
Devita yang sudah tidak enak diam karena merasa tidak nyaman dengan ocehan yang lontarkan Dimas mengungkit terus masalalunya.
''Dim, aku rasa kita sudah cukup lama mengobrol, aku pergi dulu ya aku masig ada urusan,'' ucap Dimas dengan lembut.
''Tapi aku masih ingin mengobrol dengan mu, Dev.''
Devita menghela nafasnya perlahan, duduk dengan menyenderkan tubuhnya di sandaran kursi menandakan rasa kebosanan nya.
''Apa kah ti punya kerjaan, Dim?'' tanya Devi basa basi.
''Tiga jam lagi ada meeting di sini, kenapa? kau mau aku temani mengelilingi kota jakarta?'' ujar Dimas.
''Tidak, tidak. Aku masih banyak urusan,'' tolak Devita dengan halus.
''Hemm, padahal sayang sekali lho Dev, kamu kan jarang-jarang ke Indonesia,'' ucap Dimas menyayangkan penolakan Devita.
''Dimana kekasih mu? Leo bilang kau sudah punya kekasih disini?'' tanya Devita mengalihkan pembicaraan.
''Emm, dia saat ini masih jam kuliah,'' jawabnya dengan ragu.
Devita tidak memperdulikan expresi Dimas, dia hanya menganggukan kepala saja dan kembali mengotak-atikan ponselnya.
Di lift menuju kamar hotel Devita, Daniel dengan tidak sabarnya ingin cepat sampai untuk menghampiri Devita.
Tapi saat Dani sudah berada di depan kamar Devita, ia mengetuk tapi tidak ada jawaban.
''Kemana dia?'' gumamnya yang terus mengetuk, akhirnya ia pun membuka pintu itu namun tidak ada siapa pun du dalamnya.
Daniel semakin di buat bingung, Ia bahkan tidak mengecek ponselnya yang di mana, Devita telah mengirimkan sebuah pesan singkat untuk nya.
Daniel mengecek balkon dan kamar mandi, namun Devita tetap tidak ada, dia merogoh ponselnya dan melihat ada notifikasi di aplikasi chat berwarna hijau itu.
Daniel menghela nafas dengan lega setelah membaca pesan dari Devita, tapi kemana dia? pikir Daniel.
Tanpa menghubungi Devita terlebih dahulu, Daniel berlalu dari kamar Devita yang berniat untuk mencari Devita.
__ADS_1
Dari lorong demi lorong hotel, taman belakang, kolam berenang dan terakhir restoran yang belum di kunjunginya.
''Aku ke toilet dulu,'' ucap Devita pada Dimas.
''Oh iya, aku akan tunggu disini,'' jawabnya.
Berbarengan Puspa pergi ke toilet, Daniel masuk ke area restoran untuk mencari Devita, matanya terus menyisir setiap meja untuk menemukan Devita dan ada satu meja yang berhasil mencuri perhatiannya.
''Permisi,'' ucap Daniel pada seorang pria yang sedang sibuk bermain dengan ponselnya.
''Yaa. Mr Carroll?'' pria yang sedang duduk itu seperti terkejut melihat Daniel berada di negaranya.
Tidak ada respon dari expresi Daniel, ia hanya menatap nya dengan tatapan datar.
''Silahkan duduk, Mr Carroll,'' ucap pria itu mempersilahkan.
''Tidak, saya hanya ingin mengambil ini.'' Ucap Daniel dengan nada dingin dan tangannya langsung mengambil ponsel yang tergeletak di meja itu.
''Maaf Tuan Carroll, itu ponsel kekasih saya,'' cegahnya.
''Oh yaah,'' Daniel menyeringai.
Daniel hanya menganggukan kepalanya tanpa berniat ingin mengembalikan ponsel itu ke meja.
''Daniel,'' panggil seseorang.
Daniel dan pria itu menoleh ke asal suara, ya pria itu adalah Dimas.
Dimas merasa heran dari mana Devita mengenal pria yang di kenalnya sangat arogan dan tidak berprasaan.
''Ini ponsel mu?'' tanya Daniel mengacungkan ponsel yang tadi dia ambil.
''Iya itu ponsel ku,'' jawab Devita tanpa rasa gugup.
Daniel melirik ke arah Dimas dengan tatapan elangnya, bibir mya terangkat sebelah.
__ADS_1
''Apa kau kekasih pria itu?'' pertanyaan Daniel membuat Devita mengernyit kan alisnya, namun Dimas berbeda, ia seketika pucat pasih dan salah tingkah.
''Kekasih? maksud mu?'' respon Devita membuat Daniel tersenyum, dan membuat Dimas semakin salah tingkah.
''Kau dari mana saja, aku mencari ke kamar mu,'' ucap Daniel dengan lembut dan mengelus surai rambut Devita.
''Aku tadi bosan, dan berniat ingin berjalan-jalan, tanpa di sengaja aku malah ketemu dengan teman lama ku,'' jawab Devita dengan respon biasa saja.
'Devi dan Tuan Carroll, ada hubungan apa mereka?' batin Dimas.
''Ya sudah, kita kembali ke kamar, ok.'' Ajak Daniel, dan di angguki Devita dengan wajah yang menggemaskan.
''Tuan Dimas, saya pamit membawa kekasih mu dulu,'' sindir Daniel.
Dimas masih terkesip melihat Devita bisa mengenal Daniel, bahkan memanggilnya dengan panggilan nama bukan formal.
''Dimas, aku duluan.'' Pamit Devita.
Daniel menggandeng tangan Devita dan berlalu daru restoran untuk kembali ke kamarnya.
Ada yang berbeda dari Daniel, ya sedari mula meninggalkan restoran sampai depan kamar, dia masih bungkam namun pegangan tangannya tidak sama sekali terlepas.
Daniel melepaskan tangan Devita saat
sudah berada di dalam kamar Devita, dan Daniel berlalu menuju sofa.
Devita masih di buat heran dengan sikap Daniel yang tiba-tiba berubah seperti ini.
Dengan perlahan Devita menghampiri Daniel dan ikut duduk di sampingnya.
''Daniel kau kenapa?'' tanya Devita dengan lembut.
Daniel menoleh ke arah Devita dan tersenyum lembut mendengar ucapan Devita.
''Tidak, kau bersiaplah, aku ingin mengajkmu ke suatu tempat aku akan menunggunya di luar.'' Ucap Daniel dengan nada begitu lembut dan mengusap kepala Devita setelahnya berlalu keluar dari kamar.
__ADS_1
Devita masih diam di tempat melihat Daniel yang berlalu keluar.
'Ada apa dengan dia?' batinnya.