Cinta CEO Arrogant

Cinta CEO Arrogant
Masih Flashback


__ADS_3

''Mama,'' lirih Jonathan.


''Mama?'' gumam Puspa yang masih belum paham.


''Jo, kau dengan Puspa sudah saling kenal?'' tanya Jenny Mama Jonathan.


Puspa menatap wajah Jonathan dan Jenny bergantian, yang saat ini Ua rasakan benar-benar bingung.


''Pu, dia Mama ku,'' bisik Jonathan, sontak Puspa langsung melepaskan genggaman tangan Jonathan dengan cepat.


Ada senyum yang tersirat dari wajah dua wanita paruhbaya itu.


''Mamah, kenal sama Mamah nya Puspa?'' tanya Jonathan dengan kaki yang melangkah mendekat ke arah Mamahnya.


''Tentu saja, Bibi Pe ini kan sahabat Mamah,'' jawab Jenny dengan riang.


''Jadi kita tidak perlu repot-repot memperkenalkan kalian bukan,'' timpal Perly Mamahnya Puspa.


''Maksud Mamah?'' tanya Jonathan ingin memastikan.


''Iya, niat kami, kami akan menjodohkan kalian sejak lama memang, tapi baru kesampaian sekarang bertemunya,'' jawab Jenny.


Puspa menggeleng pelan, Ia benar-benar tidak menyangka kalau Jonathan lah yang selama ini di bahas Mamahnya.


''Jo, sepertinya kita harus bicara,'' ucap Puspa yang langsung menarik tangan Jonathan.


Jenny dan Perly saling menatap heran, namun sedetik kemudian mereka tertawa bersama, rasa bahagia di keduanya datang, keinginan besar mereka sejak dulu yang ingin menjodohkan anak-anaknya akan tercapai, pikir mereka.


Puspa menarik tangan Jonathan sampai di taman Rumah Sakit, Jonathan tidak heran dengan sikap Puspa, ia sangat tahu dengan perasaan sahabat nya ini.


''Pu, aku benar-benar tidak tahu menahu perihal ini, sungguh.'' Ucap Jonathan dengan yakin, Ia tak ingin ada kesalah pahaman antara Ia dan Puspa.


''Terus kita harus bagaimana, Jo,'' lirih Puspa.


''Jalan Satu-satunya ya kamu harus memperkenalkan Kemal dengan Mamah mu,'' usul Jonathan, Puspa menghela nafasnya dengan kasar.


Flashback off.

__ADS_1


Malam ini untuk memejamkan matanya saja Puspa tak mampu, Ia masih berpikir bagaimana caranya untuk memperkenalkan Kemal pada Mamahnya, sedangkan dia saja belum yakin dengan keseriusan Kemal padanya.


''Puspa, kamu tidak tidur nak?'' tanya sang Mama yang terbangun dari tidurnya.


''Mamah, kenapa bangun,''


''Mamah haus,''


Puspa langsung sigap mengambilkan air minum untuk sang Mamah, wajah murungnya tak luput dari pandangan sang Mamah.


''Kamu kenapa. Puspa?'' tanya sang Mamah setelah menyesap air minum yang di berikan Puspa.


''Mamah, aku ingin menayangkan sesuatu pada Mamah.'' Ujar Puspa dengan memberanikan diri.


''Apa sayang?'' jawab sang Mama dengan kelembutan.


''Apa Mamah benar-benar ingin menjodohkan aku dengan Jonathan?''


''Iya sayang, Mamah dan Bi Jenny sudah sepakat ingin menjodohkan kalian sedari dari dulu,'' jawaban sang Mamah membuat Puspa semakin murung.


''Tapi Mah, aku dengan Jonathan hanya bersahabat tidak lebih,''


''Mah, tapi aku sudah mempunyai kekasih.'' Akhirnya Puspa pun berani untuk mengucapkan perihal Ia yang sudah mempunyai pacar.


''Oh ya, siapa?''


''Nanti akan aku bawa dia ke sini, tapi Mamah harus janji pada ku, kalau aku kenalkan pacarku pada Mamah, niat kalian yang ingin menjodohkan aku dengan Jonathan harus di batalkan.'' Ucap Puspa dengan menggebu-gebu.


''Kita lihat saja nanti, sudah ah Mamah ngantuk,'' sang Mamah mengakhiri obrolan itu.


Puspa menghela nafasnya lagi dengan berat, dia bertekat untuk memperkenalkan Kemal pada sang Mamah agar perihal jodoh-menjodohkan akan di batalkan, tapi Ia juga bingung harus bicara apa dengan Kemal.


Puspa terus bergelut dengan pikirannya sampai rasa kantuk menyergap nya dan Puspa pun terbuai dalam tidur nya.


Matahari sudah menampakkan dirinya namun masih malu-malu karena memang cuaca sedang mendung menandakan akan turun hujan.


Devita merenggangkan otot-otot nya, tubuhnya sudah lebih segar dari semalam, saat tangannya tidak senagaja menyentuh sesuatu Ia berjingkat kaget karena Ia menyentuh langsung wajah seseorang.

__ADS_1


Dengan segera Devita menoleh ke samping dan ternyata wajah tampan nan rupawan pria yang saat ini menjadi kekasihnyalah yang berada di sana, Ia tatap dengan wajah tersenyum, Devita tidak pungkiri bahwa wajah Daniel sangat jauh lebih tampan dengan Daniel tertidur seperti ini.


Wajah teduh nan polos sangat menggemaskan bagi Devita, berbanding terbalik kalau sudah bangun, tatapan tajam wajah yang tegas bak Singa samgarnya tapi saat tertidur seperti kucing lucu binatang favorit nya.


Rasa ingin menyentuh wajah tampan Daniel Ia urungkan, karena Devita tidak ingin mengganggu tidur Daniel yang terlihat sangat lelap. Dia mengerti pasti setelah sampai Daniel ketiduran karena terlalu kelelahan, Devita juga tidak mempermasalahkan itu, toh pakainya juga masih utuh, tidak mungkin Daniel berbuat tak senonoh padanya.


Devita turun dari ranjang dengan perlahan agar tidak membuat goncangan dan membangunkan Daniel, tapi saat Devita sudah ingin memakai sendal kamarnya, tangannya dibtarik Daniel dan tubuh Devita langsung jatuh di dada bidang Daniel.


''Daniel.'' Ucap Devita dengan nada tinggi karena efek kagetnya.


''Suudah berani membentak ku rupanya,''bucao Daniel dengan suara serak khas bangun tidur, tangannya mendekap tubuh mungil Devita yang meronta-ronta minta dilepaskan.


''Jangan bergerak terus Vit, kalau tidak ada yang menuntut balas disana,'' ucap Daniel dengan jahilnya, Devita mengernyitkan alis tidak mengerti.


''Lepaskan aku Daniel, aku sudah tidak tahan ingin kekamar mandi,'' lirih Devita.


''Aku akan melepaskan mu, tapi dengan satu syarat,'' ucapnya dengan alis yang di mainkan naik turun.


''Apa, cepat katakan,'' jawab Devita dengan tidak sabar, karena keingin buang air kecil sudah sangat mendesak.


''Kiss dulu,'' ucap Daniel dengan menunjuk ke arah pipi kanannya.


Oipi Devita memerah, Ia sangat malu dengan permintaan Daniel.


''Cepat, kau ingin cepat-cepat aku lepaskan kan?'' ucap Daniel dan di angguki Devita dengan cepat.


''Ya sudah cepat mana kiss nya,'' Daniel memberikan pipi kanannya untuk Devita cium sesuai syaratnya.


Tidak ada pilihan lain dari pada Ia harus terkencing di atas tilam, pikirnya.


'Cup


Devita mencium pipi kanan Daniel, namun Daniel tidak langsung melepaskannya Ia meminta pipi kiri nya juga di cium Devita, tapi dengan rasa kesalnya Devita malah mengigit dada bidang Daniel yang masih terbungkus kemeja hitamnya itu dengan sangat keras sampai Daniel pun melepaskan kungkuhannya.


''Menyebalkan,'' teriak Devita dengan sambil berlari ke arah kamar mandi.


Daniel tertawa puas karena berhasil mengerjai gadisnya, dia membuka kancing kemejanya ingin melihat hasil gigitan Devita, sakit? tentu tidak, ia tidak merasakan sakit tapi Ia bahagia mendapatkan gigitan cantik dari Devita.

__ADS_1


''Kau menggemaskan, Vita.'' Gumam Daniel.


__ADS_2