Cinta CEO Arrogant

Cinta CEO Arrogant
Love Yang Meresahkan


__ADS_3

Sebuah kata maaf tulus yang bahkan tidak pernah terucap dari mulut seorang pria berdarah timur tengah itu, hari ini terucap begitu saja.


Linda menatap heran dengan raut wajah Zen.


'' Maaf? untuk apa?'' tanya Linda yang ingin memastikan.


'' Maaf karena ucapan saya yang tempo hari itu, saya tahu saya telah menyakiti perasaan mu, dan saya juga sudah salah paham,'' jelas Zen.


Linda terdiam, ia menerawang jauh, kata-kata apa yang di maksud Zen, sesungguhnya Linda telah melupakannya tapi tetap rasa bencinya masih tersirat rapih di hatinya.


'' Saya baru mengetahui kalau pria yang tinggal di depan kamar saya itu, dia adalah sepupu mu,'' ucapnya lagi, Linda baru ingat setelah Zen berkata seperti itu.


'' Emmmm, jadi?''


'' Iya, saya minta maaf, ya terserah kalau kamu tidak memafkan saya, yang penting saya sudah minta maaf,'' ucapnya yang kembali dengan gaya sombong nya.


'' Ya sudahlah lupakan saja,'' Linda berlalu meninggalkan Zen.


'' Apa ada seselorang meminta maaf dengan cara seperti itu,'' gumam Linda.


'' Heiii, tidak sopan, di maafkan tidak,'' ucap Zen sedikit berteriak.


Linda menghiraukan teriakan Zen, dia hanya memberi tanda jempol untuk 'iya.


'' Dia wanita yang paling menyebalkan, tidak sopan sekali main pergi begitu saja,'' gerutu Zen dengan kesal.


Linda kembali ke dapur karena ingin mengawasi para koki memasak untuk makan malam para tuannya.


Pekerjaan Linda hanya mengawasi dan melakukan apapun atas perintah Tuan dan nyonya nya, dan dia di berikan tanggung jawab untuk para maid serta koki dan penjaga mansion.


Zen masih berada di halaman belakang, kakinya ingin melangkah tapi suara ponsel yang berasal dari posisi dia yang lumayan jauh terdengar.


'' Suara ponsel siapa itu,'' gumam Zen, ia terus mencari asal suara itu yang ternyata terletak di sebuah batu besar tempat tadi Linda duduk.


Zen mendekati ponselbitu dan mengambil nya, ada panggilan masuk dengan nama pria di akhiri dengan tanda love.


'' Berlebihan sekali,'' gumam Zen yang langsung mematikan panggilan itu dan berlalu masuk ke dalam mansion.


Zen menuju ruang dapur bertujuan mencari Linda karena ingin mengembalikan ponselnya, namun Zen tidak juga menemukannya.


'' Kemana wanita itu,'' gumam Zen.


Zen melihat seorang maid sedang membersihk beberapa pajangan di sudut ruangan, ia menghampiri nya dan bertanya keberadaan Linda, dan maid itu mengatakan kalau Linda sedang di kamarnya karena sedang membersihkan luka nya.


Luka yang di sebabkan pecahan beling gelas yang tidak sengaja jatuh dan mengenai kakinya.

__ADS_1


Zen menuju kamar Linda yang terletak di bawah tangga menuju lantai dua.


Entah kenapa Zen ingin memeriksa keadaan Linda yang katanya sedang terluka itu, dia mengetuk pintu putih itu dengan pelan.


Tidak ada sahutan dari dalam, dan akhirnya Zen mengetuk kembali dengan lebih kencang.


Pintu terbuka dan tampaklah Linda dengan perban yang melingar di telapak kaki nya.


'' Tuan Zen, ada apa?'' tanya Linda yang berdiri dengan berpegangan daun pintu.


'' Kau kenapa?'' tanya Zen.


'' Aku, aku tidak apa-apa, memangnya kenapa,'' jawabnya dengan ketus.


'' Tidak apa bagaimana, kaki mu di perban seperti itu,'' ucap Zen dengan mengomel.


'' Hanya luka kecil, memang nya apa peduli mu, sudahlah pergi sana,'' Linda ingin menutup pintu tapi lengan Zen menghalangi nya.


'' Kau ini punya masalah apa sih Tuan,'' cetusnya.


Zen terdiam, tapi dengan sekali dorongan Zen bisa membuka pintu itu dan masuk ke kamar Linda tanpa permisi.


'' Rapih juga,'' cetus Zen yang langsung duduk di tepi ranjang milik Linda.


'' Tuan anda jangan kurang ajar ya, keluar dari kamar saya,'' usir Linda.


Melihat-lihat beberapa figura yang tergantung di dinding yang manampakan sebuah potret Linda dengan seorang pria.


Seketika mood Zen buruk ia baru mengingat Kalau tadi dia menemukan ponsel milik Linda karena ada sebuah panggilan telepon.


'' Ini ponsel mu, tadi tertinggal di belakang,'' ucap Zen yang langsung berlalu pergi melewati Linda.


'' Oh ya, tadi ada yang menelpon mu, sepertinya kekasih mu,'' ucapnya lagi dan menghilang dari balik pintu.


Linda memeriksa riwayat panggilan, dan berpikir sejenak.


'' Dia kenapa? aneh sekali,'' gumam Linda.


.


.


.


Matahari mengintip malu-malu pagi ini, sepasang suami istri yang baru saja melakukan pernikahan beberapa hari yang lalu masih stia dengan ranjang dan selimut tebalnya.

__ADS_1


Devita yang memang kurang enak badan terasa enggan untuk meninggalkan bantal nya karena kepala yang terasa berat itu.


Mata besar Daniel mengerjap beberapa kali menyesuaikan cahaya yang mengintip di sela-sela gorden bercorak polca itu.


Pertama kali yang di lihatnya kini adalah wajah polos Devita, istri tercinta nya, wajah yang cantik tanpa ada riasan apapun di wajahnya itu tertidur dengan nyenyaknya.


Semalaman Devita demam, badannya panas dan merasakan sakit di kepalanya karena jetlag yang di alaminya.


Daniel memeriksa suhu tubuh Devita yang sudah baik-baik saja, ia beranjak dari ranjang dengan perlahan karena tidak ingin mengganggu istri nya itu.


Daniel menuju kamar mandi setelah melakukan ritual mandinya ia keluar kamar dan menuju ruang dapur.


Para koki dan maid tertunduk hormat karena Daniel yang baru kali ini menginjakan kakinya ke dapur membuat para maid terkagum dengan Daniel.


'' Selamat pagi Tuan muda, apa ada yang bisa saya bantu,'' ucap kepala koki di sana.


'' Tidak, saya ingin membuat sarapan sendiri, bisa siapakan roti tawar dan slay coklat,'' ucao Daniel.


'' Bisa Tuan, sebentar,'' jawab kepala koki itu yang langsung segera menyiapkan permintaan tuannya.


Setelah semuanya siap, Daniel membuat roti bakar dengan slay coklat sarapan favorit nya Devita.


Dengan telaten Daniel menyiapkan satu persatu dari roti yang sudah di panggang, jus alpukat kocok dan membawanya ke kamarnya lagi.


'' Tuan muda sangat tampan ya, aku baru kali ini melihat langsung wajah Tuan muda dari jarak sangat dekat,'' ucap maid yang sedang mencuci peralatan memasak.


'' Ya, dan baru kali ini, Tuan muda menginjakkan kakinya ke ruang ini,'' timpal maid satunya.


Suara deheman terdengar menyela pembicaraan para maid itu, dan membuat keduanya menegang karena mereka sangat tahu suara siapa itu.


'' Apa kalian sesuka itu dengan bergosip,'' ucap Linda dengan tegas.


'' Tidak Nona, maafkan kami,'' ucap maid itu.


'' Lanjutkan pekerjaan kalian kalau tidak hari ini akan menjadi hari terkahir kalian bekerja disini,'' tegas Linda, para maid itu mengangguk dan melanjutkan pekerjaan nya dengan keringat dingin karena takut dengan Linda.


Para maid mengenal Linda dengan ketegasan nya, tapi mereka juga menyukai Linda karena Linda sosok ketua yang sangat berwibawa dan tegas namun baik hati.


Tbc..




__ADS_1



__ADS_2