
Sudah satu bulan berlalu, keadaan Kemal tetaplah sama, tidak ada perubahan melainkan sering sekali mengalami masa kritis, Dokter yang menangani Kemal pun sering sekali menyampaikan kalau Kemal sudah tidak ada harapan.
Jantung Kemal masih berdetak sampai sekarang itu juga atas bantuan alat yang masih terpasang di tubuhnya, namun juka alat yang di pasangkan di tubuhnya otomatis Kemal akan pergi untuk selamanya.
'' Tuan, kami selaku Dokter juga menginginkan yang terbaik untuk para pasien kita tapi dengan cara seperti ini kita juga sama saja menyiksanya.'' Ucap Dokter itu memberikan pengertian pada Daniel yang tetap keukeuh ingin mempertahankan Kemal.
'' Baiklah kita tunggu sebentar lagi, kalau memang adik saya belum juga ada perubahan, saya akan serahkan semua keputusan pada kalian selaku para Dokter yang menanganinya.'' Pastah Daniel setelah beberapa saat berpikir.
'' Baik Tuan,''
'' Saya permisi,'' ucap Daniel yang sudah beranjak dan berlalu keluar dari ruangan Dokter itu.
Daniel terdiam di depan ruangan dokter, entah kenapa perasaan nya tidak bisa di gambarkan apapun, karena yang dia rasakan saat ini sangatlah hancur saat Dokter mengatakan kalau Kemal memang tidak ada harapan untuk hidup.
Daniel melangkah dengan berat menuju kamat di mana Kemal terbaring lemah dengan beberapa selang yang menancap di beberapa bagian tubuh nya.
'' Kem, kamu benar-benar ingin pergi?'' tanya Daniel yang sudah berdiri di samping brangkar Kemal.
'' Tapi apa kamu tidak ingin berpamitan langsung pada ku, kakak mu ini,'' ucap Daniel yang suaranya sudah berubah menjadi sumbang.
Diruangan itu hanyalah ada Daniel dengan Kemal yang terbaring lemah di sana, Daniel menatap sendu wajah tirus Kemal yang terlampau pucat itu.
'' Kem, bangunlah. Apa yang kamu inginkan? pengakuan kan, kakak akan melakukan nya tapi kamu harus bangun, kasihan Puspa dia sangat sedih melihat kamu yang seperti ini.'' Daniel terus berucap berharap ada respon dari Kemal tapi harapannya sia-sia, Kemal tetaplah setia dengan tidurnya.
Tubuh Daniel bergetar, ia tidak pernah manangis di hadapan siapapun, karena tidak ingin terlihat lemah tapi saat ini ia benar-benar hancur melihat adik lelakinya terbaring tidak berdaya seperti itu.
Barta dan Bobi sudah menerima akibatnya, Zen yang selama ini mengurus mereka, karena Daniel yang menyerahkan nya pada Zen, bukan di penjara di kantor polisi tapi melainkan mereka berdua di penjara di gedung tua milik Daniel atas perintah Daniel sendiri.
'' Maafkan kakak, Kem,'' ucapnya yang sudah tidak bisa lagi menahan tangis, karena Daniel menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang meninpa Kemal saat ini.
Pintu terbuka di sana Dinar yang baru saja tiba melihat Daniel yang sedang menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya dan Dinar sangat yakin kalau adiknya itu sedang menyembunyikan wajah sembabnya.
__ADS_1
'' Daniel,'' panggil Dinar dengan tangan yang menyentuh pundak Daniel.
'' Kakak sedang apa disini,'' tanya Daniel tanpa menoleh ke arah samping.
'' Ponsel kakak tertinggal di sini,'' jawab Dinar yang mengambil ponsel nya di atas nakas samping brangkar Kemal.
'' Niel, apa yang di katakan Dokter tentang kondisi Kemal?'' tanya Dinar lagi, Daniel terdiam sejenak dan menceritakan semua apa yang di katakan Dokter padanya.
'' Astaga. Niel, Apa kita harus mengikhlaskan nya saja, benar kata Dokter, kasihan Kemal,'' ucap Dinar yang menyetujui ucapan Dokter.
'' Iya ka, tapi saya ingin menunggu beberapa waktu lagi, tapi jika memang tidak ada perubahan, saya terpaksa menyerahkan semuanya pada Dokter untuk tindakan selanjutnya.'' Jawab Daniel yang ternyata bdi dengan Puspa dan Devita yang sudah berdiri di ambang pintu.
'' Kak Daniel, aku mohon jangan menyerah,'' ucap Puspa yang sudah menangis dengan pilu.
'' Puspa,'' lirih Dinar, ia sangat paham apa tang saat ini Puspa rasakan, tapi mereka tidak bisa lagi berbuat apa-apa.
Devita menuntun Puspa berjalan mendekat ke berangkar Kemal. '' Daniel, apa tidak ada lagi usaha yang harus di lakukan untuk kondisi Kemal?'' tanya Devita.
'' Tidak Honey, Dokter sudah menyerah, dan kasihan Kemal yang tersiksa seperti ini, dia ingin pergi tapi tertahan dengan alat yang memaksanya untuk bertahan dan juga kita yang belum ikhlas atas kepergiannya.'' Jawab Daniel.
'' Puspa, kita tunggu beberapa waktu lagi ya, jika memang Kemal tidak ingin bangun lagi, kita harus mengikhlaskan kepergian Kemal agar tenang untuk pergi ke syurga.'' Ucap Dinar dengan lembut.
'' Iya ka, Puspa akan berusaha ikhlas,'' lirih Puspa dengan deraian air mata.
Di gedung tua tempat di kurungnya Barta dan juga Bobi, di sana Zen sedang menatap kedua orang itu dengan tajam.
'' Apa kalian tahu, kalau kalian belum cukup tersiksa sebagai balasan perbuatan kalian, saya juga belum puas menyiksa kalian,'' ucap Zen dengan tatapan tajamnya.
Barta dan Bobi sudah tidak lagi mampu membela dirinya sendiri ataupun untuk melawan Zen, kondisi keduanya sudah tidak lagi gagah seperti dahulu, tangan yang patah juga luka sayatan di beberapa bagian tubuhnya menandakan kalau Zen telah menyiksa keduanya dengan keji.
'' Karena ulah kalian, orang yang tidak mengetahui apa-apa dan tidak ada sangkutannya dengan masalah kalian harus terbaring lemah di rumah sakit.'' Ucapnya lagi.
__ADS_1
'' Tuan Zen, kami hanya berniatan meneror bukan mencelaki,'' ucapan Bobi membuat Zen terbahak-bahak.
'' Sialan!! diam kalian,'' bentak Zen yang sudah kembali mengacungkan senjata tajam di depan wajah Bobi.
Zen kembali menyiksa Kedua tersangka pelaku percobaan pembunuhan Kemal itu dengan sangat keji.
Dari mulai memotong jari mereka secara bergantian dan menyiramkan nya dengan air jeruk nipis sehingga membuat nya semakin tidak lagi berdaya.
'' Haaahh, saya kira cukup sampai disini, besok kita akan bermain lagi, ok.'' Ucap Zen yang sudah berdiri dan melangkahkan kakinya keluar dari ruang bawah tanah tempat di kurungnya dua tersangka itu.
Setelah membersihkan dirinya dari noda-noda darah yang ada dirinya, Zen melajukan mobilnya ke arah kantornya.
Tapi di perjalanan matanya melihat Linda yang baru saja turun dari mobil dan masuk ke minimarket bersama seorang pria dan tentunya membuat Zen tersulut emosi kembali.
'' Siapa dia,'' gumam Zen.
'' Aku akan menghukum mu, Linda. Apa yang sudah ku sentuh tidak akan boleh tersentuh oleh siapapun lagi.'' Gumam Zen yang melajukan kembali mobilnya.
Di Minimarket Linda dan Reska sedang berbelanja keperluan sehari-hari Reska untuk di apartemen nya.
'' Terima kasih ya Lin, kamu mau menemani ku,'' ucap Reska.
'' Iya, santai saja.''
'' Sejak Ka Kemal sakit, aku sangat sibuk mengurus restoran,'' ucap Reska.
'' Kita berdoa saja, semoga Kemal baik-baik saja dan ada kemajuan,'' jawab Linda.
Ya Reska adalah kaki tangan Kemal di restoran untuk mengurus restoran nya.
Mereka memang masih ada ikatan keluarga tapi Reska yang hanya anak angkat dari Paman Linda, Daniel juga Dinar sangat berbeda nasibnya.
__ADS_1
Reska harus berjuang sendiri untuk bertahan hidup tidak berbedanya dengan Kemal yang berjuang sendiri sedari kecil untuk sukses sampai saat ini.
TBC..