Cinta CEO Arrogant

Cinta CEO Arrogant
Kejutan Malam


__ADS_3

Perjalanan di jam malam seperti ini sangatlah sunyi, Daniel yang mengemudikan mobilnya memecah keheningan malam merasa bosan dengan kebisuan di antara mereka.


''Vita, kenapa kau diam saja.'' Tanya Daniel dengan mata melirik ke arah Devita yang tengah menyenderkan kepalanya ke jendela.


''Aku sedang menunggu seseorang menepati janjinya,'' jawabnya.


''Sial, dia mengingatnya,'' batin Daniel.


''Hemmmm. biklah aku akan memberitahumu, tapi kau janji setelah kau mengetahuinya, jangan ada pertanyaan lainnya lagi setelah nya.'' Dengan menghela nafas dengan berat Daniel mengatakannya dengan malas.


Devita memutar bola mata nya malas, dengan sifat Daniel yang keras tidak bisa Ia ganggu gugat walau bagaimanapun caranya.


''Ya baiklah, cepat katakan.'' Pasrah Devita.


Dengan duduk yang menghadap ke arah Daniel seperti tidak sabar menunggu cerita yang keluar dari mulut Daniel langsung, dan dengan wajah yang menggemaskan bagi Daniel sungguh membuat Daniel terkekeh karenanya.


''Jadi gadis itu adalah Windy yang sedari dulu selalu ingin sekali dekat dengan ku, tapi aku tidak sama sekali ingin mengenalnya, aku hanya tau dia anak dari seorang pejabat, sudah itu saja.'' Ujar Daniel dengan santai, dengan bercerita yang tidak cukup memuaskan Devita, Devita bersedakep menatap Daniel dengan kesal.


''Hei, kau kenapa menatap ku seperti itu.'' Tawa Daniel dengan mengacak pucuk rambut Devita.


''Kau sangat menyebalkan ya Daniel,'' Ucapnya.


''Menyebalkan bagaimana? kau bertanya ya aku jawab, lalu apa lagi.'' Jawabnya dengan merasa dirinya benar.


''Haaah, ya sudahlah.'' Devita membalikan badannya dengan duduk seperti semula lagi.


''Sebenarnya aku ingin menanyakan perihal Album usang itu, tapi suasana nya tidak pas.'' batin Devita.


Suasana kembali hening, sampai tiba di gedung Apartemen, ''Vita, jika ada yang ingin kau tanyakan, silahkan.'' Ucap Daniel dengan wajah yang serius.


''Aah, ti-tidak ada, ya sudah ayo turun, aku sudah mengantuk.'' Devita yang merasa gugup tidak bisa mengendalikan tangannya yang gemetar alhasil Ia kesulitan untuk melepaskan pengait Seatbelt.


Dengan cepat Daniel membantu untuk melepaskan pengait itu, tapi tidak dengan melepaskan Devita.


Saat Devita ingin turun dari mobil tangannya di tarik Daniel secara cepat dan 'Cup.


Sebuah kecupan mendarat tepat di bibir Devita, ya hanya sebuah kecupan tapi dengan waktu yang sedikit lama, tidak ada pergerakan dari keduanya.


Rona merah sangat terlihat di pipi bersih Devita, ini ke Tiga kalinya Daniel mencuri cium dari bibirnya, tapi kali ini ciuman itu berbeda, ada debaran tidak biasa di hati Devita.


Dengan Kecupan kali ini yang penuh arti kasih sayang yang tidak ada faktor nafsu di dalamnya, hanya ada ketulusan dari arti kecupan itu.


''Aku menyayangi mu.'' Ucap Daniel, tidak ada jawaban dari mulut mungil Devita, Ia hanya diam menatap manik mata Daniel.

__ADS_1


Daniel sangat mengetahui apa yang Devita rasakan saat ini, Devita yang belum yakin dengan perasaan nya, Devita yang belum mau mengucapkan nya, Daniel semua tahu, tapi Ia akan sabar menanti waktu itu.


''Ya sudah, ayo turun.'' Ucap Daniel dan di angguki Devita.


Devita berjalan dengan menundukkan kepalanya, apa sebenarnya yang Ia fikirkan saat ini? kenapa saat ini Ia banyak sekali berfikir.


Setelah sampai di depan pintu unit Apartement Devita, Daniel hanya mengusap kepala dan mengecup sekilas kening Devita, lalu berlalu pergi tanpa bicara apapun.


Devita menatapnya dengan tatapan nanar, Merasa ada yg salah di perasaan nya saat ini, tapi apa? Devita pun tidak tahu.


Devita menghela nafasnya dengan berat, menjatuhkan tubuhnya di ranjang kingsize nya dan menatap langit-langit kamar dengan pencahayaan yang redup.


''Ayah, Mamah. Aku merindukan kalian, aku butuh kalian saat ini, aku bingung dengan perasaan ku saat ini, aku belum bisa membalas perasaan Daniel, tapi aku juga tidak bisa jauh dari nya.'' ..


''Apa aku egois, aku menginginkan nya tapi belum bisa membalas perasaan nya, Seperti mengambil keputusan yang tidak tau artinya.'' Devita menghela nafasnya lagi dan beranjak dari Tidurnya untuk membersihkan dirinya.


Di kamar yang juga gelap hanya ada penerangan di lampu tidur di sudut kamar itu, ada pria yang duduk dengan menyilangkan kaki serta tangan yang bersedekap dengan pandangan yang kosong.


''Aku akan bersabar, menanti ungkapan hatinya.'' Ucapnya madih dengan tatapan lurus kedepan.


Suara pintu di ketuk membuyarkan lamunan Daniel, dengan langkah yang sebenarnya enggan tapi dia ingin tahu siapa yang datang di malam-malam begini.


Dengan tidak lagi melihat ke arah layar intercom, Daniel segera membukanya nya.


''Mau apa kau kesini.'' Tanya Daniel dengan datar.


''Ka Daniel, aku merindukan mu.'' Jawab wanita itu dengan memegangi kepalanya, yang di lihat Daniel bahwa wanita di depannya sedang tidak sadar sepenuhnya.


''Kau mabuk, Windy.'' Ucapnya.


Ya wanita itu adalah Windy yang baru beberapa jam lalu di pertanyakan oleh Devita pada Daniel.


''Mabuk, tidak ka,, aku hanya merindukan mu.'' Jawabnya lagi yang langsung memeluk Daniel, dengan pakaian yang sangat terbuka dan buah dada yang menantang membuat Daniel beberapa kali menggelengkan kepalanya.


''Lepas, jangan sesekali kau menyentuh ku.'' Bentak Daniel dengan mendorong tubuh Windy dengan kasar.


''Beri aku cinta satu malam mu ka.'' Ucapan melantur Windy terdengar lagi.


''Cih, Jangan mimpi.'' ketus Daniel.


Dengan tidak tahu malunya, Windy menurunkan tali bajunya sampai terlihat jelas buah dada yang masih terbungkus bra berwarna merah muda itu.


Daniel tertawa garing dengan tangan merogoh sakunya untuk menelpon seseorang.

__ADS_1


''Tolong naik ke atas sekarang.'' Ucapnya dengan tegas.


''Kau menghubungi siapa ka.'' Tanya Windy dengan suara paraunya.


Dua orang bertubuh besar dengan setelan serba hitam berlari ke arah Daniel yang masig berdiri di depan pintu.


''Ada yang bisa saya bantu bos.'' Ucap tegas sala satu pria bertubuh besar itu.


''Urus jallang itu, saya tidak ingin dia memasuki arena gedung ini lagi, mengerti.'' Dengan tegasnya Daniel memerintah dua pria itu.


''Dan satu lagi, terserah kalian akan melakukan apa pada wanita itu, malam ini wanita itu milik kalian,'' ucapnya lagi.


''Baik bos.'' jawabnya dengan wajah yang menatap Windy dengan tatapan lapar, dengan satu hentakan tubuh Windy yang sudah tidak sadarkan diri sudah berada di gendongan sala satu pria itu.


Daniel segera masuk dan membanting pintu dengan keras.


''Wanita tidak tahu malu.'' Gerutunya.


Di luar kamar di balik tembok ternyata Devita menyaksikan itu semua, ada rasa senang dan iba. Senang karena Daniel tidak tergoda dan iba melihat wanita yang bernama Windy itu akan berakhir di tangan dua pria bertubuh besar itu.


Dengan bibir yang melengkung indah, Devita mengetuk pintu Daniel dengan satu tangannya dan satunya lagi memegang mangkok yang berisikan sup jamur buatannya.


Setelah pintu terbuka, Devita mengarahkan mangkuk itu ke wajah Daniel yang menatapnya heran.


''Aku buat sup ini untuk kamu, di makan ya.'' Ucap Devita dengan senyum yang membuat Daniel terpesona.


''Aah iy-iya, Terima kasih, mau masuk dulu.'' ..


''Tidak, sudah malam, tidak baik wanita masuk ke kamar pria di tengah malam seperti ini.'' Jawab Devita dengan wajah polosnya.


''Aah iya kau benar.''..


''Ya sudah, aku balik ke kamar yaa, selamat malam.''


Cup


Tindakan yang Daniel tidak akan duga, Devita mengecup pipi sebelah kanan Daniel dengan kilas dan berlalu begitu saja.


Daniel yang masih terpaku menatap punggung Devita yang menghilang di pintu tangga darurat, ada rasa bahagia yang Ia rasakan saat ini.


Tangan mengusap pipi yang bekas kecupan Devita dengan bibir yang melengkung.


''Aku tidak akan mencuci muka ku, sampai Devita menciumnya lagi untuk pipi sebelahnya.'' Gumam nya dengan bahagia.

__ADS_1


Kejutan Malam yang membuat Daniel bahagia.


__ADS_2