Cinta CEO Arrogant

Cinta CEO Arrogant
Dada Yang Sesak


__ADS_3

Adegan saat Daniel memeluk Nadia selalu terbayang-bayang diingatan Devita, pikirannya memaklumi tapi hatinya tidak, tidurnya pun tidak lah nyenyak.


Saat ini Devita sedang berada di jalan menuju Mansion sang Ayah, Tuan Mahendra Huang. Devita menaiki Taxi sebagai alat transportasi nya.


Semenjak keluar dari Mansion Daniel, Devita terus berpikir entah memikirkan apa, hanya dirinya lah yang tahu.


Ponselnya bergetar, dengan malas Devita merogoh tas jinjing nya, ada nomor telpon asing yang mengirimkan pesan singkat ke nomornya.


'Bisa kita bertemu, ada sesuatu yang ingin ku bicarakan, temui aku di cafe Rose setengah jam lagi, Nadia.' itulah isi pesan singkat itu dengan pengirimannya Nadia.


Alis Devita menyatu merasa heran. Buat apa Nadia ingin bertemu dengan ku? pikir Devita.


''Pak, ke Cafe Rose ya,'' ucap Devita merubah tujuannya pada supir Taxi itu.


Lima belas menit perjalanan, akhirnya Devita telah sampai di Cafe sesuai yang di katakan Nadia, Devita memilih duduk di dekat jendela dan memesan coffee late favorite nya.


Pesanan sudah sampai tapi Nadia tak kunjung datang, dengan rasa bosan Devita memainkan ponselnya, pesan singkat dari Puspa ia terima.


'Kau dimana?' isi pesan dari Puspa.


Devita membalas sesuai posisinya Ia berada saat ini.


Seorang wanita telah duduk di depan Devita dengan senyumnya,


''Dev,'' panggilannya, Devita mengangkat kepalanya dan membalas senyum wanita itu yang tak lain adalah Nadia.


''Lama ya,'' ucap Nadia.


''Tidak, kau ingin pesan apa?'' tanya Devita dengan ramah.


''Tidak, aku tidak ingin makan ataupun minum, aku ingin bicara pada mu,'' ujar Nadia, Devita mengangguk mengerti dan menegakan tubuhnya untuk mendengarkan apa yang akan Nadia sampaikan.


''Bicaralah,'' ucap Devita.


''Kau tau aku anak yatim piatu, Ibu Ayahku telah berpulang semenjak aku kecil, dan keluarga Carroll lah yang mengurus ku, kau tau itu semua kan?'' ujar Nadia, Devita pun mengangguk.

__ADS_1


'Apa maksud arah dari ucapan Nadia?' pikir Devita.


''Dan kau juga harus tau kalau aku sudah benar-benar nyaman berada di tengah-tengah mereka,'' lanjut nya.


''Kau Too the point saja, apa maksud dari ucapan mu,'' ucap Devita yang masih berusaha tersenyum ramah.


''Baiklah, kalau kau tidak suka dengan basa-basi, aku langsung pada intinya saja, ok''


''Itu lebih baik,'' timpal Devita, ada rasa tidak enak dengan tujuan ucapan Nadia, tapi Devita masih berusaha untuk tenang.


''Kau bisa menyerahkan Daniel untuk ku,'' Degh' dada Devita seakan sesak karena mendengar ucapan Nadia.


''Aku tidak mempunyai siapa-siapa, dan kau masih mempunyai seorang Ayah dengan kasih sayang yang berlimpah bukan, aku hanya ingin satu yaitu, Daniel.'' Lanjut nya, Devita masih diam untuk mencerna apa yang di dengar nya.


''Tapi Daniel bukanlah sebuah barang, yang bisa kau pinta sesuka hati mu,'' ucap Devita dengan rasa sesaknya.


''Aku tahu itu, tapi aku hanya meminta kamu mengerti dengan keadaan ku, Maafkan aku jika aku egois, tapi tidak ada lagi yang bisa aku lakukan untuk memiliki Daniel selain meminta pengertian mu,'' ucapnya dengan wajah yang sendu.


Devita bungkam, satu sisi Ia sangat iba dengan nasib Nadia, tapi di sisi lain Ia juga tidak rela menjauh dari Daniel.


''Aku pamit ya, jaga kesehatan, bye.'' Nadia pun berlalu pergi dari Cafe meninggalkan Devita yang tengah terpaku.


Rasa sesak di dadanya yang kini Ia rasakan, air mata luruh tanpa seizin nya, sampai ada seseorang yang duduk di depannya dan membuat Devita dengan cepat menghapus air matanya.


''Dev, kau sedang apa disini?'' tanya Puspa yang baru saja datang.


''Aah, aku sedang bersantai saja, kau ada apa kesini?'' ucap Devita dengan gugup.


''Aku ingin ikut dengan mu ke Mansion Ayah mu, hari ini tidak ada kelas,'' jawabnya, Puspa melihat mata Devita yang terlihat basah.


''Ada apa?'' tanya Puspa dengan serius.


''Ada apa, apanya?''


''Kau tidak pandai berbohong Dev, kau menangis?'' ujar Puspa dengan menyelidik.

__ADS_1


Devita diam dengan menundukkan kepalanya dalam-dalam.


Tubuhnya gemetar dan sudah di pastikan Devita tengah menangis.


Puspa yang sigap langsung menggeser kursi agar lebih dekat dengan posisi Devita.


''Ada apa?'' tanya Puspa dengan lembut dan mengusap lengan Devita.


Devita pun menceritakan semuanya, Ia memang sangat tidak bisa merahasiakan apapun dari Puspa, Puspa yang mendengar nya merasa geram dengan keegoisan Nadia.


''Aku sudah mengira sedari awal pertemuan kita dahulu, ada yang aneh dari Nadia, tapi kau tidak percaya padaku,'' ucap Puspa.


''Jadi keputusan mu apa? aku harap kau mengabaikan permintaan wanita itu,'' lanjut nya, Devita menggeleng Puspa menghela nafasnya dengan kasar.


''Dev kau jangan terlalu baik, kau punya hak untuk tetap bersama Daniel,''


.


.


.


Di CR Corp.


Daniel sedang di sibukan dengan beberapa berkas kontrak kerja sama dengan Coster Diamond yang akan diperpanjang, dan juga perusahaan yang di berikan Toni pada sang Ayah yang sedang Ia ambil alih kembali untuk di kelolanya.


''Jadi si brengsek itu yang bermain dengan ku,'' gumamnya.


''Matinya kau membuat ku sedikit tenang,'' lanjut nya, ya yang telah bermain dengan dana perusahaan tak lain adalah Toni juga, entah motifnya apa, namun Daniel sangat yakin motif dari Toni hanya harta.


Tapi pikiran nya terganggu dengan ucapan Toni yang mengatakan Ia bersama seseorang yang juga sangat di kenalnya, untuk bekerja sama mengambil semua harta keluarga.


''Siapa dia?'' gumamnya lagi.


Sebuah ketukan pintu terdengar yang membuat lamunan Daniel buyar, Daniel pun mempersilahkan masuk.

__ADS_1


Seorang wanita masuk dengan senyum di bibirnya, Daniel pun ikut tersenyum untuk membalasnya.


__ADS_2