Cinta CEO Arrogant

Cinta CEO Arrogant
CCTV YANG TERHAPUS


__ADS_3

Budayakan Like sebelum atau setelah Membaca ya aka aka ku tersayang 😊😊


Dan tolong tinggalkan jejak komentar nya doong, biar Author lebih semangat nulisnya 😊😊😊..


Banyak maunya yaaπŸ˜„ iya emang πŸ˜†πŸ˜†


eettt satu lagi,, VOTE nya jangan lupa😁✌✌


...πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€...



HAPPY READING πŸ“–..


πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯


DUARRR..


**Aaarrrrrggggg


"Sial*


''Niel, kau tidak apa-apa?'' tanya Terry dengan cemas.


''Tidak, tapi baju ku berlubang, padahal ini baju yang di belikan Devita.'' Ucap Daniel tanpa beban, Terry yang melihat tingkah Daniel merasa kesal.


''Sempat-sempatnya kamu hanya memikirkan Baju yang robek,'' ketus Terry.


''Ck. Baju ini istimewa, kita lihat siapa yang berani merusaknya.'' Tatapan Daniel menyalang mencari sang penembak.


''Oh rupanya kau pria buruk rupa.'' Bentak Daniel pada Bodyguard yang ada di sudut ruangan.


Si penembak itu menembak tepat pada bagian perut Daniel yang sudah di lapisi anti peluru itu, tapi dengan rusaknya baju yang di kenakan Daniel Ia tidak tahu kalau usianya tidak akan lama lagi.


Duarrr.


Daniel kembali menembakkan senjatanya ke arah seseorang yang telah berani menyerangnya.


Fedric yang melihat itu beringsut mundur secara teratur, Ia baru sadar kegilaan Daniel yang membabi buta itu sangat sulit di kalahkan.


Daniel dan Terry menembak satu persatu yang telah menghalangi jalannya.


''Fedric mana?'' tanya Daniel pada Terry.


''Tidak tau, sepertinya Ia takut dan melarikan diri.'' Tawa Terry menggema.


''Tutup mulut mu.'' Ucap Daniel dengan tegas.


''Ya, ya. baiklah,''..

__ADS_1


''Lucky keluar kamu dari persembunyian mu.'' Teriak Daniel dengan kencang.


''Tidak perlu berteriak, Tuan Daniel yang terhormat.'' Ucap seseorang yang baru memunculkan diri dari balik lemari.


''Pengecut,'' ketus Daniel.


''Apa tujuan mu datang ke sini?'' tanya Lucky.


''Dimana kau menyembunyikan Devita?'' tanya Daniel tanpa basa basi.


''Kenapa kau bisa langsung mengira bahwa aku lah yang menyembunyikan Devita.'' Ujar Lucky dengan tegasnya.


''Siapa lagi kalau bukan kau, aku tau kau sangat menginginkan DeVita.'' ..


''Ya aku memang menginginkan nya. Tapi sayang, ada yang mengambil nya lebih dulu dari aku.'' Ucap Lucky dengan wajah berbagai jenis expresi.


''Apa kau bisa di percaya, Tuan Lucky.'' Tatapan Daniel yang tajam tak membuat Lucky takut sedikitpun.


''Daniel, sepertinya dia tidak berbohong,'' bisik Terry.


Daniel melirik ke arah Terry. ''Ya sudah kita pergi dari sini.'' Daniel pun berbalik dan melangkahkan kakinya dengan diikuti Terry.


''KALIAN JANGAN HARAP KELUAR DENGAN KEADAAN BERNYAWA.'' ..


Doorrr.


Doorrr.


Tapi saat mereka berbalik, Lucky sudah tergeletak di lantai dengan bersimbah darah.


''Kalau tidak ada aku, kalian akan di larikan ke rumah sakit dan tidak lama lagi menjadi penghuni pemakaman, tau.'' Ucap seseorang dari arah jendela samping.


''Kemal.'' Ucap Daniel, ya seorang itu adalah Kemal yang menyelamatkan Daniel dan Terry dari Lucky yang sudah mengeker mereka.


''Ya, kenapa kalian bertindak seceroboh itu.'' Ketus Kemal.


''Untungnya setelah kau menelpon ku, aku langsung berbegas menyusul,'' lanjutnya.


''Sombong sekali, lalu diman Zen?'' bukannya berterima kasih Daniel malah berbalik memaki.


''Cih, bahkan kata Terima kasih pun tidak Ia lontarkan,'' gumam Kemal.


Terry yang menyaksikan kedua pria di depannya sedang berdebat hanya terkekeh geli.


''Zen ku perintahkan untuk mengecek CCTV Kampus.'' Jawab Kemal dengan ketus.


.


.

__ADS_1


.


Di kampus.


Zen mendatangi ruang monitor CCTV yang terdapat di sekitaran kampus.


''Bagaimana Ka?'' tanya seseorang yang ternyata Ia adalah Puspa yang baru datang ke ruangan monitor.


''Rekaman pada saat jam kejadian tidak terekam, ada yang sengaja menghapusnya.'' Ujar Zen setelah tau yang bertanya padanya itu Puspa.


''Waah, hebat sekali mereka.'' Ucap Puspa tanpa sadar.


''Kau mendukung mereka?'' tanya Zen dengan tegas.


''Ti-tidak, aku hanya mengagumi kemampuan mereka yang jauh lebih cepat ketimbang kau.'' Elak Puspa, sebenarnya Puspa merasa gugup jika berada di dekat Zen yang selalu bersikap dingin. Terlebih lagi Zen berbeda dengan Kemal yang banyak bicara.


Zen teringat sesuatu, dan langsung menarik tangan Puspa.


''Hei, kau mau membawa ku kemana?'' teriak Puspa yang tanpa ada jawaban dari mulut Zen.


Zen membawa Puspa ke mobilnya.


'' Masuk,'' titah Zen dengan tegas.


''Kau mau membawa ku kemana?'' tanya Puspa dengan takut.


Zen tidak menjawab nya, dia hanya melayangkan tatapan tajamnya yang membuat Puspa tidak lagi berani bertanya dan langsung masuk ke dalam mobil sesuai apa yang di perintahkan Zen.


Setelah Puspa masuk, Zen pun ikut masuk ke mobil dan melajukan nya dengan kecepatan sedang.


tangan kirinya memegang kemudi dan tangan kanannya memasang earphone ketelinga nya untuk menghubungi seseorang.


''Tuan kita ketemuan di kediaman Maharani, saya rasa jawaban menghilang nya Nona, ada disana.'' Ucap Zen pada seseorang yang berada di sebrang sana.


Setelah menghubungi seseorang itu, Zen kembali fokus melajukan mobilnya ke kediaman keluarga Paman Devita.


Zen melirik ke samping untuk melihat Puspa.


''Kenapa kau berkeringat?'' tanya Zen dengan nyalang.


''Karena kau tidak menghidupkan AC nya.'' Jawab Puspa tanpa melihat ke arah en yang sedang menatap nya.


''Kita lihat sampai mana kalian, mencari alasan.'' Gumam Zen dengan sangat pelan tapi masi bisa di dengar.


''Yang kau maksud itu siapa?'' tanya Puspa dengan keingin tahuannya.


☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘


HAPPY NEW YEAR ALL😘😘😘....

__ADS_1


Salam sayang dari NurmayπŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ€—


__ADS_2