Cinta CEO Arrogant

Cinta CEO Arrogant
Tersinggung


__ADS_3

Hari sudah semakin larut, Daniel berpamitan pada sang Ayah dan Kakaknya untuk pulang ke Apartemen nya. Nadia yang seakan tak rela mendengar Daniel dan Devita tinggal di Gedung Apartemen yang sama walau dengan unit kamar yang berbeda, tidak melepaskan tangannya dari lengan Daniel.


''Daniel, aku ingin melihat-lihat isi Apartemen mu, boleh?'' tanya Nadia seperti biasa yang bergelayut manja pada Daniel.


''Ini sudah larut Nad, kapan-kapan saja lah.'' Jawab Daniel dengan raut biasa.


''Tapi, aku sangat bosan.'' Ucapnya lagi.


''Apa kau tidak jetlag, Nadia.'' Timpal Dinar.


''Eemm, tidak kak.'' jawab Nadia.


''Sebaiknya kau istirahat, aku juga hari ini sangat lelah, dan sepertinya Vita juga sudah mengantuk.'' Ucap Daniel dengan mengusap kepala Devita.


Pemandangan yang membuat Nadia tersulut dengan rasa emosi namun sebisa mungkin Ia tahan.


''Ya sudah, tapi lain kali kau harus membawa ku ke Apartemen mu ya.'' Pinta Nadia belum melepaskan tangannya dari lengan Daniel.


''Iya.'' Jawabnya dengan datar, Nadia yang melihat raut wajah Daniel yang sudah tidak enak di pandang, perlahan melepaskan tangannya.


Mereka semua sedang berada di halaman depan rumah, sang Ayah yang sudah istirahat di kamarnya tidak bisa mengantarkan Daniel dan Devita ke depan Mansion.


''Ya sudah ka, aku dan Devita pamit ya, aku titip Ayah.'' Daniel dan Devita pun pamit.


''Iya kalian hati-hati ya.'' Ucap Dinar.


Daniel dan Devita memasuki mobil dan berlalu dari Mansion.


''Daniel, kau dengan Ka Dinar sangat dekat ya.'' Ucap Devita memuali obrolan.


''Iya, sedari dulu aku dan Kakak sangat lah dekat, walaupun sering terjadi perbedaan pendapat yang membuat kita bertengkar, tapi itu tidak bertahan lama.'' Ucap Daniel dengan antusias menceritakan nya.


''Kau bilang Kaka mu sudah menikah, tapi kenapa pulang kesini tidak bersama suaminya.''..


''Suaminya sibuk mengurus perusahaan nya yang berada di sana, Ia kesini hanya berniat untuk menengok Ayah.'' Jelas Daniel.


''Kalau kau dengan Nadia, dekat juga?'' Pertanyaan Devita yang tiba-tiba membuat Daniel berpikir, Ada apa dengan Vita??

__ADS_1


''Iya, aku juga dekat dengan nya, Nadia anak dari Pengasuh ku yang sudah tidak ada, Nadia juga sudah tidak mempunyai Ayah, yang Ia punya hanya keluarga kami. Maka dari itu dia sudah ku anggap seperti adik ku sendiri.'' Jelas Daniel sangat berhati-hati.


''Hidupnya sebatang kara sedari kecil, Ayah yang merasa tidak tega mengangkatnya menjadi anaknya, dari pendidikan dan fasilitas semua di tanggung Ayah,'' lanjutnya.


''Oh hidupnya jauh lebih baik dari pada aku berarti.'' Ceplos Devita, Ucapan Devita membuat Daniel tersadar bahwa ucapannya sangat menyinggung Kehidupan Devita.


Daniel tidak lagi menjawab nya, dia sangat merutuki ucapannya. ''Pasti Vita tersinggung,'' pikir Daniel.


Suasana di dalam mobil kembali hening, Daniel maupun Devita hanya diam tidak ada lagi yang memulai obrolan.


Sampai di Apartemen, Devita hanya bersikap biasa, tapi Daniel yang bersikap salah tingkah, Ia bingung ingin berkata apa pada Devita.


''Ekhemm.'' Sudah beberapa kali Daniel berdeham mencari perhatian Devita, tapi Devita tidak memperdulikan nya, Ia bahkan berjalan lebih cepat mendahului Daniel.


Di dalam lift hanya mereka berdua, kesunyian yang sangat membosankan bagi Daniel, ya kalau sedang berada di dekat Devita Ia sungguh membenci kesunyian.


Seorang pria yang sangat terkenal Arogan, ternyata sekarang sudah menjadi budak cinta dari seorang Devita Maharani.


Saat lift berbunyi 'Ting yang menandakan bahwa pintu akan terbuka di lantai tujuan, Devita menahan dada bidang Daniel yang ingin ikut keluar dari lift.


''Kenapa?'' tanya Daniel.


''Tapi..


''Daniel,''..


''Baiklah, mimpi indah ya.'' Cup. Satu kecupan mendarat di dahi Devita, Devita tersenyum tipis, dan ia pun keluar lift tanpa menengok kebelakang lagi.


''Bisa-bisanya aku melupakan Cerita hidup Devita yang penuh duka itu, dan dengan enteng nya aku menceritakan kisah hidup Nadia yang bahkan jauh lebih beruntung dari Devita.'' Gerutunya.


Di sebuah Restoran besar, Puspa sedang mengantri untuk membayar kue yang di belinya, dengan nampan yang berisikan beberapa kue red velvet cupcakes di tangan nya.


Puspa mendengkus sebal, karena antriannya tidak berjalan karena mesin kasir sedang mengalami gangguan.ada


''Kaki ku sudah sangat pegal sekali,'' keluh Puspa.


''Kalau tidak mau pegal ya pulang saja.'' Suara yang sangat di kenalnya terdengar di telinga Puspa dari arah belakannya.

__ADS_1


''Haisss, kenapa makhluk Tuhan yang paling menyebalkan itu selalu muncul tiba-tiba sih.'' Gumam Puspa


''Aku mendengar nya lho.'' Ucap suara itu lagi.


''Sengaja.'' Ketus Puspa.


''Kau mau mendapatkan geratisan tidak?'' tanya suara itu.


Mata Puspa berbinar mendengar kata 'Geratisan', dengan cepat Ia membalikan tubuhnya.


''Mau, bagaimana caranya.'' Ucap Puspa dengan antusias.


''Pakai pasword.'' Ucapnya dengan menaik turunkan alisnya.


''Pasword? apa pasword nya?'' tanya Puspa dengan polosnya.


''Katakan..'' ucapnya dengan menggantung dan juga suara yang berbisik.


''Katakan apa?'' dengan polosnya Puspa pun ikut berbisik.


''Katakan, Kemal tampan.'' Ucap Kemal dengan wajah yang merasa tak berdosa, ya pria itu adalah Kemal.


Wajah yang semula ceria seketika berubah masam, ''Menyebalkan.'' Cebik Puspa.


''Aku serius.'' Ucap Kemal yang terus menggoda Puspa.


''Aku tidak peduli,'' tegas Puspa.


''Ck, keras kepala.'' ..


Di tengah-tengah perdebatan nya seorang pria dengan memakai pakaian formal menghampiri nya.


''Tuan kemal, ada seseorang yang menunggu Tuan, di ruangan kerja Tuan'' Ucap pria berpakaian formal itu.


''Katakan aku sedang sibuk.'' Ucap Kemal dengan dingin.


''Baiklah Tuan.'' Pria berpakaian formal itu berlalu.

__ADS_1


Puspa yang menyaksikan nya sungguh sangat terkesip, Kemal yang melihat wajah syok Puspa pun tersenyum lebar.


__ADS_2