Cinta CEO Arrogant

Cinta CEO Arrogant
Pulang ke Mansion


__ADS_3

Pada saat Devita ingin melangkahkan kakinya menuju Fakultas nya, ada tangan kekar yang menyekal pergelangan tangannya.


''Devi.'' Suara barinton milik seorang pria membuat Devita memejamkan matanya, karena dia sangat tahu milik siapa suara itu.


''Dev pleas, mau sampai kapan kamu menjauh dari saya.'' Ucapnya lagi, tapi Devita belum mau menjawab ataupun menoleh langsung ke arah pria itu.


''Saya sudah memberikan semuanya yang kamu pinta.'' Ucapannya kali ini membuat Devita merasa heran.


''Memangnya saya sudah meminta apa saja sama kamu.'' Tanya Devita dengan muka yang datar dan suara yang dingin.


''Saham, emas, berlian dan yang lainnya.'' Ujar pria itu dengan mengdikte semua pemberiannya.


Devita tersenyum sinis mendengar ucapan Pria itu.


'' Kamu memberi itu semua ke siapa?'' tanya Devita menatap sinis langsung ke manik mata Pria itu.


''Ya ya, ke tante Sari.'' ..


''Ya kamu pinta balik saja pemberian mu itu.'' Ketus Devita.


''Ya tidak bisa begitu Dev.'' ..


''Terus aku harus apa ka, menikah dengan kamu? Maaf ka aku tidak bisa.'' Ujar Devita dengan pandangan serius.


''Tapi Dev, Aku benar-benar sayang sama kamu.'' Ucap nya memasang wajah sendunya.


Saat Devita ingin menjawabnya, Puspa dan Jonathan datang, mata Jonathan tertuju ke cekalan pria itu yang terlihat sangat kencang.


Dengan kasarnya Jonathan melepaskan cekalan pria itu dari pergelangan tangan Devita.


Devita terlihat meringis karena bekas cekalan pria itu terlihat memerah.


''Anda siapa, Hah!!'' Ucap pria itu dengan nada tinggi.


''Anda yang siapa, berani sekali menyakiti seorang wanita.'' Ucap Jonathan dengan tegasnya.


Melihat kedua pria di hadapannya saling bersitegang, Devita segera melerainya.


''Jo udah Jo, sebaiknya kita segera masuk kelas, sepertinya Pak Galih sudah datang.'' Ucap Devita mencoba mengalihkan perhatian Jonathan.


''Iya Jo, pak Galih sudah ada di kantor,'' timpal Puspa.


''Iya, ayo Dev, Pus.'' Dengan mata yang tajam memandang tepat ke pria itu, Jonathan menggandeng kedua wanita itu meninggalkan pria itu.


''Shit!!! Aku harus lebih berusaha lagi meluluhkan hati Devi,'' Gerutu Pria itu.


.

__ADS_1


''Dev Pria itu siapa?'' tanya Jonathan di sela-sela makan nya.


Ya mereka saat ini sedang berada di kantin untuk mengisi perut setelah mengikuti kelas Dosen yang terkenal kiler itu.


''Itu yang waktu itu aku pernah cerita ke kalian, soal Tante Sari menjodohkan aku dengan pengusaha,'' ucap Devita


'' jadi yang mau dijodohkan sama kamu itu pria tadi?'' tanya Puspa memastikan


Devita hanya mengangguk menanggapi pertanyaan Puspa.


''Memang nya dia mau apa kesini?'' tanya Puspa lagi.


''Dia hanya ingin perasaan nya di balas dengan ku.'' ..


''Isshh, orang kok seperti itu, perasaan itu kan tidak bisa di paksakan.'' Ucap Puspa dengan kesal.


''Kenapa kamu yant kesal Pus?'' goda Jonathan.


''Ya kesal aja.''..


''Dasar kau ini.'' Devita hanya menggelengkan kepala nya.


.


Setelah mengantarkan Devita ke kampus, Daniel tidak langsung pulang ke Apartemennya, melainkan mampir ke Mansion nya yang sudah lama di tinggalkan nya.


''Masi sama seperti dulu.'' Gumam Daniel melihat bangunan Mansion yang begitu kokoh dan mewah.


Daniel menatap nanar pada sebuah kolam kecil yang dulu pernah membuat dirinya hampir merenggut nyawa karena siksaan yang dia dapatkan.


Perlahan Daniel melangkah maju memasuki Mansion itu.


para Maid menyambutnya dengan hormat, dan seorang Pria tua keluar dengan kursi roda dari dalam menyambut dengan senyum dan mata yang berkaca-kaca.


''Nak, kau pulang?'' lirih pria itu.


Daniel yang melihat pria rentang yang menyambutnya menggunakan kursi roda itu tersenyum hangat dengan dada yang berdebar dan hati yang tersayat tatkala melihat Ayah kandungnya dengan wajah yang lusuh.


'' Ayah, Bagaimana keadaan Ayah?'' tanya Daniel dengan posisi yang mensejajarkan ayahnya yang di kursi roda itu.


'' Ayah baik-baik saja nak, Lalu bagaimana denganmu?'' tanya Ayah-nya.


''Daniel baik-baik saja Yah, kita masuk ya,'' ucap Daniel.


Daniel mengambil alih kursi roda dari tangan suster yang merawat Ayahnya. dengan rasa sayang Daniel mendorong kursi roda itu dengan perlahan takut menyakiti sang ayah.


Daniel membawa Sang Ayah ke sebuah Taman yang ada di belakang bangunan mewah itu.

__ADS_1


''Yah, apa wanita itu tidak merawat Ayah?'' tanya Daniel dengan lembut tapi menyimpan amarah yang kapan saja siap meledak.


''Jangan seperti itu nak, walau bagaimana pun beliau adalah Ibu kandung mu sendiri.'' Ucap sang Ayah dengan menasehati.


''Jangan sebut kalau dia Ibu kandung ku Yah, karena sikap nya sadari dulu tidak mencerminkan dia sebagai Ibu,'' ketus Daniel.


''Mau kau menolak pun, kenyataan nya memang seperti itu Daniel.'' ..


''Ah sudah lah tidak usah membahas wanita itu.


Ayah sudah makan?'' Ucap Daniel mengalihkan pembicaraan.


Pria tua yang di sebut Ayah itu tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


''Daniel siapkan ya Yah, nanti Daniel suapi.'' Daniel berlalu ke dalam Mansion menuju dapur dan menyiapkan makan Ayahnya dengan tangannya sendiri.


''Tuan Muda, biar saya saja yang menyiapkan.'' Ucap sala satu Maid.


''Tidak perlu, saya ingin menyiapkannya sendiri,'' ketus Daniel.


Dengan terampil, Daniel membuat bubur nasi dengan campuran sayur di dalamnya.


20 menit Daniel berkecikabu di dapur, akhirnya makanan untuk sang Ayah selesai juga di buatnya.


''Ayah, makan yaa.'' Dengan telaten Daniel menyuapi sang Ayah dengan kelembutan.


Sang Ayah pun menerimanya dengan rasa haru bahagia, bagaimana tidak bahagia, Anak bungsunya yang sangat ia rindukan selama ini datang dengan tiba-tiba dan saat ini sedang menyuapinya dengan kasih sayang.


''Yah, ikut Daniel tinggal di Apartemen ya.'' Bujuk Daniel.


Sang Ayah hanya menggelengkan kepalanya, ada sebuah rasa kecewa di mata Daniel yang melihat Ayah-nya menolak lagi ajaknya, sudah berulang kali Daniel membujuk dan berulang kali juga sang Ayah menolak nya.


Tag Tag Tag


Sebuah suara langkah kaki seseorang mendekat ke arah Daniel dan Ayah-nya.


''Oh rupanya anak bungsuku yang datang, kau tidak berniat untuk menemui ku terlebih dulu nak.'' Ucap Wanita paru baya yang masih terlihat cantik karena penampilannya.


''Cih, kau sebut aku anak mu, bahkan aku belum pernah merasa di perkukan sebagai layak nya anak dengan mu,'' sindir Daniel, yang masih menyuapi sang Ayah.


''Tapi aku yang telah melahirkan mu Daniel.'' Ucap Wanita itu dengan meninggikan suaranya.


''Aku tidak minta di lahirkan dari wanita murahan seperti Anda,'' ketus Daniel.


''Kamu sudah keterlaluan Daniel.'' Teriak wanita itu tidak terima dengan ucapan Daniel.


''Kenapa? apa ada yang salah dengan ucapan saya, Anda tidak terima, apa anda ingin menyiksaku seperti dulu.'' Ucap Daniel dengan menyeringai.

__ADS_1


Dengan rasa amarah wanita itu berlalu pergi meninggalkan Daniel dan Ayah-nya yang sedari tadi hanya menyimak pembicaraan anak dan Ibu itu tanpa ingin mencampuri.


Bersambung..


__ADS_2