Cinta CEO Arrogant

Cinta CEO Arrogant
TRANSFUSI


__ADS_3

Wajah khawatir serta panik sangatlah kentara di wajah Kemal, ia melirik Daniel yang sedang menatapnya dengan tajam.


''Ada apa Kem?'' tanya Zen yang melihat wajah pucat Kemal.


Kemal tidak menjawabnya, dia kembali melirik Daniel.


''Ada apa kau terus melirik ku,'' tegas Daniel.


''Ka kita harus ke rumah sakit sekarang,'' Kemal berbicara dengan takut.


''Ada apa?'' tanya Daniel yang terlihat terkejut juga.


''De-Devita kecelakaan,'' ucapan Kemal membuat Daniel duduk dengan lunglai, Zen yang mendengar nya ikut mengkhawatirkan Devita.


''Daniel, ayo kita ke rumah sakit!!'' ucap Zen dengan meninggikan suaranya.


Daniel yang lemas dengan wajah yang sudah berubah warna tidak menjawabnya tapi dia langsung berlalu pergi meninggalkan Zen dan Kemal.


Zen dan Kemal berlari menyusul Daniel yang sedang terpukul itu.


''Ka menggunakan mobil ku saja,'' teriak Kemal.


Kemal dan Zen menambahkan kecepatan jalannya untuk menyamakan langkah Daniel.


Mereka berangkat dengan menggunakan mobil Kemal, yang Kemal lah sebagai supirnya, terlihat sekali wajah Daniel yang benar-benar khawatir dengan Devita, saat Kemal melihat kaca spion yang berada di atas kepalanya untuk melihat Zen yang berada di kursi belakang, alisnya menyatu.


'Kenapa wajah Zen ikut panik?' batin Kemal yang merasa heran.


''Cepat!!'' bentak Daniel, Kemal yang mendapat bentakan menambahkan kecepatan lajunya.


''Mengendarai mobil seperti mengendarai sepeda roda tiga,'' cetus Zen yang ikut kesal karena Kemal mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang.

__ADS_1


'Aku kan hanya mematuhi rambu lalu lintas.' gerutu Kemal dalam hati.


'Kali ini kau sudah sangat keterlaluan, Nadia.' batin Zen, tangan Zen mengepal dengan kencang, dia menduga kalau Nadia lah yang telah mencelakai Devita, ia sangat yakin akan hal itu.


Dua puluh menit perjalanan akhirnya Kemal menghentikan mobilnya di sebuah rumah sakit yang berada tidak jauh dari kampus tempat Devita kuliah.


Tanpa mengucapkan satu kata pun, Daniel dan Zen keluar dan berlari menuju dalam rumah sakit.


''Dimana ruangan atas nama Devita Maharani?'' tanya Daniel dan Zen berbarengan.


Rasa khawatir Zen tidak bisa di sembunyikan kali ini, ia benar-benar khawatir dengan Devita, perasaan nya untuk Devita masih tertanam rapih di dalam dirinya.


Daniel menatap Zen dengan nyalang, tapi ia tidak mempermasalahkan nya kali ini, karena Daniel sadar, bukan waktunya ia mempermasalahkan itu karena ini waktunya ia memikirkan kekasihnya yang sedang berada di dalam sana.


''Kemal, disini!!'' teriak Puspa dari arah ruang UGD.


Kemal Daniel dan Zen menoleh dengan kompak, tiga pria itu langsung berlari dengan seribu langkah.


''Devi sedang di tangani Dokter, lukanya sangat parah bahkan dia belum sadarkan diri juga sampai sekarang,'' jawab Punya dengan isakan tangisnya, terlihat kepala Puspa yang juga di perban dan banyak luka di kaki serta lengannya.


Sudah di pastikan bukan hanya Devita yang menjadi korban tapi Puspa juga.


''Bagaimana dengan kamu?'' tanya Kemal yang khawatir melihat kondisi kekasihnya juga.


''Aku tidak apa-apa, tapi Devi, hiks.'' Puspa kembali menangis, Kemal dengan sigapnya membawa Puspa ke dalam pelukannya, karena Kemal tahu Puspa sedang ketakutan karena terlihat dari cara Puspa berdiri dengan kaki yang bergetar.


''Apa yang terjadi!!'' Bentak Daniel sampai Puspa tersentak karena terkejut mendengar bentakan Daniel.


''Kau tidak perlu membentak pacar ku, Kak!!'' jawab Kemal yang ikut bicara dengan suara yang meninggi.


Baru kali ini Kemal berani berbicara dengan menaikan nadanya pada Daniel, karena rasa tidak terimanya kekasihnya di bentak seperti itu.

__ADS_1


''Kakak?'' ucap Puspa dengan heran.


''Ayo kita duduk disana,'' ajak Kemal yang membawa Puspa ke kursi panjang depan ruangan UGD.


''Sialan!!'' Daniel ingin melangkahkan kakinya menuju Kemal tapi dadanya di tahan Zen.


''Ini Rumah Sakit bukan arena boxing,'' tegas Zen.


''Tapi dia sudah berani meninggikan suaranya padaku,''


''Kau yang salah, kenapa kau membentak Puspa sedangkan Puspa juga terluka.'' Zen memberi pengertian itu ada Daniel, Daniel yang tidak bisa mengontrol emosinya memang kerap sekali membentak seseorang tanpa sadar.


Seorang Dokter keluar dari ruangan itu, Daniel dan Zen langsung menghampiri nya.


''Keluarga saudari Devita Maharani?'' tanya Dokter muda itu.


''Ya saya calon suaminya,'' jawab Daniel dengan cepat, Zen menoleh saat mendengar Kata-kata yang menyakitkan di telinganya.


''Kita butuh kehadiran Ayah kandung nya atau keluarga intinya, karena Saudari Devita kehilangan banyak darah dan kita butuh transfusi darah secepatnya,'' ucao Dokter itu.


''Tapi Paman Mahendra mempunyai riwayat sakit jantung,'' ucap Daniel dengan frustasi.


''Apa orang yang anda sebutkan itu, Ayah dari pasien?'' tanya Dokter dan di angguki Daniel.


''Seorang yang mempunyai riwayat sakit jantung tidak bisa mendonorkan darahnya, stok darah yang sama dengan pasien tidak tersedia saat ini dan jenis darah pasien sangatlah langka, hanya ada 43 orang yang di laporkan memiliki darah yang sama dengan pasien,'' jelas Dokter.


''Memangnya darah Devita apa?'' tanya Zen.


''Rh-null atau bisa di sebut Golden Blood, darah yang paling langka di seluruh dunia,'' jawab Dokter itu.


''Rh-null? Nadia.'' Cetus Zen, Daniel yang mendengar ucapan Zen langsung menoleh dengan cepat, Ia juga baru ingat bahwa Nadia memang memiliki darah yang sama yang di ucapkan Dokter itu.

__ADS_1


__ADS_2