
Semula yang terus memberontak perlahan Linda mulai melunak, ia diam di pelukan Zen seakan ia merasa ada kenyamanan di sana.
Namun saat sedang hanyutnya di dalam perasaan nyaman di antara mereka, suara pintu di ketuk mampu membuat Zen dan Linda merasa terganggu.
Zen melepaskan pelukannya dengan perlahan dan Linda berjalan menuju pintu untuk membukakan nya.
'' Nona, apa nona sudah tidak apa-apa?'' tanya pembantu Linda yang masih merasa khawatir dengan keadaan nona mudanya.
'' Tidak bi, saya sudah tidak apa-apa,'' jawab Linda dengan pelan.
Setelah memberikan minuman ke Linda, pembantu itupun berlalu meninggalkan Linda yang masih di dalam kamar bersama Zen.
Kecanggungan pun menyelimuti mereka berdua, keduanya bertingkah serba salah.
'' Kalau begitu kau istirahatlah, aku akan pulang sebentar ke hotel dan menyusul Daniel ke kantor polisi,'' ucap Zen dengan nada yang sangat lembut.
Linda tidak menjawab nya ia hanya memberikan anggukan kepala sebagai jawaban dirinya.
Lagi-lagi tindakan Zen membuat jantung Linda terpompa dengan cepat, ya Zen mengulangi tindakannya yang mengecup kening Linda dengan mesranya dan mengusap pipi Linda dengan lembut setelah itu berlalu keluar kamar Linda.
Setelah Zen sudah tidak terlihat dari pandangan nya, Linda terduduk di tepi ranjangnya dengan menekan dada sebelah kirinya.
'' Ada apa dengan jantung ku,'' gumam Linda.
Debaran jantung Linda sangatlah kencang, iapun tidak mengerti apa arti dari debaran itu karena sebelumnya ia tidak pernah merasakan nya sama sekali, sekalipun waktu bersama kekasihnya dulu.
Di perjalanan, Zen pun sama merasakan apa yang Linda saat ini rasakan, jantung Zen sedari tadi tidak berhenti berdebar sampai ia tidak fokus dengan jalanan.
'' Astaga, apa aku kurang minum air putih?'' gumam Zen yang sudah menepikan mobilnya di tepi jalan raya.
Zen yang berpikir kalau dirinya kurang minum air putih segera menyambar botol air minum yang ada di kursi belakang dan meminumnya dengan tergesa-gesa berharap debaran jantung nya mereda namun debaran itu semakin kencang.
'' Seperti nya aku harus memeriksakannya ke dokter spesialis jantung,'' gumamnya lagi, dan Zen pun melanjutkan perjalanan nya menuju kantor polisi untuk menyusul Daniel.
Di negara lain, tepatnya di sebuah Mension keluarga Mahendra, Devita yang mulai meminta macam-macam karena efek dari kehamilannya sampai melibatkan Reno yang di repotkan untuk menuruti semua kemauannya.
'' Dek, sudah ya. Kaka lelah,'' ucap Reno.
'' Tapi ini belum cukup ka,'' rengek Devita.
__ADS_1
Reno yang mulai kesal hanya bisa menggerutu dalam hati karena bagaimanapun ia hanya seorang bawahan Tuan besar nya dan wanita yang di panggilnya Adik itu tidak lebih hanya sekedar anak bos nya yang meminta di anggapnya Adik bukan nona muda nya.
Ya Reno sudah mulai menyetujui ucapan Mahendra yang memintanya untuk di anggap sebagai orang tua bukan Tuan besarnya dan Devita yang di minta untuk di anggap sebagai adiknya bukan Nona mudanya.
Devita terkekeh geli melihat wajah masam nya Reno. '' Ya sudah kak, kakak istirahat saja sini duduk dengan ku,'' ucap Devita yang mulai tidak tega karena mengerjai Reno yang di pinta untuk memanjat pohon mangga untuk mengambil buah mangga yang masih muda untuk dia makan.
Di kursi yang lengkap dengan mejanya, sudah ada beberapa mangga muda hasil petikan Reno, Reno yang bernafas lega karena Devita sudah menyuruh nya istirahat hanya menurut dan berjalan untuk duduk bersama Devita.
'' Haaahhhh,'' Hela Reno.
'' Lelah ya kak?'' tanya Devita.
'' Tidak,'' ketus Reno.
Devita lagi-lagi kembali tertawa, dan itu semua tidak lepas dari pandangan Mahendra yang melihat kejahilan anaknya dari atas balkon kamarnya.
'' Anak ku benar-benar usil seperti ibunya dulu,'' gumam Mahendra.
'' Rani, lihat anak kita sudah besar dan ada sebuah janin yang ada di perut nya, kita sebentar lagi akan menjadi kakek dan nenek, andai saja kau masih ada di antara kita.'' Gumam Mahendra yang menatap langit yang mendung.
'' Anak yang kau titipkan padaku juga sudah waktunya menikah, tapi dia belum menemukan tulang rusuknya untuk di jadikan sebagai pelengkap hidup nya, tugas ku belum selesai.'' Ucap Mahendra lagi.
'' Astaga,'' gerutu Reno.
'' Oh ya ka, bagaimana kabar Chloe?'' tanya Devita, tiba-tiba tangan Reno yang sedang mengupas kulit mangga berhenti setelah mendengar nama Chloe.
'' Kakak tidak tau,'' jawab Reno setelah diam sejenak.
'' Bukannya kakak dekat dengan dia, kok tidak tau,'' cetus Devita.
'' Ya sepertinya dia sudah menikah dengan ayah dari anak yang di kandung nya,'' ucap Reno dengan pelan.
'' Hahhh? benarkah? kalau begitu syukurlah, semoga Chloe mendapatkan kebahagiaan nya kembali,'' ucap Devita.
Reno yang mendengar penuturan Devita hanya bisa menghela nafasnya dengan berat, entah kenapa ucapan Devita membuat hatinya seolah-olah remuk tanpa sebab.
'' Semua sudah terkupas, kakak kedalam dulu ingin mencuci tangan,'' ucap Reno yang tanpa menunggu jawaban Devita sudah berlalu masuk ke dalam Mansion.
Devita kembali menikmati buah mangga muda yang sudah tidak berkulit itu, saat dia sedang menikmati buahnya seseorang berteriak dari arah belakang memanggilnya.
__ADS_1
'' Deviiii,'' teriak seseorang memanggilnya.
Devita menoleh ke belakang dan ada raut wajah senang di sana. '' Pu, kau tau dari mana aku ada di sini,'' ucap Devita setelah Puspa duduk di samping nya.
'' Dari ka Dinar, waaahhh mangga muda, kau makan ini semua,''
'' Iya, kau mau. Ambilah.''
'' Isshhhh, no. Bisa-bisa asam lambung ku kumat,'' tolak Puspa.
'' Kau kesini bersama siapa?''
'' Kemal, tapi dia hanya mengantarkan ku saja lalu pergi ke restoran nya,'' jawabnya.
'' Kapan kau meresmikan hubungan mu?'' pertanyaan Devita membuat wajah Puspa memerah.
'' Entahlah, doakan saja,'' jawab Puspa.
'' Selalu,'' timpal seseorang yang baru saja tiba dan duduk bersama mereka berdua.
'' Ayah, ayah apa kabar?'' tanya Puspa memanggil Mahendra dengan sebutan Ayah karena permintaan dari Mahendra sendiri.
'' Sangat baik, kau kemana saja sampai tidak mau menengok ayah disini,''
'' Aku sibuk Yah, biasalah Skripsi,'' jawab Puspa.
Mereka terus berbincang dengan tawa juga berbagai cerita, berbeda dengan seseorang yang ada di dalam kamarnya yang sedang menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong.
'' Semoga kehidupan mu membaik,'' gumam Reno, ya dia adalah Reno yang masih kepikiran dengan ucapan Devita.
Reno mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celananya dan menelusuri kontak mencari nomor seseorang.
Jarinya ingin sekali menekan tanda panggil di nomor seseorang yang tidak lain nomor Chloe namun rasanya sangatlah berat, ia takut akan mengganggu Chloe yang dia kira sudah menjadi istri orang lain itu.
'' Kalau kirim pesan saja semoga tidak membuat kesalahpahaman,'' gumam Reno yang langsung mengetikan pesan dan mengirimkan nya ke nomor Chloe.
'' Aku tidak berharap di balas tapi setidaknya pesan ku di baca nya, aku sudah merasa lega,'' gumamnya lagi yang terus melihat isi pesannya untuk Chloe yang belum juga terbaca.
TBC...
__ADS_1