
Setelah menuntaskan buang air kecilnya Devita berniat untuk kembali ke Puspa dan Jonathan tapi langkahnya terhenti karena matanya menangkap seorang pria yang sedang makan dengan seorang wanita di satu meja.
Dadanya seketika terasa sesak, matanya memanas, Devita terus memperhatikan seseorang itu dengan hati yang pilu.
''Daniel.'' Lirih Devita memandang pilu ke arah Daniel.
Daniel yang sedang mengobrol dengan seorang wanita yang berpakaian formal dan sedikit terbuka itu tidak menyadari ada sepasang mata yang melihatnya sendu.
''Maaf Lama Tuan, ini berkasnya.'' Ucap Zen yang baru datang membawa berkas bermap biru itu.
''Nona Devita.'' Lirih Zen, yang terdengar ke telinga Daniel.
Daniel mengikuti arah pandang Zen, dan benar saja dari jarak sekitar 100 meter dari tempat mereka, ada Devita yang sedang berdiri dengan wajah sendunya.
''Baik Tuan, kalau begitu nanti saya sampaikan pada Tuan Lucky untuk memperbaiki kesalahan kami.'' Ucapan Lusi membuat Daniel langsung menoleh.
Dan di sana, Devita salah faham. Devita mengira bahea Daniel membuang mukanya sengaja yang tidak ingin melihat dirinya.
Devita berlalu menuju Dua sahabat nya berada.
''Pu, Jo kita pulang sekarang,'' ucap nya.
''Lho tidak jadi menonton film?'' tanya Puspa.
''Lain kali saja, tiba-tiba kepala ku sakit.'' ..
''Oh ya sudah, ayo Puspa, kasihan Devita.'' Timpal Jonathan dengan wajah khawatir melihat wajah sendu Devita.
Mereka pun pergi dari Mall itu dan kembali ke rumah masing-masing, Devita yang lebih dulu di antarkan dan kemudian Puspa.
Setelah selesai pertemuan antara Daniel dengan Lusi asisten pribadi dari Lucky pemilik LK Group Daniel berniat untuk mencari keberadaan Devita, tapi tidak kunjung ketemu.
''Tuan, apa Tuan melihat wajah sendunya Nona Devita.'' Ucap Zen memulai pembicaraan sambil mengemudikan mobil.
''Iya, aku melihat nya, tapi kenapa dia bersedih.'' Daniel benar-benar masih tidak mengerti.
''Tuan, apa saya boleh bicara.'' Ucap Zen Hati-hati.
''Bodoh, sedari tadi juga kau sudah bicara.'' serkah Daniel.
''Bukan itu maksud saya Tuan.''..
''Ya ya, terserah kau saja, katakan.'' Ucap Daniel.
''Seperti nya Nona Devita menyesali ucapannya.'' ucapan Zen membuat Daniel tidak mengerti.
''Menyesali bagaimana maksud mu,'' ketus Daniel.
Zen tidak habis fikir, Tuannya yang dia kenal sangat tanggap menjadi bodoh seperti ini.
''Jelaskan, jangan mengumpat ku,'' bentak Daniel.
''Di lihat dari tatapan Nona serta raut wajah nya Ia sangat merindukan sosok Tuan di samping nya,'' jelas Zen.
__ADS_1
''Benarkah?'' ada binar bahagia dari mata Daniel, senyum yang beberapa minggu ini telah lenyap kini muncul kembali.
''Iya Tuan.''..
''Apa kau yakin, Zen?'' tanya Daniel memastikan.
''Saya sangat yakin, Tuan.'' Jawab nya.
''Kalau begitu, untuk memastikan nya, antarkan aku pulang ke Apartemen.'' Ucapnya dengan wajah berseri-seri.
''Baik Tuan.''..
Di Apartemen.
Devita terduduk di atas karpet bulu yang terdapat di ruang tamu, padangan kosongnya menyisakan ada luka di sana.
''Apa arti dari perhatian mu selama ini, Daniel.'' Gumam Devita masih dengan tatapan nanar.
Ingatannya seakan berputar dengan semua kenangan dirinya dengan Daniel, dari yang bercanda dan berlarian saling mengejar semua berputar secara apik di ingatan Devita.
''Aku yang salah, aku penyebabnya,'' gumam nya.
''Kalau aku tidak mengatakan itu, mungkin saja kita masih baik-baik saja.'' Devita terus meracau dengan terus menyalahkan diri sendiri.
''Vita.'' Suara barinton itu terdengar sampai di telinga Devita.
''Sampai suara nya saja terdengar jelas, andai kau berada disini.'' Racaunya lagi.
Daniel yang berada di belakang Devita terkekeh geli, kehadiran nya di anggap halusinasi semata.
Dengan rasa penasaran atas ucapan Zen, Daniel memantapkan hatinya untuk langsung menemui Devita. Dan saat ini Daniel mendengar semua yang Ia ingin dengar, betapa bahagianya yang ia rasakan kini.
Daniel melangkah maju dan ikut duduk di samping Devita yang tengah melamun dengan mulut yang terus meracau.
''Tapi aku masih heran, kenapa dada ku terasa sesak saat melihat Daniel bersama wanita itu.'' ..
''Itu berarti kau tengah cemburu pada ku.'' Ucapan Daniel yang sedari tatadi di anggap hanya halusinasi saja, sekarang terdengar begitu nyata.
Dengan ragu Devita menoleh ke arah samping kanannya, matanya melebar dengan hati yang bertanya-tanya.
Apa ini nyata?
Devita mengedipkan matanya beberapa kali untuk memastikan pria yang di sampingnya benar-benar nyata.
Tingkah Devita yang terlihat menggemaskan tak luput dari pandangan Daniel.
''Aku nyata, Vita.'' Ucap Daniel.
''Kau sungguh Daniel Carroll?'' tanya Devita lagi.
''Kau ini ada-ada saja.'' Senyum khas Daniel membuat Devita yakin kalau yang ada di hadapannya ini benar Daniel.
Mata yang berkaca-kaca tertuju pada manik mata Daniel langsung, satu tetes airmata luruh.
__ADS_1
''Kenapa?'' Tanya Daniel.
''Senang.''
''Karena?''..
''Kau berada disini.''..
''Apa kau merindukan aku?'' tanya Daniel.
''Iya, aku merindukan mu.'' Jawaban Devita membuat Daniel terkejut, karena berniat hati hanya menggoda ternyata jawaban tulus yang di dapatkan nya.
''Benarkah?'' tanya Daniel memastikan.
Devita hanya mengangguk, saat ini debaran jantung Daniel sangat lah cepat, bahagia? ya dia sangat bahagia.
Kini pandangan keduanya terkunci, binar bahagia tersirat dari mata Devita dan Daniel.
Dengan satu tarikan Daniel mendekap tubuh Devita, Ia memeluknya dengan erat dan tanpa di duga, Devita pun membalas pelukan itu.
Keduanya hanyut di buai Asmara, perlahan Daniel melepaskan pelukan itu dan menatao lekat manik mata Devita.
''Mari kita mencoba membangun chemistry bersama,'' lirih Daniel.
Devita menganggukan kepalanya.
Dengan kelembutan, Daniel mengusap wajah Devita menuntun untuk mendekat dan
'CUP
Sebuah kecupan mendarat di kening Devita.
''Terima kasih sudah menerima ku dalam hidup mu.'' Ucap Daniel lagi.
''Maafkan aku Daniel, aku telah menyakiti perasaan mu.'' Lirih Devita dengan menundukkan kepalanya.
''Tidak Vita, kau tidak salah.''
Kedua anak manusia yang sedang di mabok Asmara itu kini tengah saling mengungkapkan kerinduan dalam dekapan.
Daniel Sangat bahagia karena perasaannya telah tersampaikan dengan apik, Devita pun sedikit menyadari dengan serpihan hati untuk di berikan ke Daniel.
''Berjanjilah kalau kau tidak akan pergi lagi.'' Pinta Devita dengan segudang harapan.
''Aku berjanji tidak akan mengulangi kesalahan ku, dengan tidak meninggalkan mu untuk menanggung kesedihan seorang diri lagi.'' Ungkapan Daniel terucap begitu manis.
...Bersambung.....
Hay Hay Reader Ku tersayang, terimakasih atas dukungan kaliann,, Jangan lupa tinggalkan LIKE dan RATE serta VOTE jika berkenan๐๐๐
Oh ya selagi menunggu CINTA CEO ARROGANT Up kalian bisa mengunjungi novel-novel Author juga
Manisnya Cerita Cinta, ga kalah serunya kok..
__ADS_1
mohon dukungannya juga ya Kaka kakak๐๐๐
Terima kasih๐๐๐