Cinta CEO Arrogant

Cinta CEO Arrogant
Kejahilan Dinar


__ADS_3

Pintu di buka dan ternyata tidak ada orang di sana yang ada hanya lah sebuah peti besar yang di letakan seseorang di depan pintu itu.


'' Boos, tidak ada orang, tapi ada yang meninggalkan sesuatu di sini!!'' teriak penjaga memanggil bosnya.


'' Kau tak perlu berteriak seperti itu,'' ucap Barta yang datang dengan wajah masamnya.


'' Maaf bos,''


'' Bob, buka,'' suruh Barta pada Asisten nya.


Bobi pun membuka peti itu dengan di bantu beberapa orang penjaga dan setelah peti itu terbuka mereka sangat terkejut melihat nya dan membuat Barta terduduk lemas.


'' Apa ini, berarti mereka sudah tahu kalau kita yang menerornya selama ini,'' ucap Barta dengan rasa takut.


'' Atau bisa jadi mereka lah yang membuka mulutnya,'' timpal Bobi melirik ke tiga mayat itu.


'' Kalau begitu kita saat ini sedang di mata-matai juga,'' sahut Barta dengan wajah piasnya.


'' Ternyata orang yang kita anggap remeh lebih berbahaya dari yang kita bayangkan.'' Lirih Barta.


'' Kita harus bagaimana Bos?'' tanya Bobi.


'' Kenapa kau tanya aku! berpikir lah!!'' bentak Barta.


'' Mau tidak mau kita harus menghadapi nya, perang di mulai!'' ucap Barta dengan mengepalkan tangannya.


'' Apa Bos yakin?'' tanya Bobi yang ragu akal hal yang Bosnya katakan.


'' Apa kau takut, Bob?''


'' Bukan Bos, tapi Aku lihat dengan cara dia menghadapi kita sangat terlihat kalau mereka pembunuh berdarah dingin,'' ucapan Bobi sangat di setujui oleh Barta namun Barta sangatlah gengsi untuk mengakui bahwa dirinya juga mengkhawatirkan itu.


Di Rumah Sakit, keadaan Kemal masihlah sama, belum ada peningkatan atau perkembangan yang menandakan bahwa dia benar-benar sudah lolos dari masa kritis.


Alarm berbunyi dan membuat para dokter juga perawat berlarian menuju ruangan dimana Kemal berada.


Detak jantung Kemal yang melemah membuat Dokter panik dan segera melakukan tindakan yang lebih lanjut lagi.


Dinar, Devita dan Puspa juga Linda yang ada di luar kamar sangat panik melihat Dokter dan Perawat berlarian seperti itu.


'' Dev, Kemal baik-baik saja kan?'' tanya Puspa yang sudah lemas tidak lagi kuat menopang dirinya untuk berdiri.


'' Pu, kau harus kuat, kita berdoa ya agar Kemal di berikan keselamatan,'' jawab Devita yang memang dia juga tidak tahu apa yang terjadi.


'' Devita, kau pucat sekali,'' celetuk Linda yang baru menyadari wajah pucatnya Devita.


'' Tidak ka, aku hanya merasa takut saja,'' jawab Devita yang berbohong, ya dia saat ini merasakan sangat lelah dan kepala yang berputar tidak henti sejak tadi.


Puspa menoleh dan baru menyadarinya juga. '' Iya Dev, wajah mu sangat pucat lebih baik kau istirahat ya,'' timpal Puspa.


'' Tapi kamu bagaimana, Pu?'' ucap Devita yang lebih mengkhawatirkan keadaan Puspa ketimbang dirinya sendiri.

__ADS_1


'' Dev kau kan sedang hamil, cobalah mengerti, Puspa ada kakak disini yang menjaganya, Linda antarkan Devita pulang ya,'' ucap Dinar dan di angguki Linda.


'' Ayo Dev,'' ajak Linda dan Devita pun manut ikut dengan Linda tapi saat Devita dan Linda sudah berjalan menuju pintu lift dengan bersamaan pintu lift yang ada di sebelah nya terbuka yang ternyata ada Daniel di sana.


'' Honey,'' panggil Daniel.


'' Kalian ingin kemana?'' tanya Daniel yang langsung memapah tubuh Devita.


'' Sepertinya istri mu sangat kelelahan, aku ingin mengajak nya pulang tadi,'' jawab Linda.


'' Honey, kau tidak apa-apa?'' tanya Daniel merasa khawatir dengan istrinya.


'' Daniel aku tidak mau pulang, aku masih mau di sini,'' rengek Devita.


'' Ya sudah kita ke lantai atas, di sana ada kamar khusus,'' ucap Daniel.


'' Lin kembalilah ke mereka, biar Devita aku bawa,'' ucap Daniel pada Linda.


'' Iya, hati-hati,'' jawab Linda yang masih berdiri di depan lift memastikan kalau Daniel juga Devita sudah masuk ke dalam lift, setelah pintu lift tertutup Linda berbalik ingin kembali ke Dinar dan Puspa tapi ada seseorang yang memanggilnya.


'' Lin, kau kah itu?'' tanya Seseorang yang berada lumayan jauh dari tempat Linda berpijak.


'' Kamu,'' jawab Linda dengan senyuman.


'' Kamu sedang apa lagi disini? apa bos mu sakit lagi?'' tanya orang itu.


'' Bukan, aku kesana dulu ya. Permisi.'' Ucap Linda dengan senyumnya.


'' Nando, ini rumah sakit apa kau tidak malu bersikap seperti ini, apalagi kau masih memakai baju tugas mu.'' Ucap Linda yang merasa risih karena perawat yang melihat mereka dengan tatapan anehnya.


'' Kenapa harus malu, lagipula kau kan teman ku,'' ucap Nando dokter yang bertugas di sana.


'' Lin, ini sudah malam aku belum makan,'' ucap Nando lagi.


'' Lalu?'' tanya Linda.


'' Temani aku makan ya,'' pinta Nando.


'' Sory Nando, aku tidak bisa, aku harus kembali ke keluarga ku,'' Tolak Linda.


'' Di mana keluarga mu?''


'' Di depan ruang ICU,'' jawab Linda, Nando yang mendengar jawaban Linda langsung berlalu lebih dulu mendahului Linda.


'' Kau mau kemana?'' tanya Linda.


'' Aku ingin meminta izin langsung pada keluarga mu,'' ucap Nando yang tidak mempedulikan panggilan Linda lagi.


Linda berdevak kesal karena sikap Nando.


'' Itu manusia tidak pernah berubah,'' geram Linda yang menyusul langkah Nando.

__ADS_1


'' Permisi apa kalian keluarga Linda,'' ucap Nando pada Dinar dan juga Puspa.


'' Iya, ada apa? Linda kenapa?'' tanya Dinar dengan panik.


'' Tidak, tidak. Linda baik-baik saja, saya teman Linda apa boleh saya membawa Linda makan malam,'' ucap Nando dengan ramah.


'' Astaga, aku kira Linda kenapa, ya sudah bawa saja sana. Kebetulan Linda baru saja tiba tadi sore dan dia belum makan apa-apa sejak itu.'' Ucap Dinar.


'' Memangnya Linda nya dimana, bukannya dia tadi pergi dengan Devita?'' ucap Dinar lagi namun tiba-tiba Linda muncul.


'' Ka Dinar, aku tidak lapar,'' timpal Linda yang baru saja bergabung bersama mereka.


'' Kau kan belum makan apa-apa sejak tiba tadi sore, pergilah.'' Suruh Dinar dengan lembut.


'' Baiklah ka,'' pasrah Linda.


'' Oh ya, Devita dimana? bukannya tadi kau pergi bersamanya?'' tanya Dinar.


'' Tadi kami bertemu dengan Daniel, dan Daniel membawa Devita ke lantai puncak,'' jawab Linda.


'' Oh ya sudah sana, pergilah kasihan teman mu,'' ledek Dinar.


Linda dan Nando pun pergi dari sana.


Tidak lama kepergian Linda dan Nando, Zen sampai dan merasa aneh karena tidak ada Linda bersama Dinar dan juga Puspa di sana.


'' Zen,'' panggil Dinar.


'' Bagaimana ka, keadaan Kemal?''


'' Entahlah sejak tadi para Dokter belum juga ada yang keluar, detak jantung Kemal melemah Zen,'' ucap Dinar.


'' Astaga,'' Zen melirik Puspa yang terus saja melihat ke arah pintu dimana Kemal berada di dalamnya.


'' Oh ya Zen, kakak boleh minta tolong belikan makanan atau minuman, kasihan Puspa belum juga makan malam.''


'' Iya ka aku belikan, oh ya Linda kemana?''


'' Linda pergi dengan temannya,'' jawaban Dinar membuat Zen mengernyit kan alisnya.


'' Teman?''


'' Iya, dia juga seorang Dokter di sini, dan kau tau, dia sangat tampan sekali, seperti nya dia menyukai Linda,'' ucap Dinar dengan sengaja karena ingin melihat reaksi apa yang akan Zen keluarkan.


Dan benar saja reaksi Zen sangatlah kentara yang terlihat dari raut wajahnya merasa tidak suka mendengar ucapan Dinar.


'' Pergi kemana dia?'' tanya Zen dengan wajah masamnya.


'' Katanya makan malam, tapi kakak tidak tahu persis dimananya,'' jawaban Dinar membuat Zen menghela nafasnya dengan kasar dan berlalu begitu saja tanpa pamit.


TBC....

__ADS_1


__ADS_2