Cinta CEO Arrogant

Cinta CEO Arrogant
Malam yang Sendu


__ADS_3

Sikap lembut Daniel membuat Mahendra luluh dalam waktu sekejap, entah kenapa rasa yakin pada sang Pemuda yang terang-terangan sangat mencintai anaknya membuat Ia memantapkan hatinya untuk merestui Daniel dengan Devita.


Malam semakin larut, Daniel yang masih menatap wajah sendu Devita akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.


Ya sedari tadi Ia hanya memperhatikan tanpa mau bertanya.


''Vita, ada apa dengan wajah mu?'' tanya Daniel.


Devita menatap heran. apa maksudnya? pikir Devita.


''Kenapa malam ini kau terlihat sangat sedih, apa yang kau pikirkan?'' tanya Daniel, Devita baru paham apa yang di maksud Daniel.


''Aku tidak apa-apa,'' jawabnya lembut.


Daniel tersenyum lembut menerima jawaban bohong Devita, ya Devita melupakan bahwa Daniel bisa membaca mimik wajah walau orang itu sangat jago berakting.


''Berbohonglah selagi kau merasa nyaman,'' ucap Daniel dengan tatapan ke atas langit.


Devita menoleh ke arahnya, sedari dulu Ia tak pernah jujur dengan rasa rindu nya yang sering sekali hinggap pada siapapun itu.


Dengan menghela nafasnya perlahan, Devita perlahan melangkahkan kakinya mengampiri Daniel yang sedang berdiri menatap langit.


Daniel tidak menyadari Devita yang sudah berdiri di dekatnya, yang dia tau Devita duduk di sudut balkon.


Pergerakan lembut Devita memeluk Daniel secara tiba-tiba, membuat Daniel melebarkan matanya.


Suara isakan terdengar dan Ia juga merasakan baju kemejanya basah karena air mata seorang Devita, cukup lama Daniel diam membiarkan pujaan hatinya memeluk mencari ketenangan.


Daniel yang memang langsung membalas pelukan Devita, mengeratkan lagi pelukan itu dan membuat Devita merasa lebih nyaman karenanya.


Beberapa kali Daniel mencium puncak kepala Devita untuk memberi tahu bahwa ada dia yang selalu ada untuk nya.


''Ceritakan apa yang kau rasakan pada orang yang kau percaya, tapi jika kau tidak mempercayai orang itu maka cukup diam, oke.'' Ucap Daniel dengan lembut.


Devita bungkam, ya dia bungkam karena masih mencerna kata demi kata yang di lontarkan Daniel.


''Aku merindukan Mama,'' lirih Devita masih dengan wajah yang membenamkan nya di dada bidang Daniel.


Daniel tersenyum di balik pelukan nya. Rasa senang hadir, berarti Daniel lah orang yang dipercaya Devita.


''Mama mu juga pasti merindukan anak gadisnya. Luapkan lah rasa rindu itu di dalam do'a mu, Vita.'' Ujar Daniel dengan bijak.


''Katakan bahwa kau sangat merindukan nya, katakan kau sekarang sudah bahagia dengan Orang-orang yang kau percaya, katakan kau sudah lebih baik dari sebelumnya,'' lanjutnya.


''Besok kau bersiap-siaplah, aku akan mengajakmu kesuatu tempat yang membuat Vita ku bisa meluapkan rasa rindu itu.'' Ucap Daniel lagi.

__ADS_1


''Kemana?'' tanya Devita yang sudah melepaskan pelukannya.


Airmata yang masih menghiasi wajah cantik Devita, tak luput dari pandangan Daniel, dengan lembut Ia menghapus nya, janjinya dulu untuk Devita selalu Ia ingat.


Janji yang mengatakan. Ia tidak akan membiarkan Devita menangis sendirian tanpa Ia, janji yang akan merubah tangis Devita menjadi tangis kebahagiaan, janji untuk selalu memberikan rasa bahagia setelah tangis itu tiba-tiba datang menyergap nya.


''Nanti juga kau tau, ya sudah berhenti lah menangis, aku tidak suka air mata di wajah sendu mu, dan berjanjilah keluarkan air mata jika kau bahagia.'' Ucap Daniel masih dengan tangan yang terus menyeka air mata Devita.


Devita mengangguk dan tersenyum.


''Malam sudah semakin larut, aku pergi ya, tidur lah yang nyenyak dan aku berharap kau memimipikan diriku.'' Ucap Daniel dengan menoel hidung mancung Devita.


''Kau hati-hati ya.'' Jawab Devita, sesungguhnya Ia sebenarnya tak rela berpisah dengan Daniel malam ini, tapi Ia harus tau batasannya.


Setelah mengecup singkat puncak kepala Devita, Daniel berlalu pergi walau hati tak sejalan dengan langkah kakinya.


''Selamat malam,'' ucapnya sebelum menutup pintu kamar Devita.


Devita menghela nafasnya untuk menetralkan rasa sedih dan senangnya, Ia melangkah menuju ranjangnya dan merebahkan diri berdo'a dalam hati dan tidak lama Devita sudah masuk ke alam mimpinya.


.


Daniel tak dapat memejamkan matanya, wajah sendu Devita selalu dia ingat.


Rindu, bahkan Daniel tidak pernah merasakan rindu selain pada Devita.


Ya Daniel sangat membenci nama itu, tapi dengan mendengar Devita mengatakan 'Aku merindukan Mama, membuat Daniel melupakan rasa benci itu.


Ibu kebanyakan yang selalu membuat anaknya nyaman untuk selalu di dekatnya, dan rindu saat Ibu jauh dari dirinya, tapi tidak dengan Daniel.


Wanita yang semestinya di panggil Ibu dengan nya, menghancurkan keyakinan Daniel padanya.


Wanita yang semestinya Ia bangga-banggakan pada siapapun itu, tapi bahkan menyebutnya dengan sebutan Ibu saja dia tak sanggup.


Begitu terlukanya dia kala itu.


.


.


.


Di tempat lain seorang gadis masih berdiri di balkon kamarnya.


Ya dia adalah Puspa, gadis manis yang sedang memikirkan jawaban yang di tunggu seorang pria yang tadi menagihnya.

__ADS_1


''Jawaban apa yang harus ku berikan,'' gumam Puspa.


Puspa terus bergumam mencari jawaban tapi jawaban yang semestinya tidak Ia rencanakan dan terjawab spontan tentu membuatnya sulit untuk menemukan nya.


Dia menyadari satu hal, bahwa dirinya memang sudah nyaman dan terbiasa di ganggu Kemal, dia sudah menaruh hatinya pada Kemal sejak awal pertemuan di Rumah Sakit itu.


Tapi, dengan Ia tau dulu kalau Kemal menyukai sahabat nya, rasa untuk yakin dengan pengakuan Kemal sedikit ragu.


''Apa Kemal bisa di pegang ucapannya,'' lanjutnya.


Suara deringan di ponselnya mengalihkan perhatian nya.


Nama kontak yang di buatnya khusus untuk orang itu membuat Ia tersenyum, Tuan koffie call


Ia tempelkan benda pipih itu di daun telinga nya tanpa membuka mulutnya.


''Turun dan keluarlah, aku sedang berada di taman depan istana mu,''


Ucap seseorang di sebrang telepon sana, dan memutuskan sambungannya dengan seenaknya.


''Istana?'' gumam Puspa heran.


Sedetik kemudian Punya melebarkan matanya. ''Kemal berada di depan, sedang apa?'' ucap Puspa yang langsung berlari keluar kamarnya dan menuruni anak tangga dengan cepat melewati ruangan demi ruangan untuk menuju pintu utama.


Setelah keluar, matanya terus mencari sosok Kemal.


Ya benar saja, Kemal sedang duduk di kursi panjang yang menghadap air mancur di taman itu.


''Sedang apa kau disini?'' tanya Puspa, Kemal menoleh dan tersenyum ke arahnya.


''Kemarilah,'' ucapnya dengan nada lembut yang membuat Puspa melayang karena nya.


Puspa melangkah dan duduk di samping Kemal.


''Aku tidak sabar menunggu jawaban mu, aku takut jika aku tidur aku tidak akan bisa bangun lagi untuk mendengar jawaban dari dirimu.'' Ucapan Kemal membuat Puspa meradang.


''Bicara apa kau ini, tidak bangun lagi. Kau Ingin pergi dariku, begitu.'' Ucap Puspa dengan meledak-ledak.


''Aku bahkan tidak sanggup untuk pergi dari mu, Nona koffie.''


Puspa memutar matanya malas.


''Jadi jawaban nya apa? jangan menggantungnya aku tidak mampu, Puspa.'' Ucap Kemal yang lagi-lagi menagih jawaban dari Puspa.


''Pulanglah, nanti akan ku jawab setelah kau sampai rumah mu.'' Ucap Puspa.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2