Cinta CEO Arrogant

Cinta CEO Arrogant
Zen_Linda


__ADS_3

Terkejutnya Zen membuat dia mematung cukup lama, karena orang yang menemuinya di hotel tempat ia menginap adalah orang yang ingin di temui nya yang tak lain adalah Linda sendiri.


'' Kau,'' lirih Zen dengan wajah yang memerah.


'' Zen,'' ucap Linda dengan senyum manisnya.


Namun sikap Linda membuat Zen bertambah kaget karena Linda tiba-tiba memeluknya dengan erat.


'' Kamu kenapa?'' tanya Zen yang dia sendiri tidak tahu harus apa, apa harus senang atau harus bersikap sebaliknya.


Jantung Zen benar-benar berdetak dengan cepat, baru kali ini Zen merasa tidak bisa berdiri dengan kaki kekarnya.


'' Bawa aku,'' ucap Linda yang masih memeluk Zen.


'' Ba-bawa, Ma-maksudnya,'' tanya Zen dengan gugup.


Linda melepaskan pelukannya dan menatap langsung manik mata berwarna coklat milik Zen.


'' Jawab pertanyaan ku dengan jujur,'' ucap Linda dengan wajah yang serius.


'' Apa?''


'' Apa alasan kamu begitu peduli pada ku,'' pertanyaan Linda membuat Zen salah tingkah, dia benar-benar bingung jawaban apa yang harus ia ucapkan.


Tingkat kegengsian nya Zen sangatlah tinggi, apa dia akan merendahkan harga dirinya Kalau mengakui perasaannya yang sebenarnya? itulah isi pikiran Zen.


'' Jawab Zen,'' tegur Linda lagi karena Zen yang hanya diam saja sedari tadi.


'' Ka-karena aku, aku. Ya karena aku peduli pada mu,'' jawab Zen dengan takut.


'' Alasannya?''


'' Ah sudahlah, sekarang aku ingin tanya pada mu, alasan kamu kesini untuk apa?'' tanya Zen yang membalikkan pertanyaan Linda.


'' Ck, kau saja tidak bisa menjawab pertanyaan ku tapi bisa-bisanya malah berbalik memberikan pertanyaan padaku.'' Ketus Linda.


'' Memangnya kau mau jawaban seperti apa dari mulut ku?''


'' Tidak perlu bertanya, jawablah sesuai apa yang kau rasa,'' ucap Linda.


Zen terdiam, ia memikirkan jawaban yang harus ia berikan pada Linda.


'' Baiklah aku akan menjawab nya, dari mulai nya aku peduli padamu itu karena kau sangat mirip dengan adik ku yang sudah lama meninggal karena kecelakaan,'' jawab Zen yang menjeda ucapannya.

__ADS_1


Jawaban Zen membuat Linda tercengang tak percaya. '' Jadi selama ini aku hanya di anggapnya sebagai adiknya,'' gumam Linda dalam hati.


'' Adik,'' lirih Linda.


'' Ya,''


Linda mengatur nafasnya yang mulai sesak karena penurutan Zen.


Perlahan Linda memundurkan langkahnya tiga langkah dari tempat Zen berdiri.


'' Oke, kalau begitu aku pamit,'' ucap Linda hang langsung berlalu pergi meninggalkan Zen yang tengah menatapnya dengan nanar.


'' Linda,'' panggil Zen yang tidak di hiraukan Linda.


'' Ah sial, dia belum mendengar sepenuhnya alasan ku,'' gumam Zen yang ingin segera mengejar Linda yang sudah menjauh dari sana.


Tapi saat dia ingin mengejar Linda, tiba-tiba ponselnya berdering yang menampilkan nama Daniel di sana.


'' Pengganggu,'' maki Zen pada ponselnya sendiri yang langsung di buang ke bawah lantai dan langsung mengejar Linda.


'' Tuan ponselnya terjatuh!'' teriak pekerja cleaning servis di sana.


'' Ambilah, bonus untukmu.'' Jawab Zen yang masih berlari kecil menyusul Linda yang sedang menunggu pintu lift terbuka.


Dengan tangan gemetar, Linda terus menekan-nekan tombol lift berharap pintunya agar cepat terbuka namun tetaplah dia harus menunggu agar pintu itu terbuka untuk nya.


Tapi saat pintu lift itu terbuka dan ia ingin melangkah kan kakinya ke dalam lift ada tangan yang langsung menariknya dan membawanya ke dalam dekapan nya.


Linda mengangkat kepalanya karena ingin melihat siapa yang bersikap kurang ajar padanya, namun saat matanya melihat siapa yang memeluknya tiba-tiba air mata Linda kembali menetes.


'' Kau ini selalu seperti itu, selalu pergi tanpa permisi, kau tau itu sikap yang tidak mencerminkan seorang pemilik perusahaan seperti mu.'' Ucap Zen dengan lembut.


Linda terdiam, ia berharap ini bukanlah mimpi, tapi dekapan hangat Zen membuat nya yakin kalau ini bukan mimpi maupun halusinasi yang seperti nyata.


Zen mengangkat tubuh Linda ke dalam gendongan nya dan membawanya masuk ke dalam kamar hotelnya.


Selama Zen berjalan mata mereka tidak teralihkan ke yang lain melainkan mata mereka terkunci dalam tatapan satu sama lain.


Zen meletakkan Linda ke atas ranjang nya dengan perlahan. '' Kau mau tau kelanjutan jawaban ku kan?'' ucap Zen dengan lembut, Zen berbicara sangat dekat dengan wajah Linda sehingga Linda dapat mencium bau nafas Zen yang beraroma min dari pasta gigi yang di gunakan nya.


Linda tidak dapat berbicara lagi, dia hanya mampu menggerakkan kepalanya sebagai jawaban nya.


'' Semula aku sangat membenci mu karena telah merusak figura milik ku yang di sana terdapat sebuah potret tiga wanita yang sangat berarti bagi hidupku. Ibu ku, adik ku dan calon istri ku..''

__ADS_1


'' Calon istri?'' potong Linda.


'' Dengarkan dulu,'' omel Zen yang langsung menyentil dahi Linda.


'' Ya Calon istri ku, yang sudah berpulang ke pangkuan Tuhan bersama ibu ku juga adik ku dalam satu kecelakaan, tapi perlahan aku menyadari kau sangat mirip dengan adik dulu, dan kau tau..''


'' Apa?'' potong Linda lagi.


Zen meniup wajah Linda dengan kesal karena ucapannya lagi-lagi di potong Linda.


'' Aku menyadari kalau perasaan ku dan kepedulian ku pada mu bukanlah untuk seorang adik melainkan untuk seorang teman..''


'' Teman? jadi selama ini kau mencium ku kau memeluk ku dan menyelamatkan aku dari paman ku hanya sekedar menganggap aku teman?'' lagi-lagi Linda memotong ucapan Zen yang belum selesai berbicara.


'' Kau mau diam atau mau ku lahap habis bibir bawel mu itu,'' ancam Zen dengan tatapan tajamnya yang terarah ke bibir merah jambu Linda.


Dengan polosnya, Linda langsung merapatkan bibir nya dan menggeleng kan kepalanya dengan cepat.


'' Maksud kata teman adalah, teman hidup ku Melinda Carrollin,'' ucap Zen dengan senyum tipisnya.


Wajah Linda memerah dengan bibir yang sedikit terangkat, namun tidak berbicara apapun.


'' Kenapa diam, aku sudah selesai berbicara, tadi kau selalu memotong ucapan ku tapi kenapa tidak mau mengatakan apapun lagi,'' goda Zen.


'' Jadi?'' hanya kata itu yang terucap dari mulut Linda.


'' Aku tidak mau kehilangan teman hidup ku, dan aku mau kau menjadi teman hidup ku untuk selamanya,'' ucap Zen yang langsung memeluk Linda dan tentunya pelukan Zen di balas dengan Linda dengan eratnya.


'' Terimakasih,'' lirih Linda.


'' Tidak ada kata terimakasih dan Maaf dalam sebuah hubungan bernama teman hidup.''


Zen melepaskan dekapannya dan mendekatkan wajahnya ke wajah Linda, mata Linda terpejam dengan perlahan, senyum Zen mengembang karena melihat Linda yang memberikan lampu hijau untuk dia mendapatkan kan bibir hangat Linda.


Namun pikiran jahil Zen muncul dengan tiba-tiba, bukan menciumnya, Zen malah meniup wajah Linda dengan kencang.


'' Percaya diri sekali kamu, memangnya kau pikir aku mau mencium mu,'' goda Zen meledek Linda yang sudah menekuk wajahnya karena malu.


'' Kau sudah mulai berani ya,'' goda Zen dengan nada yang kembali melemah.


'' Maks...'' ucapan Linda terpotong karena tindakan Zen yang langsung melahap habis bibir Linda tanpa ampun, dari m*lumatnya sampai menukar salivanya untuk mendapatkan saliva Linda yang membuat dia candu untuk terus di nikmati nya.


TBC...

__ADS_1


__ADS_2