Cinta CEO Arrogant

Cinta CEO Arrogant
Curhatan Zen


__ADS_3

Budayakan Like sebelum atau setelah Membaca ya aka aka ku tersayang 😊😊


Dan tolong tinggalkan jejak komentar nya doong, biar Author lebih semangat nulisnya 😊😊😊..


Banyak maunya yaaπŸ˜„ iya emang πŸ˜†πŸ˜†


eettt satu lagi,, VOTE nya jangan lupa😁✌✌


...πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€...



...*🍁🍁🍁🍁Happy Reading🍁🍁🍁🍁*...


...----------------...


Setelah sampai di depan yang di maksud rumah oleh Puspa, Puspa tidak langsung turun dari mobil hingga membuat Kemal harus menoleh ke arahnya.


''Kenapa, kenapa kau menatap ku seperti itu?'' tanya Kemal pada Puspa yang memang sedang menatapnya.


''Kau tidak perlu mendekati ku hanya untuk mendapatkan Devita, Kemal.'' Ucapan Puspa seperti tamparan keras bagi Kemal, jadi selama ini sikap dingin Puspa, karena mengira bahwa Kemal mendekatinya hanya untuk batu loncatan saja.



Kemal menatap tajam wajah manis Puspa.


''Apa maksud mu?'' tanya Kemal, sebenarnya Ia paham dengan apa yang di utarakan Puspa, namun Kemal hanya ingin meluruskan saja.


''Aku rasa ucapan ku sudah sangat jelas. Terima kasih sudah mau repot-repot mengantar ku.'' Puspa keluar dati mobil dan berlalu begith saja tanpa menoleh lagi ke arah Kemal yang tengah menatapnya.


Kemal mengdengus kesal, kenapa pikiran Puspa mengarah kesana, padahal tidak ada sedikit pun tujuan Kemal seperti itu.


''Kalau memang seperti itu, aku jahat sekali, tapi kan, tidak.'' Ucapnya dengan lesu, bayangan Puspa sudah menghilang di makan pintu masuk.


Kemal kembali melajukan mobilnya, saat ini pikirannya lagi kalut, benar-benar kalut entah dia akan membawa kemana mobilnya kali ini.


.


.


.


Devita dan Daniel sudah berada di dalam mobil, lalu Nadia? dia sudah berlalu pergi dengan alasan ada urusan mendadak. Daniel percaya? tentu tidak karena Daniel ahlinya membaca gerak-gerik seseorang.


''Zen kau pulang lah, nanti bonusnya akan ku transfer.'' Ucap Daniel pada Zen.


''Siap Tuan,'' jawabnya dengan wajah datar.


Setelah mobil Daniel berlalu menjauh, Zen menghela nafasnya dengan kasar. Bonus? itu tidak membuat Zen senang, karena lepas melihat wajah wanita yang telah menggoyang kan hatinya itu membuat dirinya tidak lagi bersemangat.


Niat hati ingin menghilangkan total perasaan itu, tapi kenapa harus bertemu lagi dan membuat perasaan itu semakin kokoh karena nya.


''Akankah aku menjadi penghianat.'' Gumam Zen dengan hati yang sudah tidak lagi cerah.


Zen melajukan mobilnya menuju ke suatu tempat, tempat dimana Ia bisa meredakan sakit hatinya walau bersifat sementara.

__ADS_1


Mobil yang di bawanya berhenti di sebuah Club terbesar di kotanya, dengan langkah lebarnya, Zen menuju pintu masuk dan matanya tertuju di sebuah Bar, Ia duduk dengan memesan beberapa jenis bir.


Beberapa minuman beralkohol yang terkenal sangat mahal harganya pun turut di pesannya, seperti Macallan, Diva Vodka, Brandy, Wine dan masih banyak lagi.


Zen termaksud pria ahli dengan minuman, seberapa banyaknya dia minum tidak akan berbuat yang akan merugikannya, Ia hanya merasakan pusing di kepalanya saja.


Sebuah tepukan di pundaknya mengalihkan perhatiannya, dengan tatapan sayu karena pengaruh alkohol yang di konsumsi nya.


''Kau ada disini juga?'' tanya Zen dengan wajah datar nya.


''Kau minum sebanyak ini, apa tidak akan mencelakai diri mu sendiri,'' ucap Kemal.


Ya seseorang itu adalah Kemal, Ia pun sama dengan Zen tapi hanya berbeda porsinya saja.


''Aku bukanlah diri mu, Kem.'' Ketus Zen, dengan terus menenggak minuman itu.


Kemal ikut duduk di sebelah Zen, dia tanpa permisi meminum milik Zen. '' Kau sudah miskin kah?'' sindir Zen.


''Ada yang geratis, kenapa harus repot-repot membuka dompet.'' Ucapnya dengan merasa tidak bersalah telah meminum minuman milik orang lain.


''Sial!!'' Dengus Zen.


Kemal tertawa hambar, Ia masih mengingat perkataan Puspa yang sebenarnya itu adalah kesalah pahaman yang harus di luruskan.


''Ada masalah?'' tanya Zen yang menyadari expresi Kemal yang tidak biasa itu.


''Tidak,'' jawabnya singkat.


''Kau yang punya masalah, bukan.'' Tebakan Kemal sangat tepat pada Zen.


''Aku mengenalmu lebih lama ketimbang Daniel mengenal mu, jadi aku sangat tau dirimu jika sedang mengalami konflik hati ya kau akan meminum sebanyak ini.'' Ucap Kemal dengan panjang lebar.


''Ya kau benar, hati ku sedang bimbang kali ini.'' ..


''Cerita lah jika itu membuat mu tenang.'' Ucap Kemal memberi tepukan di pundak Zen lagi.


''Aku baru bisa membuka hati namun seseorang yang membuat ku jatuh hati, tidak bisa aku gapai karena ada tembok besar yang menghalanginya.'' Zen memulai dengan curhatnya.


''Aku sudah bertekat untuk mengubur dalam-dalam perasaan ini, tapi bukan nya menghilang malah semakin bertambah,'' lanjut nya.


''Kalau bukan akan menjadi penghianat, aku akan mengejarnya sampai kapan pun.'' Ucapan Zen, membuat Kemal berpikir keras, siapa yang di maksudnya.


''Apa wanita itu, milik orang terdekat mu.'' Amazing, Kemal menebak dengan tepat.


''Ya kau benar, aku tidak ingin menjadi penghianat.'' Ucapnya dengan lesu.


''Devita kah?'' tebakan Kemal sangat-sangat tepat, Zen menoleh ke arahnya dengan wajah yang memerah.


''Kenapa kau bisa mengarah ke sana?'' tanya Zen tanpa menjawab ucapan Kemal.


''Karena feeling, benar bukan?''..


Zen tidak menjawab nya, tapi dengan kebungkaman Zen, Kemal sudah sangat mengerti.


.

__ADS_1


.


.


Devita sedang menata belanjaannya ke dalam lemari es, dari daging, ikan seafood dan yang lainnya, Ia simpan dengan rapih.


Daniel membantu mengeluarkan barang-barang yang lainnya.


''Vita,'' panggil Daniel.


''Ya, kenapa?'' masih sibuk menata bahan panganan.


''Apa saja yang di bicarakan Nadia, kala dia mengunjungi toko mu.'' ..


''Yaa, hanya mengobrol saja, tidak lebih.'' Ucap Devita sesuai dengan kenyataan.


''Benarkah?''..


''He'em, kenapa sih.''..


''Tidak, tidak ada.''..


Keduanya pun diam, karena ingin cepat menyelesaikan pekerjaannya.


Setelah menyelesaikan bebenahnya, Daniel dan Devita sedang menikmati teh hijau yang di buat Devita, Ia sedang di ruang tamu dengan menonton drama favorit nya.


''Vita,''


''Emmm,''..


''Kau pernah berpacaran?'' tanya Daniel membuat Devita langsung menoleh ke arahnya.


''Kau lah pacar pertama ku, Daniel.'' Jawaban Devita membuat Daniel bangga dengan dirinya sendiri.


''Tapi teman dekat ada, kita berhubungan tanpa adanya setatus, dan kami menjauh karena Ia melanjutkan pendidikan nya di luar negeri.''


Yang semula Daniel menyunggingkan senyum dan setelah Devita melanjutkan ucapnya, senyum itu memudar.


''Kau mencintai nya?'' tanya Daniel dengan serius.


''Aku tidak mengerti perasaan cinta itu seperti apa, yang jelas aku sempat merasa kehilangan diri nya.'' Ucap Devita jujur.


''Tapi perasaan kehilangan itu, apa masih ada?'' tanya Daniel lagi.


''Tidak, bahkan aku tidak lagi mengingatnya, kalau kau tidak membahasnya.'' Ucap Devita dengan mata yang masih fokus dengan drama favorit nya.


Daniel tersenyum senang mendengar nya, berarti tidak menutup kemungkinan kalau Devita akan mencintai nya karena terbiasa dekat dengannya.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Yeayyyy Hari ini Othor crazy up kan, karena bias favorit Othor lagi ulang tahuunn😊😊😊😊😊...


Ga nyambung ya, ya memang. tapi dengan hati Othor yang sedang bahagia mempengaruhi Othor untuk crazy upπŸ’ƒπŸ’ƒπŸ’ƒπŸ’ƒ


Terima kasih sudah setia untuk membaca karya receh kuu😊😊..

__ADS_1


Salam sayang dari Othor Nurmay😘😘😘😘


__ADS_2