
Kewaspadaan Daniel membuat nya selamat dari maut yang ternyata orang itu sudah menggenggam pisau di tangannya dan bersiap untuk menikam Daniel dari belakang tapi ternyata Daniel sudah mengetahui keberadaan nya.
Dengan santainya Daniel masuk ke unit apartemen nya yang ternyata Istrinya sudah menunggu di ruang tv lengkap dengan mangkuk dan peralatan makan lainnya.
'' Honey, ternyata kau sudah siap,'' ucap Daniel yang baru saja masuk.
'' Kemana saja kau Daniel, lama sekali aku menunggu,'' rengek Devita.
'' Sangat sulit mencarinya, honey. Tapi kau tenang saja, lihat apa yang aku bawakan untuk istri dan calon anakku ini,'' ucap Daniel menunjukkan paperbag di tangannya.
Mata Devita berbinar senang menatap paperbag ditangan Daniel dengan tatapan mendamba.
Daniel yang melihat istrinya sudah tidak sabar lagi untuk memakannya dia pun segera memindahkan bakso buatan Koki itu ke wadah yang sudah Devita siapkan itu.
Tanpa permisi lagi Devita menerobos dan merebut mangkuk agar lebih dekat dengannya. '' Pelan-pelan honey, aku tidak akan merebut nya,'' ucap Daniel dengan mengusap lembut kepala Devita.
'' Ini sangat lezat, Daniel,'' ucap Devita dengan mulut penuh.
'' Makanlah, aku akan membersihkan diri dulu,'' ucap Daniel yang langsung berlalu ke arah kamarnya yang ada di lantai dua.
Devita meneruskan makannya sampai habis tak tersisah. '' Haaaah, kenyang sekali,'' ucapnya setelah menghabiskan semua bakso beserta kuahnya.
Beberapa saat kemudian Daniel sudah kembali dengan penampilan yang berbeda, dengan memakai kaus serta celana pendej berkantung nya.
'' Honey, bersiap lah dulu,'' ucap Daniel yang sedang menuruni anak tangga.
'' Memangnya kita mau kemana?'' tanya Devita.
'' Kita akan ke Mansion Ayah, aku sedang ada urusan, kamu aku titipkan ke ka Dinar dulu ya,'' ucap Daniel dengan lembut.
'' Aku disini saja, tidak apa kau pergilah,'' sahut Devita.
Daniel terdiam dia mengkhawatirkan keadaan istrinya karena takut terjadi sesuatu yang tidak di inginkan.
'' Tidak honey, aku tidak akan tenang jika meninggalkan mu saat ini, lagipula ka Dinar tadi menelpon ku katanya dia akan membuat kue coklat dan ka Dinar mau kau membantunya.'' Ucap Daniel dengan sedikit berbohong.
'' Benarkah? kalau begitu aku akan besiap-siap dengan cepat, kau tunggu disini ya,'' ucap Devita dengan riang dan beranjak menuju kamarnya.
'' Hati-hati, jangan berlari,'' teriak Daniel yang khawatir dengan Devita.
Setelah bersiap, Devita menghampiri kembali suaminya dan mereka pun berlalu berangkat menuju kediaman Frans Carroll, Ayah Daniel Carroll.
Selama di perjalanan Daniel terus waspada, sesekali dia melirik ke belakang lewat kaca yang ada di atas kepalanya.
Devita merasa aneh dengan sikap suaminya karena tidak biasanya Daniel mengunci mulut nya jika sedang bersamanya.
'' Daniel, kau sakit?'' tanya Devita.
'' Sakit? tidak, kenapa honey?''
'' Aku perhatikan sedari tadi kau diam saja, dan apa yang sebenarnya kau lihat,'' ucap Devita yang memutar tubuhnya untuk melihat kebelakang.
'' Honey, duduklah yang tenang, kasihan anak kita,'' ucap Daniel yang tidak ingin Devita tau bahwa ada bahaya yang mengancam.
Daniel menghubungi seseorang dan mengatakan dengan kata-kata rahasia sampai Devita sendiri tidak mengerti maksud dari ucapan Daniel.
'' Daniel, kau menghubungi siapa? dan apa maksud dari siaga 1 dan segera,'' ucap Devita meminta penjelasan.
'' Tidak sayang, aku hanya menghubungi orang ku untuk mengurus urusan cabang kantor ku saja,'' alasan Daniel dan Devita hanya ber'oh ria tanpa merasakan kecurigaan yang berlanjut.
Setelah mengantarkan Devita serta menitipkan nya pada kakak nya, Daniel pun berpamitan pergi dan meninggalkan mansion.
Di sebuah ruangan bercat abu-abu, seorang wanita sedang duduk dengan berhadapan beberapa berkas di tangannya.
Tiba-tiba ponselnya berdering sampai membuat nya berdecak kesal.
'' Ck, mengganggu saja,'' ucapnya yang lang menggapai ponselnya yang sedang di isi daya.
'' Ya halo,'' ucapnya.
'' Maa Roy, alu sedang sibuk, lain kali saja ya,'' ucapnya lagi.
'' Sekarang aku yakin Kau benar-benar berubah setelah menangani perusahaan orang tua mu,'' ucap Pria yang bernama Roy itu.
'' Tidak Roy, bukan begitu, aku benar-benar sibuk saat ini,'' tangkis Linda, ya wanita itu adalah Linda.
'' Tidak apa Linda, aku mengerti, yasudah aku tutup dulu ya,'' ucap pria yang bernama Roy itu yang langsung memutuskan sambungan telepon.
Linda menghela nafasnya dengan panjang ia merasa lelah dengan semuanya tapi janji kepada sang Paman bahwa dirinya akan berusaha untuk mengembangkan perusahaan agar semakin maju itu lah yang membuat tekat untuk semangat.
__ADS_1
'' Kau berhubungan dengan ku sudah hampir tiga tahun, tapi kenapa sampai saat ini kau tidak pernah mengerti dan mendukung ku,'' gumam Linda dengan mata yang melihat sebuah potret yang ada di galeri ponselnya.
Kembali lagi pada Daniel yang sedang menuju sebuah markas, di sana para pengawalnya sedang menawan seorang pria bertubuh kurus dengan tangan yang di ikat dan mata yang di tutup.
Daniel menghentikan mobilnya tepat di pelataran markas nya, dengan di sambut para pengawalbyang bertubuh kekar Daniel berkalan dengan gagah menuju ruangan yang terdapat tawanannya.
'' Selamat datang Tuan Carroll,'' ucap sala satu pengawalnya.
'' Bagaimana? dia sudah membuka mulut nya,'' ucap Daniel yang sudah duduk di kursi yang telah di sediakan para orang nya.
'' Belum Tuan, dia mengunci mulutnya dengan rapat,'' jawab Pengawal itu.
'' Bodoh! mengurus cecunguk satu ini saja kalian tidak mampu,'' maki Daniel yang membuat beberapa prua berpakaian serba hitam itu tertunduk takut.
Daniel beranjak dari duduknya dan menghampiri seorang pria yang duduk di tengah ruangan dengan tangan serta kaki yang terikat.
'' Apa benar kau mengunci mulutmu, hem,'' tanya Daniel, dan pria itu tetap diam.
'' Apa kau benar-benar mau mulut mu terkunci selamanya.'' Ucap nya lagi namun dengan nada tegasnya.
Pria itu duduk dengan gemetar mendengar ucapan Daniel yang bernada menyeramkan itu.
'' Tu-tuan tolong Ampuni saya,'' ucapnya dengan gemetar.
'' Ampun? hemmm boleh, tapi katakan lah dengan benar, kenapa kau mengikuti ku sedari kemarin,'' ucap Daniel dengan nada sedikit menurun.
'' Sa-saya hanya di tugaskan untuk menyetir Tuan, saya tidak tau apa-apa,'' jawabnya masih dengan tubuh yang gemetar.
'' Di tugaskan? siapa yang menugaskan mu?''
'' Sa-saya tidak tahu Tuan,'' jawabnya.
Kesabaran Daniel sidah hampir habis karena pertanyaan nya tidak terjawab seperti apa yang dia inginkan, dengan tatapan tajam dan tangannya mengeluarkan senjata api yang sama membunuh orang yang mengikuti nya tadi.
'' Apa kau mau berakhir sama dengan kawan mu, hah!!'' ucap Daniel dengan nada yang meninggi.
'' Ti-tidak Tuan, baik-baik saya akan mengatakan nya tapi saya mohon bebaskan saya, saya memiliki anak juga istri, ampuni saya.'' Jawab Pria itu dengan takut.
'' Cepat katakan!!'' bentak Daniel.
'' Tu-tuan Ba-Barta, dialah yang membayar ku untuk mengikuti mu, Tuan,'' jawaban Pria itu membuat Daniel menyeringai dan tertawa dengan kencang.
'' Lepaskan dia,'' perintah Daniel pada anak buahnya.
'' Tapi bos, dia kan musuh Tuan, jangan percaya ucapannya tuan,''
'' Lepaskan dia!!'' bentak Daniel.
'' Baik bos,''
Anak buah Daniel menuruti ucapan Daniel dan melepaskan semua ikatan juga penutup mata pada tawanannya.
'' Terima kasih Tuan,'' ucap pria itu dengan senang dan segera berlari keluar ruangan namun tiba-tiba dia tergeletak dengan bersimbah darah yang keluar dari belakang kepala nya.
Semua anak buah Daniel terkejut melihatnya nya dan ternyata itu adalah ulah Daniel yang menghabisi nyawa orang itu dengan senjatanya.
'' Bodoh!! kau kira aku bisa di tipu,'' gumam Daniel memasukkan kembali senjatanya ke dalam saku celananya.
'' Bereskan dia,'' titqh Daniel yang segara pergi dari sana dengan mobilnya.
Semua anak buah Daniel masih tercengang melihatnya, ada yang sudah memahami Daniel dan ada juga yang baru mengetahui kekejaman serta kegilaan Daniel, bos mereka.
'' Bos benar-benar sangat berbahaya,'' ucap sala satu pengawal.
'' Kau baru mengetahui nya kan, bahkan dia bisa lebih gila lagi dari ini,'' timpal yang lainnya.
Di kesibukan Daniel yang mengurus masalah kecil itu, ada Zen yang telah di tugaskan untuk menhandle pekerjaan nya dan mengirimnya ke perusahaan cabang yang ada di Perancis.
Semenjak kepergian Linda, Zen menjadi seorang pria yang lebih tertutup juga lebih dingin, tidak ada senyum lagi di wajahnya, keramahan nya pun sudah sirna.
Hari ini Zen sedang di kirim Daniel untuk mengambil tanggung jawab untuk memenangkan tander besar.
Dan ternyata Zen telah berhasil memenangkan tander itu, besok adalah jadwal Zen pulang kembali ke negara nya dan saat ini Zen berada di sebuah restoran karena akan bertemu dengan klien yang lainnya.
Menunggu dengan di temani segelas kopi dan mata yang bertengkerkan kaca mata hitam yang terus menatap layar ponsel nya.
'' Permisi, apa kau pihak dari DL Corp,'' ucap seorang wanita dengan pakaian formalnya.
Zen mengangkat kepala nya dan menatap langsung wajah sang pemilik suara itu.
__ADS_1
Mata wanita itu melebar karena terkejut melihat pria yang di duduk di depannya itu.
'' Tu-tuan Zen,'' lirih wanita itu yang ternyata dia adalah Linda.
Zen juga sama terkejut nya namun dia tidak ingin bereaksi berlebihan, dengan kaca mata hitamnya yang sedikit membantu menyembunyikan mata terkejut nya, Zen berdiri dengan santai.
'' Selamat sore Nona Linda, silahkan duduk,'' ucap Zen dengan reaksi biasa saja.
Linda duduk dengan gugup, namun dengan sikap profesional Linda pun duduk dengan tenang.
Mereka pun hanya membahas pekerjaan dan setelah selesai dengan apa yang perlu di bahas, Linda segera berpamitan pergi namun ucapan Zen membuat nya mengurungkan diri untuk beranjak.
'' Kau pergu tanpa berpamitan pada ku, apa kau mempunyai masalah dengan ku,'' ucap Zen.
'' Maaf Tuan Zen, kita hanya membahas masalah pekerjaan saja dan untuk masalah pribadi saya tidak akan membahas nya, saya permisi,'' Linda beranjak dan pergi meninggalkan Zen yang tengah menatapnya dengan tatapan yang sangat sulit di artikan.
Zen kembali memegang ponselnya dan menelpon seseorang di sana.
'' Tuan, saya akan pulang 3 hari lagi, karena ada sesuatu yang harus saya kerjakan disini,'' ucap Zen.
'' Baik tuan,'' Zen pun menutup sambungan telepon.
'' Sikap kau membuat aku muak,'' gumam Zen dan dia pun pergi dari restoran itu.
Di mobil merah Linda duduk di belakang kemudi dengan nafas yang sesak.
'' Ini sulit di terima, dia ada disini? tidak, tidak.'' Ucap Linda dengan sendiri.
Linda terlihat syok ia benar-benar tidak menyangka kalau pria yang sangat di bencinya itu muncul kembalu di hadapannya, ucapan Zen selalu teringat jelas di otaknya.
Sangat Gampang menghilang kan sakit di tubuh tapi sangat sulit menghilangkan sakit di hati, itulah perasaan Linda saat ini.
'' Bagaimana bisa, tapi DL Corp kenapa aku tidak tahu kalau perusahaan itu juga milik Daniel,'' gumam Linda.
Linda menancapkan gasnya menuju rumah yang sangat mewah peninggalan orang tuanya.
Di sebuah hotel yang Zen tinggali sementara di negara sana, dia duduk dengan tatapan datarnya, melepaskan kancing kemejanya dengan cepat karena rasa kesal ataupun apa itu yang saat ini Zen rasakan.
'' Dia benar-benar tidak berubah,'' gumamnya.
Tubuh gagahnya ia pampang dengan jelas di cermin di kamar nya, melihat dirinya sendiri di pantulan cermin dengan raut yang datar.
'' Apa ini sebuah takdir, tapi memang jika ini takdir aku akan menjalankan nya dengan semestinya, namun jika ini hanya sebuah kebetulan aku harap ini adalah takdir yang tertulis,'' ucap Zen yang berbicara dengan dirinya sendiri.
Malam ini seharusnya ia sudah berkemas namun kepulangan nya dia undur hanya untuk sesuatu yang bahkan hanya Zen sendiri yang tahu alasannya.
Malam yang sudah terlampau larut namun belum juga bisa membuat pemilik mata bermanik coklat itu terpejam. Apapun telah di lakukan nya dari berolahraga malam sampai membaca buku bertujuan untuk segera mengantuk dan tertidur tapi usahanya sia-sia.
Sudah hampir menjelang pagi, namun mata Zen seakan tidak mau terpejam, pikiran nya terganggu dengan wajah manis milik Linda yang tadi di temuinya.
'' Kenapa wanita itu selalu saja mengganggu pikiran ku,'' gerutu Zen.
'' Baiklah aku akan menemuinya besok,'' gumam Zen.
Dia memejamkan matanya dan beberapa saat kemudian diapun terlelap terbuai dalam mimpinya.
Matahari sudah tinggi, namun Zen belum juga terbangun karena terus terjaga dari tidurnya semalaman.
Sebuah ketukan di pintu membuat Zen terpaksa bangun dari ranjang empuknya.
'' Siapa!!'' teriak Zen.
Zen pun membukakan pintu yang ternyata seorang wanita yang di utus dari cabang perusahaan yang membawakan sebuah berkas di tangannya untuk di tandatangani Zen.
'' Ini masih pagi tapi kau malah kesini,'' omel Zen.
'' Maaf Tuan Zen ini sudah jam 11 siang.'' Jawab wanita itu dan membuat mata Zen membelalak.
'' Jam 11 siang, astaga. Kau pergilah aku akan bersiap,'' ucap Zen yang langsung menutup pintunya dengan kencang.
'' Astaga, aku melihat tubuh Tuan Zen langsung,'' gumam wanita itu.
Ya Zen mempunyai kebiasaan yang tidur tidak pernah menggunakan pakaian dia hanya menggunakan celana pendek saja.
'' Rezeki nomplok,'' gumam Wanita itu yang masih saja membayangkan tubuh gagah Zen.
Zen mandi dengan kilat dan bersiap pun dengan cepat, setelah selesai bersiap Zen pun berlalu dari kamar hotelnya dengan mobil yang di sediakan perusahaan menuju suatu tempat.
TBC...
__ADS_1