya sendiri di perusahaan nya.
Itulah cerita dari masalalu Tuan Frans Carroll.
.
.
Devita Puspa dan Citra sedang di sibukan dengan para pelanggan, Daniel pun ikut membantu di bagian kasir, beberapa kali Daniel mendengus kesal karena baru kali ini Ia melakukan pekerjaan yang di mata Daniel sebuah penghinaan.
Tapi karena melihat senyum Devita, membuat Daniel harus rela melakukannya walau dengan terpaksa.
Toko sudah mulai sepi karena jam makan siang, Daniel melihat Devita yang terlihat kelelahan langsung menghampirinya dan dengan lembut mengelap keringat yang ada di pelipis Devita menggunaakan lengan kemejanya.
Puspa dan Citra yang melihat adegan manis itu hanya saling pandang dan berlalu pergi ke halaman belakang yang sudah di sulap menjadi kebun bunga oleh Devita.
''Terima kasih Daniel,'' ucap Devita dengan senyum indahnya.
__ADS_1
''Lelah ya,'' ucapnya dengan lembut, Devita hanya menggeleng kecil sebagai jawabannya.
''Bagaimna kalau Aku carikan pekerja untuk membantu disini ya, agar kamu tidak terlalu lelah,'' usul Daniel.
''Tidak Daniel, tidak perlu. Toko sekecil ini tidak memerlukan banyak pegawai kok, ada Citra juga sudah sangat membantu,'' tolak Devita dengan hati-hati karena takut menyinggung perasaan Daniel.
''Tapi aku melihatnya hari ini kalian sangat kewalahan menangani nya,'' ucapnya lagi.
''Tidak setiap hari seperti ini Daniel, toko kecil seperti ini kadang ramai kadang sepi, tidak tentu.'' Jawab Devita yang terus meyakinkan Daniel agar mengerti.
'Aku tidak mau bergantung dengan bantuan mu, Daniel,' batin Devita.
Ya Devita hanya ingin bekerja sesuai kemampuannya bersama sahabat nya.
Di halaman belakang toko, Puspa dan Citra sedang memotong tangkai bunga mawar untuk di pajangnya di depan toko, Puspa yang memang sedang ada masalah perihal Kemal tidak terlalu memperhatikan duri-duri yang tajam itu sampai pada akhirnya duri dari batang tangkai mawar mengenai jari lentiknya.
Puspa meringis sakit. ''Ka, kau tidak apa-apa?'' tanya Citra yang mendengar Puspa yang meringis.
''Tidak, ini hanya terkena duri mawar saja,'' jawab Puspa.
''Astaga, ka jangan pernah menganggap remeh duri sekecil itu, karena yang terkena duri mawar bisa terkena infeksi dan menimbulkan bengkak.'' Ujar Citra menjelaskan.
''Benarkah?''
''Ya, tunggu sebentar, Aku ambilkan kotak obat,'' Citra berlalu masuk untuk memgambil kotak p3k.
''Kemal sampai saat ini tidak mau mengangkat telpon ku,'' gumam Puspa dengan murung.
__ADS_1