
Di mobil berwarna hitam, Zen tengah duduk santai dengan terus memperhatikan sebuah rumah besar di sebrang jalan tempat iya memarkirkan mobilnya.
Keraguan ingin masuk hinggap di dirinya, entah dari mana dia tahu tempat itu yang pasti dia sangat ingin bertemu dengan pemilik rumah mewah itu.
Ya dia adalah Zen yang sangat ingin masuk ke pelataran rumah mewah itu namun dia merasa sangat ragu, hati kecilnya menuntunnya agar cepat menemui sang pemilik rumah, namun langkahnya seakan berat.
Zen mengacak rambutnya kesal.
'' Pengecut!!'' maki Zen pada dirinya sendiri.
Zen pun bertekat memutar kemudinya dan masuk ke pelataran rumah mewah bergaya eropa itu.
Di hadang seorang penjaga gerbang membuat Zen bingung mencari alasan tapi dengan wajah meyakinkan serta penampilan Zen yang mendukung membuat penjaga itu mengizinkan Zen masuk.
Dengan ragu Zen menekan tombol bel di samping pintu besar yang ada di hadapannya. Pintu terbuka dan menampilkan seorang wanita paruh baya yang sepertinya dia adalah pekerja di sana.
'' Maaf mencari siapa, Tuan?'' tanya wanita itu.
'' Apa Linda ada?'' tanya Zen dengan gugup.
'' Nona muda sedang berolahraga di halaman belakang tuan, masuklah saya panggilkan,'' ucapannya yang berlalu setelah mempersilahkan Zen masuk dan duduk di ruang tamu.
'' Nona muda?'' lirih Zen, ya Zen belum mengetahui siapa Linda sebenarnya.
Dia hanya mengira kalau Linda berada di sana hanya tinggal atau bekerja, tapi ucapan wanita paruh baya tadi membuat Zen kebingungan.
Langkah kaki terdengar jelas berjalan menghampiri Zen yang duduk membelakangi.
'' Maaf, anda mencari saya?'' tanya Linda yang tidak mengetahui siapa yang tengah duduk membelakanginya.
Zen berdiri dan berbalik menatap langsung Linda yang tengah memakai baju santainya.
Mata mereka cukup lama saling bertemu, tapi Zen lah yang mengakhiri nya karena penampilan Linda yang saat ini sangatlah berbeda dari biasanya yang dia tahu.
Dada berdebar begitu cepat saat matanya melihat Linda yang tengah melihat nya juga.
__ADS_1
'' Tuan Zen ada apa'' tanya Linda yang segera duduk di sebrang meja tempat Zen duduk.
Zen tidak mengucapkan apapun dia hanya terdiam dengan tatapan yang seakan terkunci di wajah Linda yang berkeringat.
'' Tuan Zen?'' panggil Linda lagi karena Zen yang tidak merespon pertanyaan nya tadi.
'' Hah? iya maaf, apa saya mengganggu waktu weekend mu,'' ucap Zen dengan nada datarnya.
'' Emmm, tidak. Memangnya ada apa?'' tanya Linda.
'' Aku, aku hanya ingin bicara padamu,'' jawabnya dengan gugup.
'' Apa ada masalah di perjanjian surat kerja sama kita?''
'' Tidak, bukan itu. Aku ingin bicara padamu tapi bukan masalah pekerjaan,'' ucap Zen dengan serius namun tanggapan Linda membuat Zen kesal.
'' Maaf tuan Zen, saya sibuk, silahkan anda pergi,'' ucap Linda dengan ketus dan segera beranjak dari duduk nya namun langkahnya terhenti karena Zen menyekal tangannya.
Linda menolehkan kepalanya melihat tangannya yang di pegang Zen, perlahan ia mengangkat wajahnya sampai menatap langsung wajah Zen dengan tatapan tajamnya.
'' Saya hanya ingin meminta maaf padamu,'' ucap Zen yang lagi-lagi menghentikan langksh Linda.
'' Minta maaf? untuk apa?'' tanya Linda tanpa berbalik lagi, Zen melangkah maju dan berdiri tepat di hadapan Linda.
'' Maaf karena pernah menyakiti perasaan mu,''
'' Hemmm, baiklah aku maafkan, silahkan anda pergi,'' ucap Linda.
Zen yang sudah sangat mengontrol emosinya seakan-akan terkuras abis karena sikap dingin Linda yang tidak dapat ia terima.
Linda sudah berjalan melewati tubuh Zen tapi lagi-lagi Zen menarik tangan Linda tapi bukan hanya menarik tangan Linda saja tapi Zen juga tiba-tiba memeluk tubuh Linda yang menegang karena terkejut dengan tindakan Zen.
'' Kenapa kau bersikap begini pada ku, dan kenapa kau selalu mengganggu fikiran ku, kenapa Linda,'' ucap Zen yang masih memeluk Linda dengan erat.
'' Tuan Zen, lepas!!'' Linda terus memberontak meminta di lepaskan namun pelukan itu seakan ada lem yang merekatkan tubuh mereka.
__ADS_1
'' Jawab pertanyaan ku, kenapa kau selalu saja mengganggu pikiran ku, aku selalu berusaha untuk tidak menghiraukan nya tapi itu hanya sia-sia karena memang kau selalu ada di kepala ku.'' Ucap Zen lagi dengan nada yang meninggi.
'' Lepas!!'' Linda terlepas dari kungkuhan tubuh kekar Zen.
'' Kau sangat ingin tahu jawaban itu kan?'' ucap Linda dengan nafas yang memburu karena emosinya yang sudah tidak terkendali.
Zen hanya menatap wajah Linda tanpa menjawab ucapan Linda.
'' Karena kau pria yang sangat egois, kau selalu melampiaskan amarah mu pada seseorang yang bahkan hanya berniat baik padamu!'' ucap Linda masih dengan emosinya.
'' Ya aku pria yang egois, tapi kenapa kau tidak membenahi ku, kau malah pergi jauh seperti ini.'' Mereka berbicara dengan nada yang meledak-ledak, meluapkan apa yang selama ini mereka pendam.
'' Aku mohon kau pergilah, aku ingin sendiri,'' ucap Linda yang mengatupkan tangannya dengan wajah yang sendu.
'' Tidak Linda, aku mohon dengarkan aku, kau tahu aku sangat merindukan perdebatan kita yang selama ini kita lakukan, tapi saat aku tahu kau pergi aku sangat membenci mu karena tidak ada kata perpisahan dari mulut mu, Linda!!'' Zen berbicara dengan nada yang masih meninggi.
Linda berdiri dengan alis yang menyatu, dia benar-benar terkejut mendengar ucapan Zen yang tidak secara langsung menyatakan isi hati nya sendiri padanya.
'' Pergilah Tuan, pulang ke hotel mu, sepertinya kau sedang tidak sehat hari ini,'' ucap Linda lagi dengan sangat lembut.
'' Tidak sehat? aku sangat sehat Linda!! apa kau perlu bukti kalau aku benar-benar sehat,'' ucap Zen, Linda berbalik membelakangi Zen karena tidak ingin lagi berdebat dengan nya.
Tapi tiba-tiba tubuhnya terhuyung karena Zen yang menarik lengan Linda dan apa yang Zen lakukan padanya membuat Linda benar-benar terkejut.
Ya Zen yang tiba-tiba mencium bibir Linda tanpa permisi dan membuat Linda mematung karena rasa terkejut nya.
Semula Zen hanya menciumnya tapi karena merasa tidak ada perlawanan dari Linda, Zen semakin memperdalam ciumannya.
Keduanya hanyut dalam dunia mereka sendiri, terbukti dari mata mereka yang terpejam tapi saat Zen membuka matanya ia melihat Linda yang meneteskan air matanya dan Zen pun melepaskan ciuman itu.
'' Maaf, maaf, aku benar-benar tidak bermaksud, '' ucap Zen dengan panik dan memundurkan langkahnya.
Linda tetap diam, bahkan ia tidak bereaksi apa-apa dan membuat Zen semakin merasa bersalah karena sikapnya. ''Linda?'' panggil Zen yang ingin melangkah mendekati Linda namun tiba-tiba Linda memundurkan langkahnya dan memberi tanda berhenti dengan tangannya.
'' Apa kau sudah puas dengan apa yang kau perbuat pada ku Tuan?'' ucap Linda dengan nada yang pelan.
__ADS_1
'' Linda, aku benar-benar tidak bermaksud,'' ucap Zen lagi namun Linda berlalu pergi dengan berlari menaiki anak tangga meninggalkan Zen yang merasa bersalah.