Cinta CEO Arrogant

Cinta CEO Arrogant
Calon Mertua


__ADS_3

Budayakan Like sebelum atau setelah Membaca ya aka aka ku tersayang 😊😊


Dan tolong tinggalkan jejak komentar nya doong, biar Author lebih semangat nulisnya 😊😊😊..


Banyak maunya yaaπŸ˜„ iya emang πŸ˜†πŸ˜†


eettt satu lagi,, VOTE nya jangan lupa😁✌✌


Serta tipsnya bila perluπŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ Nglunjak kata orang sunda mah yaa...πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


...πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€...



HAPPY READING πŸ“–..


πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Suasana mencekam terjadi di sebuah ruangan kerja yang berada di Mansion megah milik Mahendra Huang.


Dua orang pria berbeda generasi itu sedang beradu pandang dengan tatapan tajamnya masing-masing.


Tidak ada yang memulai untuk bicara, tatapan keduanya seakan menyiratkan watak yang sama, Sama-sama keras.


''Jadi, kau merasa mampu menjaga anak ku.'' Ucap Mahendra yang memulai pembicaraan dengan nada yang dingin.


''Menurut mu, Tuan.'' Jawab Daniel dengan pertanyaan lagi, ya benar Daniel maupun Mahendra mempunyai sifat yang hampir serupa.


Mahendra menghela nafasnya jengah, Ia menyadari sikap dan sifat Daniel dan dia sama, sangat sulit memang membicarakan hal yang sensitif.


''Menurut ku, tidak.'' Ucapan Mahendra membuat Daniel mendelikan mata elangnya.


''Kau bilang tidak, aku bahkan berani bertaruh nyawa deminya. Dan kau bilang aku tidak mampu menjaganya.'' Emosi Daniel meledak karena ucapan Mahendra, menurutnya ucapan Mahendra sangat merendahkan martabat nya.


''Buktinya, anak ku bisa di serang seperti itu, jika aku tidak bergerak cepat. Mungkin saja, anak ku sudah di bawa dengan orang-orang itu.'' Ucapnya dengan santai, walau Daniel berbicara dengan emosinya, Mahendra berbicara dengan santainya.

__ADS_1


Kali ini Daniel bungkam, yang di katakan Mahendra ada benarnya memang, tapi sifat arogan yang mendarah daging membuat Ia tidak bisa menerima kata-kata itu.


''Lalu, mau mu apa Tuan?'' tanya Daniel yang bisa sedikit mengontrol emosinya.


''Biarkan Devita memilih, ikut dengan pria yang tidak bisa mengontrol emosinya seperti mu, atau tetap tinggal dengan ku, Ayah kandung nya.'' Ujar Mahendra dengan senyum yang menarik sebelah bibirnya.


Daniel tengah berfikir, bagaimana kalau Devita memilih pria tua di depannya ini, yang memang Ayah kandung nya, ketimbang dirinya.


Lama Daniel hanya diam, sampai suara tawa dari Mahendra yang menggema membuat Daniel terkesip dan menatapnya dengan heran.


''Ternyata kau ada rasa takut juga ya,'' tawa Mahendra.


''Ck, takut kau bilang. Sama sekali tidak, aku yakin Devita akan memilih ku.'' Ucap Daniel dengan yakin walau hatinya bertolak belakang dengan ucapannya.


''Sangat percaya diri sekali kau,'' Ketus Mahendra.


Tangan Mahendra dengan lincah menekan beberapa tombol di telepon yang terletak di atas meja dan menempelkan gagangnya di daun telinga nya.


''Antarkan nona muda mu ke ruangan ku,'' ucapnya pada seseorang di sebrang sana.


''Kita lihat saja nanti,'' gumam Mahendra.


Tidak berselang lama, Devita masuk setelah mengetuk pintu.


''Kemarilah, Nak.'' Ucap Mahendra dengan lembut.


''Ada apa, Ayah?'' tanya Devita dengan kaki yang melangkah menuju Ayahnya.


Mata Daniel mengikuti langkah Devita, tatapan lembut mengarah ke Devita yang di balas dengan senyuman manis dari Devita.


Devita sudah duduk di sofa sebrang Daniel. Mahendra bangkit dari kursi kerjanya dan melangkah menuju sofa.


''Ayah ingin bertanya pada mu, kau akan tetap tinggal disini, atau ikut dengan pria di depan mu itu?'' tanya Mahendra dengan tegas.


Kebingungan melanda Devita, sejujurnya Ia sangat ingin tinggal di sini, tapi di sisil lain Ia juga ingin ikut Daniel.

__ADS_1


Mata Devita terus bergantian melihat Daniel dan Ayahnya. Lama Devita bungkam karena terus berfikir, dengan menghela nafasnya dengan kasar akhirnya Devita membuka mulutnya.


''Aku masih merindukan Ayah, aku akan tetap tinggal disini,'' lirih Devita.


''Vita, apa kau yakin?'' tanya Daniel dengan lesu.


Devita tidak menjawab nya, Ia hanya menundukkan kepalanya karena tidak berani menatap langsung manik mata hazel Daniel.


Daniel mengerti posisi Devita, dia juga tidak bisa memaksakan kehendak Devita yang ingin tetap tinggal di kediaman Ayahnya.


Tapi sejujurnya Ia sangat ingin memeluk Devita, karena rasa rindunya yang beberapa hari ini tidak bertemu dengan nya.


''Ya sudah, aku tau kau merindukan Pak tua itu, kalau begitu aku pergi ya. nanti aku datang lagi,'' ucap Daniel.


Devita tersenyum mendengar ucapan nyeleneh Daniel, dengan gerakan kecil kepalanya Devita berkata Iya.


Daniel berdiri begiru juga Devita, keduanya saling mendekat dan Daniel mengecup kening Devita.


''Kau jangan lupa makan, oke.'' Ucap Daniel dengan lembut.


''Cih, bahkan dia berani mencium anak gadis orang di hadapan orang tua nya langsung.'' Gumam Mahendra dengan kesal.


''Kau juga,'' balas Devita.


''Calon mertua, saya pamit. Jaga calon istri saya dengan baik,'' ucap Daniel dengan senyum jahilnya.


''Cih!! pergi sana.'' Ucap Mahendra dengan ketus.


☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘


Hy para readers ku, maaf ya baru up karena sudah lebih baik sedikit.


Dan Terima kasih atas doa-doa kalian dan semangatnya. Aku sayang kalian😘😘😘😘Maaf ga bisa bales komenan kalian satu-satu, karena tangan ku masi bengkakπŸ˜… nulis segini aja dua hari baru kelarπŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


Jadi curhat kan....

__ADS_1


Terima kasih sekali lagi πŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ€—


__ADS_2