
'' Devi aku bermimpi kalau Kemal kecelakaan dan pergi dari kita semua,'' ucap Puspa dengan deraian airmata.
Devita terdiam menahan tangis karena merasa kasihan pada sahabat nya.
'' Pu, kamu sedang tidak bermimpi, Kemal memang kecelakaan dan masih berada di ruang ICU, tapi kamu juga harus kuat dan terus berdoa agar keadaan Kemal baik-baik saja,'' ucap Devita memberi pengertian.
'' Kemal,'' lirih Puspa yang kembali menangis lagi.
Puspa terdiam ia mengingat sesuatu dan mencarinya. '' Cincin? cincin itu dimana?'' ucap Puspa dengan panik.
'' Apa kamu sedang mencari ini,'' ucap Devita yang ternyata benda yang di cari Puspa berada di tangan Devita.
'' Iyah,'' Puspa merebutnya langsung dari tangan Devita dan memakainya dengan cepat dan diapun kembali menangis lagi.
'' Kemal segeralah kembali, cincinnya sudah ku pakai yang artinya kau sudah mengikat ku kan, kau harus bertanggung jawab,'' ucapnya dalam tangis.
Setelah memastikan Puspa lebih tenang, Devita kembali membawa Puspa ke depan ruang ICU.
'' Puspa, Devita,'' panggil Dinar yang melangkah menghampiri dua wanita yang sudah di anggapnya sebagai adiknya sendiri.
'' Daniel kemana ka?'' tanya Devita.
'' Entahlah, sepertinya Daniel sedang berada di kantor polisi memenuhi panggilan sebagai wali Kemal,'' jawab Dinar.
Ketiga wanita itu duduk dalam dian hanya ada suara isakan dari mereka yang menagis dalam diam itu.
'' Ayah, pulanglah. Ayah juga harus beristirahat kan, biar Kemal kami yang jaga,'' ucap Dinar yang menghampiri ayahnya.
'' Tapi Ayah mau kau terus mengabari Ayah tentang keadaan Kemal, dan jaga adik mu itu, dia sedang mengandung. Ayah tidak ingin menantu Ayah kenapa-kenapa.'' Ucap Frans dengan lembut dan di angguki Dinar.
Frans pun berlalu pulang dengan di temani pengawal pribadinya juga dengan supirnya.
Malam pun tiba, mereka belum juga bisa menemui Kemal di kamarnya, mereka hanya bisa melihat Kemal dari balik kaca, Puspa terus memperhatikan Kemal dengan tangis pilunya.
'' Kamu harus kembali, kalau tidak aku akan menikah dengan pria lain.'' Gumam Puspa mengancam Kemal.
Langkah kaki terdengar jelas bersahutan, Devita dan Dinar menoleh bersamaan kecuali Puspa yang tidak ingin mengalihkan pandangan nya dari Kemal walaupun hanya sedetik.
'' Ka, bagaimana bisa? apa yang terjadi?'' tanya Linda yang baru saja tiba dari bandara dan mendapatkan kabar kalau Kemal kecelakaan dan di larikan ke rumah sakit keluarga.
'' Lin, kakak juga tidak tahu percis bagaimana kejadian nya tapi seperti kata polisi ini ada unsur kesengajaan, ada orang yang berniat mencelakai Kemal.'' Jawab Dinar.
__ADS_1
'' Lalu Daniel kemana ka?'' tanya Zen yang mencari Daniel tapi tidak kunjung ia lihat.
'' Kau tau sendiri jawabannya,'' jawab Dinar, dan Zen pun segera pergi dari sana.
'' Tapi keadaan Kemal bagaimana ka?'' tanya Linda lagi.
'' Kemal, dia kritis hanya keajaiban lah yang mampu menyelamatkan nya,'' jawaban Dinar membuat Linda tersentak.
'' Astaga,'' lirih Linda menutup mulut terbukanya karena rasa kagetnya.
Linda menoleh ke arah Puspa yang sedang berdiri dengan tatapan yang terus menatap Kemal dari balik kaca itu.
Linda menghampiri nya dan memegang bahu Puspa yang bergetar karena menahan tangisnya. '' Nona Puspa,'' panggil Linda dengan pelan.
Puspa menoleh dan langsung memeluk Linda meluapkan rasa sedihnya lagi.
'' Sudahlah jangan seperti ini, menangis tidak membuat Kemal bangun kan? jadi kau harus tegar dan terus berdoa pada Tuhan meminta keajaiban nya.'' Ucap Linda dengan bijak.
'' Iya ka,'' lirih Puspa yang sudah sedikit tenang.
Zen mengendarai mobilnya ke sebuah bangunan tua yang dia sangat tahu dimana Daniel berada.
Zen turun dari mobil dan menuju ruangan khusus yang dimana penjaga memanggilnya ruangan exsekusi yang sudah di pastikan disanalah tempat Daniel yang akan menjadi monster bagi sang pelaku.
'' Kalian mencoba bermain-main dengan ku kan!'' ucap Daniel yang sudah terlihat kacau tapi tidak sekacau tiga orang yang ada di depannya yang bahkan untuk mengangkat kepalanya saja sudah tidak mampu dan tidak lagi berdaya karena ulah Daniel.
Saat Daniel sudah mengacungkan pinstol ke kepala salasatu di antara mereka ada tangan yang menahannya dan ternyata itu adalah tangan Zen.
'' Lepas, sialan!!'' teriak Daniel yang sudah tidak bisa lagi mengontrol emosinya.
'' Daniel, kau ingat Devita yang saat ini sedang menunggu mu, pergilah biar mereka aku yang urus, tadi aku melihat Devita terlihat sangat pucat apa kau tidak merasa khawatir dengan keadaan nya.'' Bujuk Zen dan ternyata berhasil membuat Daniel teralihkan dari emosinya.
'' Benarkah? baiklah aku akan kembali ke rumah sakit, dan kau harus urus mereka untuk ku,'' ucap Daniel yang sudah bersiap untuk pergi.
'' Daniel tunggu,'' panggil Zen lagi yang menghentikan langkah Daniel.
'' Apa lagi,''
'' Lebih baik kau bersihkan dulu dirimu, apa kau mau melihat wajah panik nya Devita saat melihat mu dengan banyak bercak darah para iblis itu di baju dan tangan mu.'' Ucap Zen dan Daniel pun baru menyadarinya.
'' Astaga untung kau mengingatkan aku, kalau tidak pasti Devita akan histeris melihatnya, ya sudah urus mereka,'' ucap Daniel yang sudah berlalu dari sana.
__ADS_1
Zen menoleh dengan tatapan tajam nya ke arah tiga pria yang sedang menatapnya dengan tatapan memohon ampunan, yang mereka kira kalau Zen tidaklah sama dengan Daniel.
'' Tuan saya mohon ampuni saya,'' ucap salasatu di antara mereka.
Zen tersenyum tipis dan memungut pistol dari tempat Daniel jatuhkan tadi.
'' Ya saya akan mengampuni mu, kau tenang saja,'' ucap Zen dengan lembut. Tapi tiba-tiba..
Duaar
Duarr
Duarr
Zen melepaskan peluru dari pistol tepat ke kaki sebelah kanan mereka secara cepat dan membuat mereka berteriak secara bersamaan.
'' Berteriak lah, ini akan membuat kalian akan merasakan lebih sakit dari ini,'' ucap Zen dengan nyalang.
'' Ampuni kami Tuan,'' lirih salasatu di Antara mereka lagi.
Tapi tiba-tiba Zen kembali menembakkan peluru ke bagian kaki sebelah kiri mereka dengan bergantian lagi.
Zen terus menyiksa nya dengan perlahan dan sampai mereka tidak lagi kuat dengan siksaan yang Zen berikan, mereka pun menemui ajalnya di tangan Zen.
'' Ben, urus mayat mereka, letakan di peti dan kirim ke alamat yang aku kirimkan ke ponsel mu itu.'' Ucap Zen pada seorang ketua pengawal, Zen pun berlalu meninggalkan gedung itu dengan mobilnya.
Para pengawal pun menjalankan sesuai yang di perintahkan Zen tadi, membungkus ketiga mayat itu dan memasukannya ke satu peti besar dan mengirimnya ke alamat yang sesuai Zen berikan.
Di sebuah rumah yang terbilang sangatlah mewah ada dua orang yang sedang merasakan kepanikan karena mendapatkan kabar bahwa ketiga anak buahnya sudah tertangkap Daniel dan saat ini sedang di tawannya.
'' Bagaimana ini kalau Daniel akan bertindak,'' ucap Barta dengan panik.
Namun tiba-tiba suara bel pintu berbunyi.
'' Lihat siapa itu!!'' perintahnya pada pengawalnya.
Tbc...
BANTU BERIKAN DUKUNGAN JUGA DI NOVEL BARU KU YA YANG BERJUDUL.
'' HANYA ISTRI PURA-PURA '' Terima kasih😘💕
__ADS_1