
Dengan cepat Kemal turun dari mobil dengan membawa laptop ditangan nya yang berniat ingin kembali menemui Daniel kembali di dalam Rumah Sakit.
Nadia dan Mirna yang masih berada di depan ruangan dokter menatap heran dengan kembalinya Kemal yang tergesa-gesa.
Panggilan dengan sebutan tak pantas keluar dari mulut Mirna untuk Kemal, tapi Kemal tidak mengidahkan panggilan dari Ibu tirinya begitu juga panggilan Nadia, Kemal masuk ke ruangan Dokter begitu saja.
''Ka Dinar Tuan Daniel, aku ada sesuatu, coba lihat.'' Ucap Kemal dengan menaruh laptop nya di atas meja sofa, namun saat dia ingin membuak laptop nya Kemal melirok ke arah dokter itu.
Daniel mengerti dengan arti dari lirikan Kemal.
''Kau tinggalkan kami bertiga disini, bisa kan?'' ucap Daniel pada dokter itu.
''Baik Tuan, saya mengerti.'' Dokter sang milik ruangan keluar dari ruangannya sendiri dengan pasrah.
''Lanjutkan cepat,'' ucap Daniel setelah memastikan pintu tertutup rapat.
''perhatikan baik-baik, ini kaka kan?'' tanya Kemal pada Dinar.
''Iya itu kakak sedang membuat susu untuk Ayah,'' jawab Dinar dengan tenang.
''Setelah aku teliti lebih jelas, ada rekaman yang menghilang atau bisa di bilang ada yang sengaja menghilangkannya.'' Ucap Kemal, Daniel dan Dinar saling pandang dan memperhatikan rekaman di laptop Kemal.
''Apa keamanan di Mansion kurang, sampai terjadi insiden seperti ini,'' gumam Dinar membenarkan ucapan Kemal.
''Bedebah, siapa yang berani bermain-main dengan ku,'' gigi Daniel mengerat kencang menandakan kemarahan dia.
''Kamu harus lapor polisi Niel,'' ujar Dinar.
''Heh, polisi. Aku yang akan mengurusnya ka, kinerja anak buah ku lebih bagus ketimbang yang berpangkat.'' Jawab Daniel.
__ADS_1
''Aku boleh usul,'' ucap Kemal.
''Silahkan,'' ketus Daniel.
''Kita akan mengetahui dalangnya siapa kalau kita berlagak tidak tahu apa-apa, jangan sampai orang luar terkecuali kepercayaan kita mengetahui kalau kita sudah tau rekaman yang terhapus ini.'' Ucap Kemal panjang lebar.
Daniel dan Dinar mengangguk setuju, mereka pun keluar ruangan dengan wajah yang biasa lebih tepatnya tanpa expresi.
''Ka Dinar, Kemal dia kenapa, dia kembali ke ruang dokter dengan tergesa-gesa dan dokter Bram keluar tanpa kalian,'' tanya Nadia yang ingin tahu.
''Nanti aku ceritakan ya Nad, tapi jangan sekarang,'' jawab Dinar dengan lembutnya.
'Apa yang mereka bicarakan sampai seserius itu,' batin Nadia.
''Ibu dimana?'' tanya Dinar pada Nadia.
''Bibi Mirna di dalam ka,'' jawab Nadia, Dinar menatap heran, sejak kapan Ibu nya perduli dengan Ayah nya.
Pandangan teduh saat mereka masuk dan melihat Mirna yang sedang duduk di samping brangkar tempat Ayah mereka terbaring lemas itu, terkecuali Daniel, Ia menatap tidak suka wanita paruhbaya itu berada disana.
Mirna yang menyadari kedatangan mereka langsung beranjak dari duduknya dan berlalu begitu saja tanpa mengucapkan apapun.
Daniel melangkah mendekati brangkar sang Ayah, mengusap lengan Ayah nya tanpa membuka suaranya, terlihat di wajah Daniel kalau Ia sangat menyayangi Ayah nya, tapi Ia tidak bisa mengexpresikan perasaan yang di rasakan nya.
''Niel, ponsel mu sedari tadi bergetar, angkatlah dulu siapa tahu itu Devita.'' Ucap Dinar yang memang sedari tadi mendengar getaran ponsel Daniel.
Tanpa bicara apapun Daniel berlalu setelah melihat nama yang menghubungi nya beberapa kali itu.
''Ya baby, kau sudah tidak ada kelas,'' ucap Daniel setelah mengangkat panggilan Devita.
__ADS_1
''Daniel kau kemana saja, aku sedati tadi menghubungi mu.'' Ucap Devita di sebrang sana.
''Apa kau merindukan ku,'' goda Daniel.
''Tidak, aku hanya ingin bilang kalau aku sudah berada di Toko bunga,'' Devita berbicara dengan nada yang di pastikan sedang merajuk.
''Astaga, Maafkan aku ya sayangku, aku ada meeting dadakan.'' killah Daniel.
''Hemmm, kalau begitu aku tutup ya, byee.'' Devita menutup sambunganii telepon itu tanpa menunggu jawaban Daniel.
Daniel tersenyum gemas dengan merajuknya Devita.
Saat kakinya ingin melangkah kembali masuk ke ruangan sang Ayah, ponsel Daniel kembali berdering tapi kali ini yang menghubungi adalah Zen.
''Tuan maaf menganggu, saya hanya ingin menyampaikan kalau pria itu sudah saya amankan di markas,'' ujar Zen.
''Ya, aku akan kesana.'' Daniel menutup saluran telepon itu dengan sepihak.
''Daniel,'' panggil Nadia yang baru saja keluar dari ruangan.
Daniel menoleh tanpa menjawab.
''Niel, temani aku makan siang ya,'' rengek Nadia.
''Maaf Nad, aku tidak bisa karena ada urusan mendadak,'' tolak Daniel dengan halus.
''Kau berubah Daniel, kau bukan Daniel yang aku kenal bahkan untuk menemani ku makan saja enggan.'' Ucap Nadia dengan menekuk wajah nya sedih.
''Aku akan menemani mu makan, tapi tidak sekarang, karena ini urusan genting, ok.'' Daniel mengusap kepala Nadia, dan berlalu pergi.
__ADS_1
Nadia mendengus kesal. ''Genting kau bilang, aku tau kau ingin menemui gadis kampungan mu itu kan.'' Gumam Nadia dengan kesal.