Cinta CEO Arrogant

Cinta CEO Arrogant
Menduga-duga


__ADS_3

Malam telah datang, sepasang kekasih yang baru saja meresmikan hubungannya untuk menuju ke jenjang yang lebih serius baru saja tiba di tanah kelahirannya, mereka adalah Daniel dan Devita ya lima belas jam perjalanan tentu membuat siapapun lelah begitu juga Devita dan Daniel.


Devita yang sudah pucat karena Jetlag, Daniel yang merasa tubuhnya sudah sangat kelelahan berusaha kuat karena ada Devita yang harus di jaga.


Zen sudah berada di ruang tunggu matanya terus mencari tuannya, setelah beberapa saat kemudian Daniel dan Devita muncul dengan 2 koper berukuran kecil.


Zen segera mendekat ke mereka dan mengambil alih kopernya.


''Mari Tuan.'' Ucap Zen dengan nada khasnya.


''Iya, Terima kasih kau mau menjemput ku,'' ucap Daniel dengan suara pelan.


Zen terkesip mendengar ucapan terimakasih yang keluar langsung dari mulut Daniel, pasalnya 8 tahun Zen bekerja sebagai asisten pribadi Daniel, belum sekali pun mendengar 2 kata yang terlontar yaitu TOLONG dan TERIMA KASIH.


''Iya Tuan, ini sudah tugas saya.'' Jawab Zen dengan gugup.


'Pasti ini berkat Devita.' pikirnya.


Devita hanya tersenyum tanpa menyapa, karena untuk mengeluarkan suara pun enggan, kepala yang serasa berputar dan mual membuat Ia enggan untuk mengeluarkan suaranya.


Zen memandu berjalan lebih dulu menuju mobil.


Setelah memastikan Daniel dan Devita sudah duduk di dalam mobil, Zen menaruh 2 koper itu di dalam bagasi mobil lalu Ia pun ikut masuk ke dalam mobil sebagai supirnya.


Suasana di dalam mobil cukup hening karena manusia yang berada di kursi belakang sedari tadi hanya diam saja, Zen pun ikut diam.


''Zen kau bisa mematikan pengharum itu, aku mual.'' Ucap Devita dengan lirih.


Daniel yang mendengar ucapan Devita seketika khawatir karena melihat wajah Devita yang semakin pucat.


'Mual? apa Devita hamil, apa jangan-jangan mereka saat di Indonesia sudah..' gumam Zen dalam hati, Ia terus menduga-duga karena mendengar keluhan Devita.


''Zen kau tidak dengat,'' bentak Daniel.


''Iya Tuan, maaf.'' Zen mematikan pengharum mobil itu.

__ADS_1


''Kau semakin pucat, sayang.'' Ucap Daniel dengan rasa khawatirnya.


''Kau tidurlah dulu,'' Danil membawa Devita agar lebih dekat dengan nya dan di taruhnya kepala Devita di pangkuan nya. Devita yang memang sudah lemas tidak kuat lagi untuk menolak.


Hitungan menit, Devita sudah terlelap dalam tidurnya.


''Zen pulang ke apartemen saja yg,'' titah Daniel dan di angguki Zen, pikiran Zen terus berputar, apa dalam 3 hari bisa langsung hamil? itu lah yang Zen pikirkan.


Dua puluh menit mobil yang Zen bawa sudah memasuki area Apartemen tenpat Daniel dan Devita tinggal.


Tanpa membangunkan Devita, Daniel membawanya dalam gendongan ala bridal style, walau tubuhnya sendiri sudah sangat lemas, Daniel berusaha kuat. Dia tidak mau tubuh Devita di sentuh siapapun selain dia.


Zen yang melihat ada keringat di kening Daniel, berusaha untuk menawarkan jasa.


''Tuan seperti nya anda juga sama lelahnya, biar saya bantu membawa Nona Devita, Tuan,'' ucap Zen menawarkan diri.


''Cih, itu mau mu Zen, aku tidak rela tubuh calon istri ku tersentuh dengan pria lain.'' Ketus Daniel.


'Aku kan hanya ingin membantu.' batin Zen.


Zen yang seorang Asisten hanya bisa manut dengan perintah bosnya.


Daniel membawa Devita ke kamar nya, dengan perlahan Daniel menaruhnya agar tidur gadisnya tidak terganggu.


''Kau sangat lelap, tidur lah.'' Ucap Daniel dan pelan serta mengecup singkat kening Devita, menyelimuti dengan rapat agar gadisnya bisa lebih nyaman.


Tubuh Daniel sudah tidak bisa di ajak kompromi sampai-sampai Daniel pun ikut merebahkan dirinya di samping Devita, tidak menunggu lama Daniel sudah ikut masuk ke alam mimpinya.


Di sebuah Rumah Sakit, Puspa masih menemani Mama nya yang belum juga tidur, sang Mama terus mengungkit pembicaraan soal tadi pagi.


Rasa ingin teriak dan bilang kalau dirinya sudah memiliki pacar sangat sulit terucap.


Flashback


Setelah menutup sambungan telepon dari Kemal, sebuah tangan menepuk pundak Puspa yaitu Jonathan.

__ADS_1


''Bagaimana keadaan Mama mu?'' tanya Jonathan yang ikut khawatir.


''Mama hanya kelelahan saja, Jo.''


''Oh ya, kau tidak ada kelas memangnya?''


''Tidak, dosen bimbingan sedang tidak hadir,'' jawab Jonathan.


Jonathan yang melihat wajah sahabat nya di tekuk merasa heran.


''Kau kenapa cemberut begitu?'' tanya Jonathan lagi.


''Aku sedang kesal sama Mama, kamu bayangkan saja Jo, masa Mama dan temannya sepakat ingin memperkenalkan aku dengan anak teman Mama ku, yang sudah di pastikan ujungnya membahas perjodohan.'' Keluh Puspa dengan sedih.


''Ya kamu bilang saja jika kamu sudah punya kekasih apa susahnya,'' saran Jonathan.


''Itu dia Jo, aku belum siap memperkenalkan Kemal pada Mama,'' cetus Puspa.


''Waaahh ternyata benar kau dengan pria es itu sudah menjalin hubungan,'' sarkas Jonathan.


''Iya baru juga 2 hari,''


''Heemm, terus kau mau apa?'' tanya Jonathan yang bingung untuk memberi saran.


''Aku juga tidak tidak tahu,''


''Bagaimana kalau aku pura-pura menjadi kekasih mu, biar Mama mu membatalkan rencananya,'' usul Jonathan, Puspa tengah berpikir apa iya usul Jonathan akan berhasil.


''Sudah jangan banyak berpikir, cepat bawa aku ke dalam,'' ucap Jonathan yang langsung menarik tangan Puspa.


''Pelan-pelan Jo,'' teriak Puspa.-


Saat pintu di buka Jonathan dan Puspa, dua wanita paruhbaya langsung menoleh ke arah pintu.


Yang tadinya Jonathan semangat ingin menemui orang tua Puspa seketika terpaku di tempat dengan mata yang melotot, Puspa yang berada di belakang tubuh jangkung Jonathan merasa heran.

__ADS_1


Dua wanita paruhbaya yang sedang berbincang itu ikut terkejut melihat nya, tangan Jonathan yang menggenggam tangan Puspa saat ini sebagai pusat perhatian keduanya.


__ADS_2