Cinta CEO Arrogant

Cinta CEO Arrogant
Hukuman bagi Penghianat


__ADS_3

Di sebuah bangunan tua di tengah-tengah hutan, Daniel Carroll sedang duduk menatap tajam ke sseorang yang duduk berlutut dengan tangan di ikat ke belakang.


Di sebuah meja tepatnya di depan Daniel, sudah tersedia beberapa benda-benda yang tak lain adalah sebuah senjata tajam, pistol, tambang, dan bambu berukuran satu meter.


''Kau bisa memilih mana yang kiranya kau inginkan untuk aku jadikan hadiah untuk mu,'' ucap Daniel sambil memainkan ponselnya.


Dengan gemetar pria itu mengangkat wajahnya untuk melihat benda-benda yang di maksud Daniel, dia sudah mengira yang di maksud hadiah oleh Daniel itu untuk menghukum nya.


''Bambu Tuan,'' lirih pria itu dengan ragu.


''Pilihan yang bagus.'' Daniel beranjak dari duduknya dan membuka jasnya, melinting lengan kemejanya dan mengambil sebuah bambu yang di pilih pria itu.


Dengan memainkan bambu itu, Daniel memutari pria itu.


''Katakan siapa yang bersama mu selama ini,'' tanya Daniel.


''Dia, seorang pria Tu-tuan,'' jawabnya dengan terbata-bata.


''Siapa?'' tanyanya lagi.


''Sa-saya tidak tau, Tuan.''


BUUGGHH.


Daniel menghantam bambu ke tubuh belakang pria itu dengan sangat kerasnya sampai bambu itu terbelah beberapa bagian. Sebuah teriak kencang dari pria itu memenuhi ruangan.


''Pertanyaan kedua, kau harus memilih lagi benda mana yang kau mau,'' ujar Daniel lagi.


''Ampuni saya Tuan,'' ucapnya begitu lirih karena menahan sakit di tubuh nya.


Cetasss.


Daniel menghantamnya lagi dengan bambu yang sama, tapi kali ini pria itu langsung tersungkur kedepan karena sudah tidak bisa lagi menahan rasa sakitnya.


Pria itu terus memohon ampun tapi Daniel tidak sama sekali mengidahkan nya Ia menganggap rengekan serta memohon ampunan ith hanya sebuah alunan musik baginya.


''Saya benar-benar tidak tahu menahu siapa orang itu Tuan, karena beliau selalu menggunakan pelindung wajah setiap bertemu dengan saya,'' ujar pria itu dengan suara yang hampir saja hilang.

__ADS_1


Daniel melihat wajah pria itu dengan tatapan menyelidik mencari kebongan tapi dia rasa pria itu berkata yang sebenarnya.


''Tidak berguna.'' Daniel melangkah kembali ke meja itu untuk mengambil tambang dan melemparkannya ke arah beberapa pria yang sedang berdiri di sudut ruangan.


''Ikat dia di sana.'' Tunjuk Daniel ke sebuah tiang yang berjarak sekitar satu meter lebih dengan tiang yang satunya.


Dengan sigap tanpa berani bertanya maupun membantah dua pria bertubuh besar itu menyeret target ke tiang yang di tujuk dan mengikatnya dengan posisi tangan yang membentang.


Suara ampunan yang begitu lirih tidak sama sekali di gubrisnya, Daniel melangkah mendekat ke arah mereka setelah para bodyguard nya telah selesai melakukan sesuai perintahnya.


Tangannya memegang pisau berukuran kecil. ''Buka baju dia,'' perintah Daniel lagi dan langsung di laksanakan bodyguard nya.


''Kau sampai tak sempat berolahraga ya rupanya, lihat perut buncit mu itu,'' Daniel menyeringai.


Teriakan kembali terdengar karena Daniel membuat sebuah lukisan di perut buncit pria itu dengan pisau kecil yang di pegangnya.


Siksaan demi siksaan di layangkan Daniel, sampai pria itu menyerah dan menghembuskan nafas terakhirnya karena tidak lagi bisa menahan sakit sakit dari siksaan Daniel.


Daniel yang tau pria itu tidak lagi bernyawa hanya berdecak kesal, dan membuang pisau itu ke sembarang tempat dan mengambil potongan pakaian pria itu untuk membersihkan darah yang ada di tangannya.


''Bereskan dia,'' setelah mengucapkan sebuah perintah, Daniel pun berlalu pergi sembari menggunakan kembali kemejanya.


''Tuan Daniel sangat kejam ya,'' bisik sala satu bodyguard.


''Selain Arogan dia juga psikopat yang kejam,'' timpal satunya.


''Maka dari itu jangan ada yang berani-beraninya untuk bermain-main dengan dia.'' Ujar Bodyguard yang baru saja datang untuk membantu membereskan jejak.


Daniel mengemudikan mobilnya dengan tenang seperti tidak terjadi apa-apa sebelum nya, mobil menuju Apartemen tempat Ia tinggal.


Di Mansion utama, seorang pria sedang berada di ruangan yang terdapat beberapa layar yang menayangkan rekaman-rekaman CCTV.


''Mereka tidak akan tahu, aku harus bermain rapih,'' gumam pria itu.


Pintu terbuka membuat pria yang sedang mengotak-atikan papan tombol keyboard terkejut.


''Kau mengejutkan saja, aku kira siapa,'' ucap pria itu dengan dengan tangan mengelus dadanya.

__ADS_1


''Bagaimana, sudah?'' tanya seorang wanita yang baru saja datang itu.


''Sudah, kau tenang saja, yang terpenting malam ini aku mendapatkan jatah ku dengannya durasi yang lebih lama.'' Ucap pria itu.


''Kau tenang saja, aku yang akan bekerja malam ini untuk mu.'' Jawab wanita itu dengan menggoda.


.


.


.


Hari sudah mulai petang, Devita dan Puspa serta Citra pekerja toko sedang membereskan tanaman-tanaman dan beberapa bunga yang terpajang di depan toko.


''Dev, kau mau ikut dengan ku tidak.'' Ucap Puspa.


''Kemana?'' tanya Devita.


''Ke Rumah Sakit,''..


''Kau sakit, Pu.'' tanya Devita dengan khawatir.


''Bukan aku, tapi Mamah.''


''Bi Perly sakit? kenapa kau tidak memberitahu ku, Puspa.'' Ucap Devita dengan suara yang tinggi.


''Isshhh, kau tak perlu berteriak, Devita.'' Dengus Puspa.


''Habisnya kau menyebalkan, Bi Pe sakit kau tidak memberitahu ku, malah kau seharian disini bersama ku,'' omel Devita, Puspa terkekeh geli karena mendapatkan omelan dari sahabat nya ituu.


''Iya, iya. Maafkan aku, ya sudah kau mau ikut tidak.'' Ucap Puspa lagi.


''Ya sudah pasti ikut lah,'' ketus Devita.


Tbc.


☘☘☘☘☘☘

__ADS_1


**Maaf ya baru Up karena baru sempat, anak ku sakit jadi harus mengurus nya dulu,, dan mohon doa untuk kesembuhan anak ku yaa😊😊😊..


Terima kasih 😘💕🙏🙏🙏**


__ADS_2