Cinta CEO Arrogant

Cinta CEO Arrogant
Perasaan dan Pikiran


__ADS_3

Apa seseorang harus merasakan kehilangan dulu baru bisa menyadari bahwa kehadiran nya sangatlah berarti, mungkin itu yang saat ini harus Zen resapi.


Di ruangan kerjanya Zen duduk dengan menghadap kaca yang dapat langsung melihat hamparan gedung-gedung pencakar langit, dengan tatapan kosong Zen menatap satu titik, ya itu matahari yang sebentar lagi akan kembali ke peraduannya.


Pikiran nya tertuju pada seseorang yang todak lagi ada di sisinya, Linda. Ya Linda lah yang saat ini mengganggu pikiran Zen.


Dengan pikiran bahwa dia belum sempat meminta maaf lah yang terus dia yakini tapi ketahuilah hati dan pikiran sangat lah berbeda jalan.


Suara pintubterbuka todak sama sekali mengidahkan nya dari sana.


'' Hei, sedang apa kau disana,'' ucap seseorang dengan suara menunggu.


Zen perlahan menoleh tapi dia kembali lagi menatapa matahari itu.


'' Tidak sopan,'' omel Daniel yang baru masuk itu.


'' Ada apa Tuan,'' tanya Zen yang sudah berdiri dan menghadap Daniel.


Daniel duduk di sofa dan menyuruh Zen juga duduk di sana.


'' Aku sudah membatalkan kerja sama dengan BR grup. Jadi aku harap kau harys lebih berhati-hati lagi mulai sekarang,'' ucap Daniel.


'' Hati-hati? kenapa?'' tanya Zen yang belum mengerti dengan maksud Daniel.


'' Aku mempunyai firasat, sepertinya mereka tidak terima dengan pembatalan ini, dan aku lihat kalau mereka ada niat jahat pada kita untuk membalas dendam kepada kita,'' ucapan Daniel membuat Zen mengerti dan manganggukan kepalanya.


'' Baik, kau tenang saja, aku akan mencari tahu apa yang akan mereka lakukan nantinya,'' sahut Zen.


Mereka terdiam lagi, Daniel melirik Zen yang lagi-lagi melamunkan sesuatu.


'' Kau kenapa? tadi kau kemana?'' tanya Daniel dengan nada suara biasa.


'' Hah? aku, aku tadi ada urusan mendadak,'' jawab Zen dengan gugup.


Daniel tersenyum miring, merogoh kantung dan mengambil ponselnya.


'' Terlambat ya,'' ujar Daniel tanpa menoleh ke arah Zen.

__ADS_1


'' Terlambat? apa?''


'' Ingat Zen, dia hanya pergi keluar negri bukan pergi ke luar angkasa, jadi kau masih bisa bertemu jika kau mau,'' ucap Daniel yang sudah berdiri dan berlalu tanpa permisi.


Zen termenung, dua merasa aneh dengan bos nya itu kenapa tidak bisa menyembunyikan apapun dari nya, setiap Zen berbohong pastinya Daniel langsung mengetahui nya. '' Apa dia benar-benar peramal?'' gumam Zen.


Hari sudah sore, sebagian karyawan kantor sudah pulang karena memang sudah jam pulang termaksud Daniel. dan sebagian lagi masih menetap di kantor karena pekerjaan yang belum mereka selesaikan tapi berbeda dengan Zen yang bahkan sudah tidak ada lagi pekerjaan namun masih betah di dalam ruangannya.


Sebuah pigura yang terlihat tidak lagi utuh itu sedang berada di gangannya, mata Zen terpokus ke pigura yang di pegangnya itu.


'' Kenapa semua meninggalkan aku,'' lirih Zen.


'' Pertama Orang tua ku, lalu adik ku dan Kamu,'' ucap Zen pada sebuah foto yang ada di dalam figura pecah itu.


'' Kamu meninggalkan aku di hari bahagia itu dan kau tahu, Beberapa bulan lalu aku juga telah menetapkan hati ku pada seseorang tapi orang itu sudah menjadi milik orang lain, lalu ada seseorang yang ternyata telah mengganggu pikiran ku tapi dia juga pergi meninggalkan aku,'' lanjutnya.


Rasa benci yang ada di hati Zen pada Linda seakan sirna tanpa sisah, ucapannya yang mengatakan kalau dia akan membenci Linda karena Linda yang sudah merusak figura seseorang yang sangat penting itu sanpai membuat nya rusak tidak beraturan tidak lagi ia permasalahkan.


Zen beranjak dari duduknya dan memungut Jasnya yang tercecer di lantai lalu melangkah pergi dari ruangan nya dengan langkah yang seakan tidak lagi bermakna.


Zen kembali ke apartemen nya, saat tangannya menggapai pintunya kepalanya menileh ke arah pintu kamar yang ada di belakang nya, teringat sosok Linda yang pernah masuk dan keluar dari dalam kamar apartemen itu.


Zen berbalik dan menuju unit apartemen tetangganya mengetuknya dengan pelan tapi tidak ada jawaban di sana.


Zen berbalik lagi karena memang unit itu sederhana tidak ada penghuni nya, dia masuk ke unit apartemen nya sendiri dengan lesu.


Menaruh kunci mobil dengan sembarangan, melepaskan jas dan melemparkan ke sofa, sepatu di lepas dan tidak du taruh di tempagnya, sungguh ini bukan Zen seperti biasanya.


Zen tipe pria yang sangat resik apapun harus di letakan di tempatnya tapi kali ini seakan dia melupakan prinsipnya hanya karena anggapannya bahwa dia belum meminta maaf pada Linda dan keburu Linda pergi.


Tapi apa itu perasaan yang sebenarnya, tentu saja hanya Zen lah yang tahu.


Di Sebuah Bandara negara lain, Linda baru saja tiba di sana, melambaikan tangan nya ke arah seorang pria yang tidak lagi muda agar tahu kalau dirinya telah sampai.


'' Paman Arnes apa kabar?'' tanya Linda yang sudah memeluk erat pria tuan yang bernama Arnes itu.


'' Baik nak, kau apa kabar?'' jawab Arnes.

__ADS_1


'' Baik paman, paman aku senang sekali dapat melihat paman lagi,''


'' Paman juga nak, paman sampai tidak mengenali mu, tidak paman sangka kalau anak paman sudah sebesar ini,'' ucap Arnes lagi.


'' Paman bisa saja,''


'' Sepertinya Frans merawat mu dengan baik,'' gurau Arnes dan Linda tertawa kecil karena nya.


Mereka pun melangkah bersama menuju mobil yang sudah menunggu nya sedari tadi.


'' Paman bagaimana keadaan prusahaan?'' tanya Linda.


'' Perusahaan berjalan dengan baik, nak. Paman terus menyuruh mu kesini untuk segera mengambil alih perusahaan karena paman sudah tidak lagi sanggup mengurusnga karena usia paman yang tidak lagi muda ini,'' ucap Arnes panjang lebar.


Mereka saat ini sudah berada di dalam mobil menuju rumah peninggalan orang tua Linda.


'' Paman tidak boleh pensiun, Paman harus selalu ada di samping ku nantinya di perusahaan,'' ucap Linda dengan manja.


'' Paman tidak berjanji, tapi paman yakin dengan kemampuan mu mengurus perusahaan peninggalan Ayah mu,'' sahut Arnes.


'' Selagi ada paman aku yakin aku akan bisa meningkatkan perusahaan agar lebih baik lagi,''


Jarak antar Bandara dengan kediaman Linda lumayam jauh, Linda menyenderkan kepalanya di kaca mobil, pikirannya tiba-tiba mengingat sebuah ucapan yang menyakitkan hatinya.


'' Hanya seorang pelayan,'' gumam Linda, ya ucapan itulah yang selalu ia ingat.


Linda menghela nafasnya dengan panjang dan membuat Arnes menoleh ke arahnya.


'' Kau pasti sangat lelah ya, nak?'' tanya Arnes dengan sangat perhatian.


'' Sedikit paman, aku tidak sabar merebahkan pinggang ku di kasur,'' jawab Linda.


'' Apa masih jauh, paman?'' tanya Linda.


'' Tidak nak, sebentar lagi akan sampai,'' sahut Arnes dengan lembut.


Tbc...

__ADS_1


__ADS_2