
Pria yang tidak lagi muda itu di seret dengan kasarnya menuju ruangan sang CEO dengan dua pria penjaga berbadan tegap.
Daniel yang di dalam ruangan sudah mendapatkan informasi kalau Zen membawa sang dalang dari kekacauan semuanya.
Pintu di buka Zen dengan di belakangnya terdapat dua pria yang menyeret seseorang.
''Maaf Tuan mengganggu, saya membawa pelaku dalang dari kekacauan di pertambangan,'' ucap Zen dengan sopan.
''Tinggalkan dia bersama ku,'' jawab Daniel dengan tubuh membelakangi Zen.
''Baik Tuan.'' Zen berlalu setelah memberi kode pada dua pria yang menyeret sang penghianat itu.
Tinggalah Daniel bersam pria yang tersungkur dengan beberapa lebam di wajahnya itu, Daniel belum berkutik Ia masih asik menatap hamparan gedung-gedung tinggi dari balik kaca yang langsung memperlihatkan gedung-gedung yang menjulang tinggi.
Ketakutan ya di rasa pria berdasi sang pembuat kekacauan itu, tubuh gemetar kringat bercucuran yang dipikirkan nya dia tidak akan melihat matahari esok, karena mereka yang tau Daniel akan berpikiran sama jika si Arogan itu tengah murka.
''Sejak kapan kau berbuat curang?'' ujar Daniel dengan nada biasa namun membuat bulu kuduk siapapun yang mendengar nya akan berdiri tegak.
''Maafkan saya Tuan,'' lirih pria itu masih berlutut dengan kepala menunduk.
Daniel berbalik dengan mata yang menyalang menatap pria itu.
'''BODOH!! Jawab pertanyaan ku, bukan meminta Maaf!!'' bentak Daniel, pria itu semakin bergetar karena bentakan Daniel.
''Se-Sejak kita bekerja sama dengan Coster Diamond, Tuan.'' Jawab pria itu dengan terbata-bata.
Daniel tertawa dengan kencang, tapi tertawanya Daniel semakin membuat pria itu ketakutan.
''Berarti sudah 3 tahun kau bermain curang, sudah terlampau kenyang kau rupanya.'' Daniel menyeringai.
''Maafkan saya Tuan,'' ucapnya sekali lagi dengan tangan yang di satukan layaknya memohon ampun.
__ADS_1
''Maaf? jika kesalahan bisa di selesaikan dengan hanya kata maaf banyak penghianat yang lahir di perusahaan ini kau tahu.'' Daniel berjalan menghampiri pria itu.
''Menurut mu, hukuman apa yang pantas kau dapatkan,''
'''Saya mohon jangan pecat saya Tuan,'' dengan tidak tahu malunya pria itu memohon.
''Di pecat? Hahaha.'' Tawa Daniel kembali menggelegar.
BUGGHH
Daniel menendang pria itu sampai tersungkur jauh dari tempat semula.
''Apa memecat mu itu hukuman yang stimpal, Bung.'' Daniel melepaskan jassnya dan membuangnya dengan sembarang, melinting lengan kemeja sampai sikunya.
''Bangun,'' perintah Daniel, pria itu bangun dengan perlahan karena tubuhnya yang sakit karena serangan tiba-tiba dari Daniel.
''Katakan siapa yang bersama mu selama ini?'' tanya Daniel dengan tegas.
''Tidak mau mengaku ya,'' Daniel kembali menyeringai, kakinya melangkah kembali ke arah meja kerjanya dan mengambil sesuatu di laci.
Mata pria itu melotot takut, dengan posisi duduk pria itu mundur secara teratur, namun Daniel semakin mendekat, Daniel menekan sebuah tombol di tembok nya yang ternyata untuk peredam suara ruangan.
''Akan ku hancurkan isi kepala mu tanpa sisah,'' ucap Daniel dengan tatapan mata yang tajam.
''Aku akan mengatakan nya, Tuan.'' Ucap pria itu dengan gemetar.
Daniel diam, memberikan ruang waktu untuk pria yang gemetar karena nya itu untuk berbicara.
''Di-dia ny...'' Ucapan pria itu terpotong karena suara ponsel Daniel yang berdering nyaring.
Daniel ingin memaki sang penelpon tapi Ia urungkan karena yang menelpon adalah nomor dari Mansion nya.
__ADS_1
Daniel menempelkan pinsrlnya di daun telinganya.
''Daniel, cepatlah kau susul kami ke rumah sakit, tiba-tiba Ayah tidak sadarkan diri dengan nadi yang melemah,'' ucap seseorang di sebrang sana yang ternyata adalah kakak nya sendiri, Dinar Carrollin.
''Ayah, baiklah.'' Dengan panik Daniel langsung mematikan sambungan telepon, dan menatap pria yang masih berlutut itu.
''Kali ini kau selamat, tapi tidak dengan esok.'' Daniel berlalu keluar dari ruangannya, baru saja membuka pintu, Zen sudah berada di depan pintu berbarengan ingin mengetuk pintu.
''Tuan, Tuan besar.'' ucapan Zen terpotong Daniel.
''Sudah tahu, kau urus dia jangan sampai dia kabur, aku yang akan memberi pelajaran.'' Ucap Daniel, setelahnya Ia pergi melewati tubuh tegap Zen.
Di kampus.
Kelas pertama telah usai, Devita dan Puspa sedang berada di kampus menunggu pesanan nya datang.
''Cepat katakan, apa maksud dari cincin di jari manis mu itu.'' Ucap Puspa dengan tidak sabarnya.
''Ini pemberian Daniel, dia mengajak ku menikah.'' Jawab Devita dengan wajah yang memerah.
''Haah, kau serius, lalu kau mau.'' Tanya Puspa dengan wajah yang serius, Devita mengagguk pelan dengan tingkah malu-malunya.
Seperti petir yang menyambar dengan panah yang menghujam dadanya, seorang pria tidak sengaja mendengar perbincangan Devita dan Puspa terkejut bukan main, dia adalah Jonathan.
Pria yang memang menyukai Devita, rasa suka itu berubah cinta seiring jalannya waktu namun harus terkubur dengan paksa dengan kehadiran Daniel di tengah-tengah mereka, tapi Devita yang hanya menganggap Jonathan sebagai seorang Sahabat bahkan tidak lebih.
'Berarti aku harus benar-benar mengubur rasa ku pada mu, Devi.' batin Jonathan.
''Haaahhh rupanya kau sudah mau melepaskan setatus lajang kau, Dev.'' Ucap Puspa dengan helaan nafasnya, bukan tidak senang Devita hidup bahagia bersama cintanya, namun dia hanya merasa sedih karena akan ada batas di antara persahabatannya.
''Kau tak perlu bersedih seperti itu, Pu. Aku ya aku, tetap aku yang dulu.'' Ujar Devita ikut murung.
__ADS_1
Jonathan yang berdiri tepat di belakang mereka sudah pergi entah kemana, kehadirannya pun tidak di ketahui dengan dua sahabat nya.