
Perasaan yang hancur berkeping-keping karena merasakan sakit di hatinya saat melihat orang yang di sayang nya sudah memilih tempatnya melabuhkan hatinya.
Dengan langkah yang di seret, tanpa sadar Jonathan melangkahkan kakinya menuju kamar yang berada satu lantai dari Devita, yaitu kamar Amaira gadis yang sedang mengalami skandal di kampusnya.
''Jonathan, kau kembali?'' ucap Amaira dengan senang, namum bibir yang melengkung tidak bertahan lama karena merasa heran dengan raut wajah Jonathan.
''Kau kenapa?'' tanya Amaira.
''Tidak, aku hanya merasa dunia ku telah hancur.'' Ucap Jonathan yang langsung duduk di sofa yang berada di sudut ruangan.
''Kau sakit, Nathan.'' tanya Amaira dengan memanggil namanya berbeda dengan yang lain.
''Kau memanggil ku apa?''
''Nathan, kenapa? tidak suka ya.''
''Bukan, ya lumayanlah.''
Saat Amaira ingin membuka mulut menanggapi ucapan Jonathan tiba-tiba Seseorang masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dulu.
''Ayah,'' lirih Amaira setelah melihat orang yang masuh tanpa mengetuk itu adalah Ayah nya.
''Bagaimana keadaan mu?'' tanya Pria yang sudah tidak muda lagi itu.
''Aku sudah membaik yah, apa Ayah ingin membawa ku pulang kerumah?'' Mata lentik itu berbinar senang melihat Ayah nya datang dan mengharapkan sang Ayah akan membawanya lagi.
''Tidak Amaira, Ayah kesini hanya mengurus administrasi dan mengurus berkas-berkas yang perlu Ayah tanda tangani, setelah nya kau harus pulang ke rumah bibi mu di kota Thorn ( kota kecil di provinsi Limburg di negara Belanda).'' Ucapan sang Ayah merubah expresi Amaira dengan sekejap, ternyata harapannya terpatahkan.
''Tapi Ayah,'' ucapan Amaira di potong Sang Ayah.
''Nak kau harus mengerti posisi Ayah saat ini, Ayah tidak ingin terlibat dengan masalah skandal mu karena saat ini sedang masa kampanye, Ayah tidak ingin karena skandal mu Ayah akan diskualifikasi dari pemilihan ini,'' pria tua itu berusaha memberikan pengertian pada sang Putri, tanpa menyadari kehadiran orang lain yang sedang memperhatikan di sofa sudut ruangan itu.
Amaira menundukkan kepalanya dalam-dalam, dia sangat sedih karena sang Ayah tidak memperdulikan nya tapi sangat mempedulikan reputasi nya sebagai calon walikota di kotanya, pemandangan itu tak lolos begutu saja dari mata elangnya seorang Jonathan.
__ADS_1
''Ekhemmm,'' sebuah deheman membuat pria tua itu tersentak kaget karena tidak menyangka ada orang lain di antara mereka disana, dia beranjak dari duduknya dan menyimpan ponselnya di saku celananya.
''Maaf Tuan karena telah mendengarkan pembicaraan kalian dengan sengaja, tapi menurut saya, kau sudah sangat keterlaluan memperlakukan putri mu sendiri seperti itu.'' Ucap Jonathan dengan kaki yang semakin mendekat ke arah anak dan Ayah itu.
''Siapa kau berani ikut campur dengan masalah ku,'' ada raut tidak suka di wajah yang sudah mulai tumbuh garis-garis halus itu, karena Jonathan dengan terang-terangan ikut campur masalah nya.
''Saya, saya hanya orang luar di antara kalian, tapi setidaknya saya sangat prihatin dengan sikap Anda itu,'' ucap Jonathan tanpa rasa takut, wajah datar tanpa expresi itu sudah berhadapan dengan Ayah dari Amaira.
''Apa maksud mu?'' tanya Ayah Amaira.
Jonathan mengeluarkan lagi ponsel nya dari kantung celana jeansnya dan langsung menunjukkan sebuah potongan vidio, yang ternyata potongan vidio dari pembicaraan dia dengan anaknya barusan.
Wajah yang semula garang seketika berubah pucat pasih dengan di barengi kringat yang bermunculan di pelipis nya dengan tiba-tiba.
''Kenapa kau berkeringat padahal ac di ruangan ini sangatlah dingin.'' Ujar Jonathan yang sudah kembali memasukan ponsel nya ke dalam saku celananya.
''K-kau merekamnya? aku bisa melaporkan mu de-dengan tuduhan perbuatan yang tidak menyenangkan terhadap ku,'' ucap Ayah Amaira dengan tergagap.
''Nathan, sudah biarkan saja. Ayah, ayah bisa pulang sekarang aku butuh istirahat.'' Ucap Amaira dengan wajah sedihnya.
Alis Jonathan menyatu karena heran dengan ucapan Amaira yang seakan-akan tidak mempermasalahkan perilaku sang Ayah terhadapnya.
''Ya sudah, Ayah pamit ya nak, masalah tiket penerbangan mu sudah di urus asisten pribadi Ayah, Ayah menyayangimu.'' Pria tua itu berlalu begitu saja tanpa menunggu jawaban sang anak.
''Amaira, apa yang kau lakukan, bukannya kau ingin sekali kembali kerumah mu,'' ucap Jonathan yang tidak habis pikir dengan sikap Amaira.
''Nathan aku lelah, aku ingin istirahat,'' ucapnya dengan lirih, Jonathan mengerti maksud sikap Amaira yang tidak ingin membahas masalah itu dulu saat ini.
Jelas terlihat kesedihan disana, dan sangat terlihat ada raut kasih sayang yang tulus dari Amaira untuk sang Ayah.
.
.
__ADS_1
.
Di ruangan Devita.
''Sebentar aku hubungi Linda sebentar ya,'' izin Daniel pada Devita.
Devita hanya mengangguk mengerti.
Daniel terus menghubungi nomor Linda yang sedari tadi tidak menjawabnya, pada akhirnya Daniel menghubungi Dinar.
''Ka, Linda kemana? kenapa telpon ku tidak di jawab.'' Ucap Daniel setelah tersambung.
''Ponsel Linda hilang mungkin terjatuh saat berbelanja di swalayan, memangnya ada apa?'' tanya Dinar di sebrang sana.
''Devita sudah sadar, dia ingin bertemu dengan Linda.'' Jawab Daniel.
''Oh syukurlah, oke oke, kakak akan hubungi Zen ya untuk menyampaikan nya.'' Ucapan Dinar membuat Daniel berpikir, rasa herannya menyergap.
''Aku bilang Linda ka bukan Zen,''
''Iya aku mengerti, tapi Linda sedang berada di kantor mu, aku memerintahkan dia untuk mengantarkan makanan untuk nya.'' Ujar Dinar, Daniel hanya ber'oh ria dan menutup sambugan telponnya.
.
Dinar pun langsung menghubungi Zen untuk menyampaikan ucapan Daniel dan menyuruh untuk mengatakan kepada Linda agar segera ke Rumah Sakit.
''Benarkah Devita sudah sadar?'' tanya Zen yang sangat lega mendengar nya.
''Baik ka, nanti aku sampaikan padanya saat dia sudah sampai ke ruangan ku,'' Zen pun menutup panggilan Dinar setelah pamit mematikan sambungan nya.
''Syukurlah kau sudah sadar Dev,'' gumam Zen dengan bibir yang melengkung tipis.
Tbc..
__ADS_1