Cinta CEO Arrogant

Cinta CEO Arrogant
Hanya rasa Kemanusiaan


__ADS_3

Linda masih terdiam dengan menatap langsung wajah Zen, ia benar-benar syok dengan bentakan Zen.


' Apa aku sudah keterlaluan,' batin Linda yang menyalahkan diri sendiri.


'' Apa kau puas?'' tanya Zen yang sudah sedikit lebih tenang.



" Apa kau mabuk Tuan?" tanya Linda.


" Aku mabuk atau tidak, apa peduli mu," sahut Zen.


" Jadi benar kau mabuk, lalu kenapa kau mengemudi? apa kau tau itu melanggar lalu lintas," Linda kembali mengomel, Zen menarik nafasnya dan membuangnya dengan kasar.


'' Stop, aku akan pergi,'' Zen berlalu begitu saja menuju mobilnya meninggalkan Linda yang masih mengomel.


'' Hei aku masih bicara, kau tidak boleh mengemudi dengan keadaan mabuk!'' teriak Linda.


'' Lalu? kau mau menyetirkan aku sampai apartemen ku,'' ucap Zen, Linda terdiam, batinnya mengatakan ingin membantunya tapi pikirannya yang melarangnya karena rasa kesal pada Zen.


'' Kau hubungi saja teman mu, kenapa harus aku,'' cetus Linda.


'' Ck, ya sudah kalau tidak mau,'' Zen sudah membuka pintu mobilnya tapi Linda melihat Zen yang terus menggelengkan kepalanya karena rasa pusing efek dari minuman yang di konsumsi nya seketika merasa iba.


'' Baiklah, aku akan mengantarkan mu, pindah sana,'' ucapnya yang sudah tidak ada pilihan lain lagi ia menganggap ini hanya rasa kemanusiaan saja tidak lebih.


Zen kembali menutup pintu dan memutar untuk duduk di kursi penumpang di samping kemudi, dan Linda yang masuk ke dalam lalu duduk di kursi kemudinya.


Linda melajukan mobil milik Zen dengan perlahan, selama di jalan keduanya hanya diam, Linda yang memang hanya memfokuskan dirinya di kemudi dan Zen yang sedang menetralkan rasa pusingnya.


'' Kau sedang apa di jalan tadi?'' tanya Zen twoi Linda tidak menjawabnya.


'' Kau tidak mempunyai telinga ya,'' sungut Zen karena pertanyaan nya tidak di jawab Linda.

__ADS_1


'' Tidak ada peraturan yang mengharuskan menjawab setiap pertanyaan mu kan,'' jawab Linda dengan mata yang terarah ke depan jalan.


Zen hanya berdecak kesal karena jawaban Linda yang tidak sesuai pertanyaan nya. Setibanya di gedung apartemen dimana Zen tinggal Linda memarkirkan nya tepat di lobby agar pemilik mobil bisa langsung segera ke kamarnya.


'' Sudah sampai, aku pamit pulang,'' ucap Linda yang sudah bersiap-siap akan membuka pintu mobil tapi tiba-tiba Zen menarik tangan Linda sampai Linda kembali duduk dengan keterkejutan nya.


'' Kau mau kemana? tolong papah aku sampai ke kamar ku, kepala ku benar-benar pusing,'' pinta Zen yang masih dengan tangan yang memegang pergelangan tangan Linda.


'' Tapi,'' ucapan Linda langsung terpotong karena ada jari yang menempel di bibirnya yang tak lain itu jari Zen yang sengaja agar Linda tidak bicara lagi.


'' Ssstttt, aku hanya meminta bantuan kecil, please aku benar-benar tidak mampu berjalan sendiri,'' ucap Zen lagi dan membuat Linda merasa tidak tega yang pada akhirnya menyetujuinya walaupun dengan rasa keterpaksaan nya.


'' Baiklah,'' Linda turun dan membukakan pintu untuk Zen lalu memapahnya.


'' Pak tolong parkirkan ya,'' ucap Linda yang memberikan kunci mobil pada penjaga apartemen. Linda kembali memapah menuju lift Linda yang sudah tahu dimana letak kamar Zen tidak bertanya lagi.


Tapi saat sampai di depan pintu dan harus menggunakan pasword untuk masuk Linda akhirnya bertanya kode pasword nya.


'' Pasword nya apa?'' tanya Linda tanpa ingin menoleh ke arah wajah Zen karena kalau ia menoleh posisi wajahnya dengan wajah Zen akan sangat dekat dan itu akan membuat canggung.


'' Ya berapa, aku mana tahu tanggal lahir mu,'' ucap Linda yang tanpa sadar malah menoleh ke wajah Zen dan berbarengan Zen juga menoleh ke arah Linda, posisi yang sangat intim itu membuat jantung keduanya berdebar todak karuan.


Pandangan keduanya terkunci satu sama lain cukup lama mereka membisu dan Linda lah yang mengakhiri tatapan itu.


'' Cepat katakan berapa?'' tanya Linda yang tidak mau lagi menoleh.


Zen menjawab pertanyaan Linda dan ia pun menekannya sesuai yang Zen ucapkan, pintu terbuka dan Zen menunjuk ke arah pintu dimana kamar tidurnya berada.


'' Kau tidak bisa berjalan sendiri ke kamar tidur mu?'' tanya Linda yang merasa keberatan kalau harus mengantarkan Zen ke kamar tidurnya.


'' Kepala ku benar-benar pusing,'' jawabnya, Linda mengela nafasnya dengan kasar dan membawa Zen menuju kamar tidur dan meletakannya di ranjang king size miliknya.


'' Sudah ya aku pamit,'' ucapnya setelah meletakan Zen ke ranjang.

__ADS_1


'' Buatkan lemon tea dulu ya, tolong,'' ucap Zen yang seenaknya menyuruh Linda.


'' Menyebalkan,'' Linda mengentakan kakinya dan berlalu menuju dapur, membuatkan apa yang di pinta Zen dengan terus menggerutu dan kembali ke kamar untuk memberikan minuman itu.


'' Ini ambilah, aku ingin langsung pergi,'' ucap Linda yang manaruh minuman ke atas nakas samping ranjang.


Linda melangkahkan kakinya menuju pintu untuk bsegera pergi namun karena racauan Zen membuat jiwa kepo Linda bergejolak.


'' Dev,'' panggil Zen yang sudah tidak sadarkan diri karena pengaruh alkohol.


'' Dev? siapa yang di panggil dia,'' gumam Linda.


Linda mendekat lagi kearah Zen karena ingin lebih jelas mendengar racauan Zen, tapi tiba-tiba kakinya tersandung karpet bulu yang ada di bawah ranjang Zen dan membuat ia tidak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya sampai terjatuh ke ranjang tepat di samping Zen.


Linda bernafas lega karena jatuhnya hanya di samping nya saja Zen menoleh dengan mata yang setengah terpejam mengubah posisinya menyamping agar tidak susah untuk bicara pada orang yang di depannya.


Dengan bertumpu siku dengan btangan yang menyangga kepalnya Zen berucap.


'' Kau tau Nona Linda, ucapan orang yang tengah terpengaruh minuman beralkohol pasti jujur dari hati nya kan,'' ucap Zen tapi Linda hanya diam.


'' Hati ku hari ini sangat terluka, dia wanita yang telah mengganggu hati dan pikiran ku dia juga yang melukai hati ku, sekarang dia sudah menjadi milik orang lain dan itu membuat ku hancur, kau tau itu?'' racau Zen dan Linda masih diam menyimak apa yang Zen ucapkan.


'' Devi ku sudah milik orang lain, kenapa takdir ku sangat buruk dari kedua orang tua ku yang meninggalkan ku bersama adik kecil ku dan tuhan juga mengambil adik ku beberapa tahun setelah mengambil orang tua ku dan saat ini aku mencintai wanita tapi wanita itu bukan untuk ku,'' racauan Zen membuat Linda berpikir keras.


'' Devi? Devita, Nona Devita. Kau menyukai Nona Devita Tuan?'' Linda langsung beranjak dari ranjang dan berdiri tepat di hadapan Zen.


'' Ya kau benar, Devita. Wanita yang sangat cantik yang sangat mampu menggetarkan semua hati pria dan saat ini membuat ku sangat terluka,'' jawabnya, Linda sangat terkejut mulutnya terbuka lebar begitu juga matanya.


'' Astaga aku tidak percaya ini,'' gumam Linda


Tbc..


.......

__ADS_1


HAY PARA READERS, MAAF AKU HANYA INGIN MENGATAKAN KALAU VISUAL DANIEL AKU GANTIIIIIIIIII!! πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…


kalau yang ingin tahu Visual Daniel lihat di bab ke dua di judul PERKENALAN TOKOH UTAMA, disana ada Visual Daniel dan Devita πŸ˜‰πŸ˜‰


__ADS_2