
Mahendra duduk dengan tidak tenang, rasa tidak sabarnya karena ingin bertemu putrinya yang sudah hampir sebulan itu tertidur bak seperti putri tidur di negri dongeng, rasa bahagia nya melebihi apapun itu saat mendengar sadarnya Devita.
Kabar dari Daniel yang mengatakan bahwa putrinya sudah sadar dari komanya membuat Mahendra segera pergi ke Rumah sakit dengan Reno yang menyetirinya tentunya.
''Tuan, tenanglah kita akan segera sampai,'' ucap Reno yang melihat Tuan besarnya duduk dengan tidak nyaman.
''Kenapa harus macet di keadaan seperti ini,'' gerutu Mahendra seperti anak kecil yang tidak sabar akan tiba di taman bermain.
Keadaan jalanan saat ini memang cukup ramai dan agak macet itulah yang membuat Mahendra menggerutu.
Saat mobil sudah sampai di pelataran Rumah Sakit, Mahendra segera turun meninggalkan Reno yang masih di dalam mobil.
''Kebahagian Anda membuat saya turut ikut di dalamnya, Tuan.'' Gumam Reno yang masih menatap punggung pria tua itu.
Mahendra membuka pintu ruangan anak gadisnya itu dengan kasar dan melangkahkan kakinya menuju ranjang anaknya yang sudah tersenyum ke arahnya.
''Nak, akhirnya kau bangun juga, apa mimpi mu terlalu indah,'' ucap Mahendra dengan nafas yang tersengal-sengal.
''Ayah, kau berlari?'' tanya Devita yang merasa khawatir dengan Ayahnya.
''Aku sangat tidak sabar melihat anak nakal ku ini.'' Ucap Mahendra dengan linangan air mata.
Kebahagiaan memenuhi ruangan bercat putih itu, Devita terus bercerita tentang mimpinya, saat bertemu dengan wanita Parubaya yang bternyata Ibu nya, semua dia ceritakan.
Mata bulat Devita menangkap expresi bahagia Daniel, sungguh ia sangat bersyukur di temukan dengan pria macam Daniel yang sangat tulus menyayanginya, karena dia Devita bisa keluar dari kesengsaraan, karena dia Devita bisa bertemu kembali Ayahnya.
__ADS_1
Devita bersyukur pada Tuhan dalam hati, karena mengizinkan nya kembali berkumpul dengan orang-orang terkasihnya.
''Kau tau Ayah, saat aku tertidur aku mendengar seseorang berjanji sesuatu padaku,'' ucap Devita pada Ayah nya.
''Apa itu Nak,'' jawab sang Ayah.
''Seseorang itu berjanji akan menikahi ku saat aku tersadar, tapi kenapa aku belum di nikahi juga sampai saat ini,'' Devita sengaja mengatakan itu karena ingin menggoda Daniel yang sudah salah tingkah mendengar ucapannya.
Mahendra melirik kebarah Daniel, dia sangat paham apa maksud dari ucapan putrinya itu, dan dia juga mengerti siapa yang di maksud Devita itu.
''Ayah akan mencarikan pria yang akan memenuhi janji orang itu nak, kau tenang saja,'' Mahendra ikut menggoda Daniel, tapi Daniel menaggapi ucapan Ayah dan anak itu dengan serius.
''Apa-apaan kau akan mencarinya, jelas-jelas aku ada di sini, aku orang yang berjanji itu, dan aku sendiri yang akan memenuhi janji ku itu.'' Ucap Daniel dengan rasa kesalnya pada Mahendra.
Semua tertawa melihat Daniel yang terpancing karena godaan Devita dan Mahendra.
''Kau mengatakan apa!!'' bentak Daniel yang mendengar gumaman Jonathan.
''Sudah-sudah, kalian ini,'' ucap Mahendra yang menengahi sebelum terjadi pertikaian yang berkelanjutan, karena Mahendra sudah cukup mengenal karakter Daniel.
''Daniel, kapan kau akan melaksanakan apa yang kau janjikan itu.'' Tegur Mahendra dengan tegas.
''Sekarang, ya sekarang.'' Jawab Daniel dengan yakin.
Devita tersenyum mendengar nya, ia tidak menyangka bahwa Daniel akan bersikap berlebihan seperti itu.
__ADS_1
Daniel mendekat ke arah ranjang dimana Devita berbaring itu, tangannya merogoh saku celananya yang terdapat benda yang sudah lama di simpanannya.
''Apa kau mau menikah dengan ku, Nona Devita Maharani Huang.'' Ucap Lantang seorang Daniel Carroll melamar seorang gadis dengan menyebutkan nama panjang nya di hadapan Ayah dari gadis itu.
Air mata kebahagiaan terlukis di mata indah seorang Devita, dia kira Daniel hanya bergurau mengucapkan 'iya. Tapi ternyata Daniel melakukan nya dengan lantang dan yakin.
Air mata haru pun keluar dari mata sayu dari seorang pria tua, akhirnya dia menyaksikan sendiri anaknya mendapatkan lamaran dari pria yang di cintainya.
''Tuan Mahendra Huang, di depan anda saya melamar anak gadis anda dengan rasa cinta saya, apa anda menerima saya sebagai calon suami anak anda.'' Tanpa di duga Daniel pun dengan lantang melamar Devita pada Ayah kandungnya langsung.
''Semua akan saya serahkan pada Devita, tapi kalau lamaran mu ditolak ku harap kau jangan sampai kehilangan akal,'' jawab Mahendra dengan gurauan.
Daniel menoleh ke arah Devita dengan harapan lamarannya di terima.
''Daniel,, Maaf.'' Ucap Devita yang tergantung.
''Maaf, maaf apa?'' Daniel sudah panik dengar kata maaf dari Devita yang menggantung itu.
''Maaf aku tidak bisa menolak mu,'' Ucapan Devita membuat raut panik Daniel hilang, tentu saja karena rasa bahagia nya lamarannya diterima sang pujaan hatinya.
Daniel memeluk tubuh Devita dengan hati-hati tanpa ingin menyakiti Devita.
''Daniel, akan ku tunggu niat baik mu itu untuk datang ke kediaman ku dan melamar anak ku dengan membawa anggota keluarga mu.'' ucap Mahendra, semua tertawa mendengar nya, kebahagiaan yang di rasakan Devita Daniel dan Mahendra tidak menular ke seorang Jonathan.
Jonathan menatapnya dengan sedih, gadis yang sangat di cintainya dilamar orang lain tepat di hadapannya, hati yang terluka membuat Jonathan meninggalkan ruangan itu tanpa pamit dan satu orang pun tidak ada yang menyadari kepergiannya.
__ADS_1
Tbc..