Cinta CEO Arrogant

Cinta CEO Arrogant
Menuju Jam Baik


__ADS_3

Mobil yang di kendarai Reno berhenti di sebuah Rumah Sakit khusus yang merawat orang-orang yang mempunyai masalah jiwa.


Chloe turun dari mobil dan Reno juga ikut turun.


Alis tebal Reno menyatu sempurna, kenapa dia kesini? apa yang di ucapkan nya benar kalau orang tuanya mengidap gangguan di mentalnya? pertanyaan itu berkeliling di benak Reno.


'' Terima kasih Tuan,'' ujar Chloe dengan membungkukkan tubuhnya sedikit.


Reno hanya berdeham dengan mata yang terus berkeliling memperhatikan setempat, setelah dia tersadar, Chloe sudah tidak ada di hadapannya.


'' Lho kemana dia?'' Reno menoleh kesana kemari untuk mencari Chloe, dan matanya menangkap tubuh mungil Chloe yang sedang berbincang dengan seorang suster di sana.


'' Apa ini bagian dari rencananya juga,'' gumam Reno yang belum percaya dengan apa yang Chloe ucapkan tadi di Mansion.


Karena ingin memastikan sesuatu, Reno diam-diam membuntuti kemana Chloe pergi, tidak ada rasa curiga di hati Chloe dia berjalan dengan sedikit tergesa-gesa menuju suatu ruangan dan pada akhirnya Chloe sampai di sebuah ruangan dokter disana.


Reno tetap membuntutinya, dan dia berdiri di ambang pintu yang ada celah disana karena Chloe tidak menutupnya dengan benar.


'' Jadi bagaimana dengan orang tua saya, apa boleh di bawa pergi dari sini, Dok?'' tanya Chloe pada dokter itu.


'' Ya boleh, karena keadaan nyonya Sari sudah lebih baik dari sebelumnya, tapi pihak Rumah Sakit akan meminta surat pernyataan kalau Nona sendiri yang bertanggung jawab atas nyonya Sari,'' jelas sang Dokter pada Chloe.


'' Tentu Dok, dia Ibu saya, jadi memang sudah tanggung jawab saya.'' Jawab Chloe, ada raut wajah bahagia di mimik Chloe karena akhirnya dia bisa membawa pulang sang Ibu bersamanya dan akan merawat nya dengan tangannya sendiri.


Reno yang masih menguping di celah pintu segera bergegas pergi dari sana dan bersembunyi agar Chloe tidak mengetahuinya karena Chloe sudah mau keluar dari ruangan, itulah sebab Reno bersembunyi.


Chloe berjalan ke sebuah ruangan pasien di mana terdapat Ibu nya disana, Reno tetap ingin memastikan nya sendiri karena pikiran nya belum sepenuhnya percaya, ya saat Mahendra tau sang anak masih tinggal bersama Paman nya dan memerintahkan Reno untuk mencari tahu kelakuan keluarga itu pada Devita, Reno terus memata-matai apa yang di lakukan keluarga itu sebab itulah sampai sekarang Reno belum yakin dengan apa yang di ucapkan Chloe.


'' Mih, Chloe sudah meminta maaf pada Devita dan juga Paman, Chloe juga sudah mengembalikan semua yang kita rampas apa yang sebenarnya milik mereka.'' Ucap Chloe pada seorang wanita paru baya yang menggunakan pakaian pasien yang duduk mematung tanpa mengexpresikan apapun dalam arti lain tatapan yang kosong kedepan seperti tidak ada jiwa didalamnya.


Reno baru yakin dengan apa yang Chloe ucapkan, ada rasa terkejut juga iba di hati Reno, tapi sisi lainnya mengatakan ' Biarkan saja itu adalah sebuah karma bagi si Pendosa,' itulah yang sisi lain Reno katakan.


Reno memutuskan untuk kembali ke mobilnya tapi tidak langsung buru-buru pergi karena masih ada rasa syok di dirinya setelah melihat apa yang di lihatnya.


Saat Reno ingin memutar kunci mobilnya, matanya kembali melihat Chloe yang sedang menuntun seseorang menuju sebuah mobil taxi.


Tanpa sadar Reno kembali membuntuti kemana Chloe pergi dengan taxi itu.


Di Mansion Keluarga Huang.


Semua dekorasi sudah siap untuk menyambut sebuah acara yang akan di selenggarakan nanti malam, dimana acara yang akan di laksanakan adalah sebuah acara pertunangan Nona muda disana.


'' Kenapa kau terlihat gugup begitu, Dev?'' goda Puspa dengan jahilnya.


'' Pu, aku mohon diamlah,'' jawabnya dengan gelisah. Ya sedari tadi Puspa terus menggoda Devita yang tengah gugup itu.


'' Ya ya, baiklah aku akan diam, tapi kau harus menceritakan apa yang kau rasakan sekarang.'' Ucap Puspa mengajukan syarat agar dia berhenti menggoda Devita.


'' Tentu saja aku merasakan gugup, nanti malam aku akan bertunagan dan di saksikan banyak orang, itulah yang membuat ku gugup.'' Ujar Devita dengan polosnya.


Puspa tertawa terpingkal-pingkal mendengar penuturan Devita yang gugup karena akan menghadapi banyak orang .


'' Kalau tidak mau ada banyak orang dan hanya ada kalian berdua itu nanti saat malam pernikahan mu, Dev.'' Puspa kembali tertawa karena tingkah Devita yang kelewat polos itu.


Mata Devita memicing tidak suka karena Puspa terus mentertawainya.


'' Kau menyebalkan, Pu.'' Bibir mungilnya sudah di majukan beberapa centi dengan tangan yang di lipat di atas perutnya.


Bukannya berhenti tertawa tapi Puspa semakin geli tertawa karena melihat expresi lucu ya di tunjukan Devita saat merajuk itu.


Sebuah ketukan pintu akhirnya menghentikan tawa Puspa dengan perlahan walau sebenarnya ia tetap ingin tertawa.

__ADS_1


Puspa beranjak dari tempat tidur dan menuju pintu.


'' Maaf Nona mengganggu, orang yang akan merias Nona sudah datang.'' Ucap seorang gadis yang bernama Mimi.


'' Oh ya sudah langsung di suruh masuk saja.'' Jawab Puspa, Mimi tidak langsung buru-buru pergi melainkan memperhatikan wajah Puspa yang memerah dengan genangan air di ujung matanya.


'' Nona kau menangis?'' tanya Mimi, ya Mimi adalah teman Devita saat ada di Mansion dan otomatis Puspa juga ikut mengakrabkan diri dengan Mimi.


'' Menangis?'' Puspa menyentuh ujung matanya dan memang terdapat air disana.


'' Oh ini, Tidak Mi, ini tadi aku habis tertawa makanya mata ku berair seperti ini.'' Jawab Puspa yang baru tau maksud dari Mimi yang mengatakan nya menagis.


Setelah Mimi mendapat jawaban dari Puspa, ia segera pamit untuk menyuruh perias Nona mudanya untuk segera masuk.


'' Sudahlah Dev, kau tidak perlu cemberut, karena wajahmu semakin menggemaskan kalau seperti itu,'' ucapan Puspa membuat Devita sedikit mengulum senyumnya.


Beberapa orang sudah masuk ke kamar Devita untuk merias wanita yang akan menjadi ratu malam nanti, tidak hanya Devita yang di rias tapi Puspa juga akan di rias.


Puspa yang sebenarnya menolak di rias, tapi Devita memaksa nya dan mau tidak mau, Puspa terpaksa menurutinya.


Di Mansion Carroll.


Daniel sedang duduk di kursi balkon menatap langit-langit yang mendung, hatinya sangat bahagia karena malam nanti Dia akan mengikat seorang wanita di sebuah setatus yang menjadi Tunangannya.


Kebahagiaan bukan hanya du rasakan Daniel saja di sana, Dinar dan sang Ayah juga ikut bahagia karena Daniel pewaris sah keluara Carroll akan mengikat suatu hubungan di pertunangan nya nanti.


'' Ayah tidak menyangka kalau Daniel akan bertunangan dengan Devita.'' Ucap sang Ayah yang terharu karena akan mendapatkan calon menantu yang dia inginkan.


'' Iya Yah, Dinar juga sama tidak menyangkanya, pria macam Daniel yang aku kira tidak akan bisa mencintai wanita manapun ternyata malam nanti akan mengikat anak gadis orang.'' Timpal Dinar yang tak kalah bahagianya.


Lain dengan Daniel, Dinar dan sang Ayah, ada seseorang yang tidak sama sekali tertarik dengan acara yang akan berlangsung nanti malam, dia berlagak cuek dengan apa yang terjadi.


Dia adalah Mirna, nyonya besar disana, ibu kandung dari Daniel dan Dinar, istri dari Frans Carroll, wanita yang hanya tertarik dengan dunia huru hara, wanita yang hanya mementingkan gaya hidupnya kemolekannya serta menghambur-hamburkan uang demi nafsu belanja nya yang terkesan sangat berlebihan.


'' Lindaaa!!'' teriaknya memanggil Linda dengan sangat kencang.


Linda yang mendengar teriakan sang Nyonya besar segera menghampiri nya dengan tergopoh-gopoh.


'' Iya Nyonya? Nyonya memanggil saya?'' tanya Linda dengan nafas yang sedikit tersengal-sengal.


'' Siap kan Koper ku, aku akan berlibur bersama teman-teman ku ke Korea.'' Ucap Mirna, alis Linda menyatu merasa heran dengan perintah Nyonya besarnya.


'' Maaf Nyonya kalau saya lancang, memangnya Nonya tidak ikut pergi ke acara pertunangan Tuan Muda Daniel.'' Penuturan Linda membuat Mirna diam sejenak.


'' Tidak, aku tidak peduli dengan acara mereka, yang terpenting aku harus pergi, karena teman-teman ku sudah menunggu ku.'' Jawab Mirna dari diamnya dia tadi.


'' Baik, akan saya siapkan keperluan Nyonya.'' Linda permisi pamit untuk menyiapkan keperluan Nyonya besarnya.


Setelah perginya Linda, Mirna diam seribu bahasa tanpa pergerakan apapun, pikiran dan hatinya tidak sejalan, hati keibuannya mengatakan ingin sekali mendampingi anak laki-laki nya yang akan bertunangan itu, tapi pikirannya menolak .


Tanpa sadar Tetesan air yang berasal dari kelopak matanya menetes tanpa permisi.


'' Andai waktu bisa di putar,'' gumamnya, Mirna menghapus tetesan air matanya dengan perlahan dan melanjutkan kembali mambaca Majalah nya.


Kata Andai hanya untuk orang yang menyesal berbuat sesuatu, kata Andai hanya untuk orang-orang yang menyadari kesalahannya, tapi apa Mirna menyesalkan sesuatu? apa wanita paru baya yang sudah melahirkan dua anak itu menyadari sesuatu? entahlah hanya dirinya yang mengetahui semuanya.


Waktu yang di nanti akan segera tiba, saat ini Daniel sudah siap dengan setelan tuxedo berdasi kupu-kupu yang melingkar di leher jenjangnya.


Begitu juga Dinar dan sang Ayah yang sudah siap dengan penampilannya karena dua jam lagi akan memasuki jam baik yang sudah di tentukan kedua belah pihak.


Daniel sedikit gelisah karena Zen belum juga datang, karena hanya Zen yang dapat di andalkan di situasi seperti ini.

__ADS_1


'' Kemana dia?'' gumam Daniel yang tidak berhenti melirik jam yang melingkar di tangannya.


'' Daniel kemana Zen?'' tanya Dinar yang baru masuk ke kamar Daniel.


'' Mungkin masih dalam perjalanan,'' jawab Daniel sekenanya.


'' Cincin sudah siap kan?'' tanya Dinar lagi.


'' Cincin ada di Zen ka, kemarin ada kesalahan dan aku minta Zen untuk membawanya kembali ke toko nya,'' jawab Daniel, ada rasa sedikit curiga tentang Zen tapi Daniel segera menepisnya. Dia sangat mengenal Zen walau Zen baru bekerja dengannya 8 tahun tapi mereka sudah bersama sedari kecil.


Dinar melangkah lebih mendekat ke arah Daniel yang sedang duduk di depan cermin.


'' Niel, kakak ingin bicara dengan mu.'' Ucap Dinar dengan lembut.


'' Bicaralah ka,''


'' Apa kau sudah mengundang Kemal secara resmi?'' pertanyaan Dinar membuat Daniel diam.


'' Kakak tahu kau pasti belum mengundangnya secara resmi kan. Niel kakak tidak bermaksud apa-apa, tapi bagaimana pun Kemal tetap adik kita, dengan acara seperti ini apalagi acara pertunangan mu, kau harus mengundangnya dengan resmi itu akan membuat Kemal merasa di anggap sebagai keluarga.'' Ucap Dinar panjang lebar menasihati si keras kepala Daniel.


'' Tapi kan buat apa mengundangnya, kalau memang dia keluarga kenapa tidak datang sendiri, justru dia ku anggap keluarga makanya tidak perlu ku undang kan?'' Ucap Daniel dengan anggapannya sendiri.


'' Kau salah Niel, dia akan merasa di anggap keluarga kalau dia di inginkan kehadirannya, tapi kalau kau saja tidak mengundangnya apa dia merasa demikian? tentu tidak. Sekarang begini, kau mengundang semua rekan bisnis mu dan kerabat yang lain kan?'' tanya Dinar dan Daniel hanya mengangguk pelan.


'' Ya yang lain saja kau undang kenapa adik mu sendiri, keluarga inti mu sendiri tidak kau undang,'' penuturan Dinar membuat Daniel berpikir dan membenarkan nya, tapi gengsi yang besarnya membuat ia goyah.


'' Tapi itu semua terserah pada mu, ini acara mu, kakak hanya menyampaikan apa yang menurut kaka itu benar dan tidak bisa memaksakan kehendak mu,'' setelah mengucapkan apa yang ingin di ucapkan Dinar berlalu keluar dari walk in closet yang ada di kamar Daniel.


Daniel melirik ponselnya yang ada di atas meja, meraihnya dan menekan nomor seseorang untuk di hubunginya.


'' Kau dimana?'' tanya Daniel pada seseorang di sebrang sana.


'' Aku sedang di restoran, kenapa?'' jawab orang itu dengan pertanyaan lagi.


'' Ke Mansion sekarang, aku tunggu.'' Tanpa permisi Daniel mematikan sambungan telpon nya.


Orang yang di hubungi Daniel merasa heran, ada apa Daniel menyruhnya kerumahnya, dia saja sedang bersiap untuk kesana.


'' Ada masalah apa lagi ya,'' gumam orang itu yang tak lain adalah Kemal.


Ya Kemal masih berada di restoran nya ya sedang bersiap-siap untuk menghadiri acara pertunangan kakak tirinya.


'' Walau aku tidak diundang secara resmi dan hanya di undang dengan ka Dinar, aku harus tetap menghadirinya, bagaimanapun dia tetap kakak ku,'' gumam Kemal lagi, sekarang Kemal sudah suap dengan setelah jassnya.


Kemal segera bergegas untuk ke Mansion Ayahnya, karena Daniel yang memerintahkan nya, niat hati Kemal ingin langsung pergi ke tempat acara tapi Daniel yang menghubungi untuk segera menghadapnya.


'' Res, urus Resto ya, saya ada urusan.'' Ucap Kemal pada orang kepercayaan nya.


'' Baik Pak.'' jawab seorang pria yang bernama Reska.


Kemal yang menggunakan setelah formal tidak seperti penampilan biasanya membuat semua karyawan terpesona melihat nya, kadar ketampan Kemal bertambah berlipat ganda.


'' Pak, ingin menghadiri pesta ya?'' tanya seorang waiters nya.


'' Tepat, dari mana kau tahu?'' jawab Kemal.


'' Penampilan Pak Kemal sangat keren,'' jawab waiters itu, Kemal hanya tersenyum menanggapinya.


Ya para karyawan berani pada Kemal, sebab Kemal bos yang ramah dan terkadang Kemal juga akan mengajak para karyawannya untuk makan bersama dengan nya. Maka dari itu semua karyawan menyukai Kemal.


Kemal berlalu menuju mobilnya untuk menuju Mansion.

__ADS_1


'' Penampilan ku seperti ini hanya untuk Puspa ku seorang.''


Tbc...


__ADS_2