
Malam ini sesuai janji, Reno telah berlalu siap akan menghadiri makan malam undangan Ayah Mahendra bersama temannya juga Anak yang akan di kenalkan pada Reno.
Saat ini Reno sudah berada dalam perjalanan menuju dimana restoran yang ayahnya maksud, tiba-tiba ponselnya berdering dari saku celananya dan Reno pun menepikan sebentar mobilnya.
'' Ya ayah,'' jawab Reno setelah menjawab panggilan yang ternyata dari Mahendra.
'' Kah dimana Ren, ayah sudah di disini,''
'' Aku sedang di jalan, Yah.''
'' Oh baiklah, kalau begitu ayah tunggu ya, hati-hati.'' setelah mengucapkan apa yang ingin di sampaikan, Mahendra menutup panggilan telepon nya dan Reno pun melanjutkan perjalanan nya.
Di restoran Mahendra yang sudah berada di sana bersama seorang pria paruh baya yang seusia nya serta bersama seorang gadis muda cantik yang sedari tadi hanya diam memainkan ponselnya.
'' Hen, bagaimana perkembangan perusahaan mu, setelah kau mencoba pensiun?'' tanya teman dari Mahendra.
'' Ya sesuai expetasi ku, semua berjalan dengan lancar, anak sulung ku ini sangat bisa di andalkan, semua aku percayakan padanya,'' jawab Mahendra.
'' Syukurlah, itulah keuntungan mempunyai anak laki-laki yang suatu saat ini akan bisa melanjutkan untuk mengurus perusahaan serta aset-aset lainnya.''
'' Menurut ku anak laki-laki dan perempuan sama saja,''
Kedua pria paruh baya itu terus berbincang dari mengenai keluarga sampai masalah bisnis, dan anak gadis yang duduk di samping ayah nya hanya diam tanpa ingin ikut serta ke dalam perbincangan mereka.
Tidak lama kemudian, seorang pria tampan sudah berdiri di samping Mahendra dan menyapa nya dengan sopan.
'' Ayah, maaf aku terlambat,'' ucap Reno.
'' Ah tidak-tidak, duduk nak,'' jawab Mahendra.
'' Mir, kenalkan ini anak sulung ku,'' ucap Mahendra memperkenalkan Reno pada temannya.
''Halo nak' saya teman ayah mu dan ini kenalkan anak paman, Amaira.'' Ucap pria tua bernama Amir itu.
'' Senang berkenalan dengan anda Paman dan Amaira.'' Ucap Reno yang sudah berjabat tangan dengan Amir serta anaknya, Amaira.
'' Amaira,'' ucap gadis pendiam itu memperkenalkan namanya.
'' Reno,'' jawab Reno, dan mereka pun duduk kembali serta memesan makanan untuk mereka makan.
Setelah makan, mereka melanjutkan perbincangan dari perkenalan sampai basa basi mengenai perusahaan dan sampai akhirnya mereka membicarakan mengenai maksud dari pertemuan itu.
'' Emmm jadi begini apa kau tau Reno, saya dan Ayah mu mengajak kamu juga anak saya untuk makan malam ini tujuannya apa?''
'' Ya saya tau, Paman.
__ADS_1
'' Baguslah, jadi bagaimana apa kau setuju menjalin hubungan bersama anak gadis saya,''
Reno terdiam sesaat dengan melirik gadis yang sedari tadi diam itu.
'' Saya akan mencoba perkenalan dulu Paman, dan urusan nantinya atau selanjutnya saya harap paman maupun Ayah tidak mempermasalahkan keputusan saya maupun anak paman.'' Ucap Reno dengan dewasa.
'' Ya, tidak masalah, saya setuju. Memanglah harus masa perkenalan dahulu untuk lebih dekat lagi bukan?'' ucap Amir teman Mahendra.
'' Ya kau benar , Mir.'' ucap Mahendra menimpali ucapan Amir teman satu kampus nya dahulu.
'' Kalau begitu Hen, bagaimana kalau kita memberikan mereka waktu untuk berbincang dan kita akan pergi dari sini,'' usul Amir dan Mahendra menyutujui nya.
Mahendra dan Amir pun berpamitan pergi meninggalkan Reno bersama Amaira di restoran itu.
'' Emmm, apa kau mau berjalan-jalan di taman dekat sini?'' tawar Reno memulai pembicaraan.
'' He'em, boleh.'' Jawab Amaira, dan merekapun meninggalkan restoran untuk sekedar berjalan-jalan di taman yang ada di sekitar sana.
Cukup lama mereka saling diam, dan sebagai pria dewasa Reno mencoba mengajak berbincang dengan bahasa yang lebih santai agar gadis yang sedari tadi diam itu bisa lebih merasa nyaman.
Semula Reno berdehem terlebih dulu dan memulai membuka mulutnya.
'' Emm, apa kau setuju dengan rencana perjodohan ini?'' tanya Reno.
'' Emmm sebenarnya aku tidak menyetujui nya, mengingat jaman ini sudah lebih modern lagi, sebenarnya kau bisa saja melakukan penolakan kalau kau tidak mau, tidak harus terus menuruti apa yang ayah mu katakan, bukan.'' Jawab Reno dengan jawaban yang simple namun memiliki arti dan maksud di dalamnya.
'' Ya kau benar, tapi orang hanya bisa berbicara tanpa tau permasalahan yang sebenarnya,'' jawab Amaira dengan teka-teki di dalam ucapan nya.
Amaira berjalan duluan dan duduk di kursi taman dengan penerangan sebuah lampu yang sedikit redup.
Reno berhenti melangkah berpikir apa yang dimaksud gadis itu.
'' Permasalahan?'' gumam Reno.
'' Seperti nya ada sebuah konflik ayah serta anaknya,'' lanjutnya dan Reno pun menyusul untuk duduk di kursi itu.
'' Apa kau memiliki kekasih?'' tanya Reno tanpa basa-basi.
Amaira terdiam sejenak. '' Bukan kekasih, kurang lebih aku sudah menyukai pria baik, tapi sayangnya dia sudah meninggalkan negara ini untuk melanjutkan pendidikan nya di negara tetangga.''
'' Emmm begitu ya, tapi kenapa kau tidak berterus terang kepada orang tua mu?''
'' Penolakan akan di terima dengan baik jika penawaran tidak ada paksaan.''
'' Jadi kau di paksa dijodohkan dengan ku?''
__ADS_1
'' Ya bisa di bilang seperti itu.''
'' Ck, seperti judul novel saja.''
'' Orang tua kita sungguh kolot ya,'' ucap Amaira.
'' Ya mungkin, tapi percayalah mereka melakukan itu karena rasa khawatir yang berlebihan pada anaknya, dan intinya mereka sayang pada anak nya.''
'' Emm, kalau kau apa setuju dengan rencana perjodohan ini?'' kini giliran Amaira yang bertanya pada Reno.
'' Kalau boleh jujur, aku sama sekali tidak setuju.''
'' Kenapa?''
'' Karena aku juga memiliki wanita yang aku suka dan cinta dan menurut ku dia patut diperjuangkan.''
Mereka terus saja berbincang sampai tidak terasa malam sudah sangat larut dan Reno menawarkan untuk mengantar nya sendiri ke rumah Amaira.
Di perjalanan mereka kembali terdiam dengan pikiran masing-masing.
'' Nathan, apa kau tidak ingin kembali?'' gumam Amaira dalam hati.
'' Dinar, aku akan terus berjuang untuk mendapatkan simpatik dari mu walau bagaimanapun caranya,'' gumam Reno dalam benaknya.
Mereka hanyut di dalam monolog masing-masing, dan sampailah mereka di kediaman Amir dan Amaira yang mewah.
'' Terimakasih Tuan Reno, apa kau ingin mampir terlebih dulu?''
'' Ah aku rasa tidak perlu, sudah larut juga, kau istirahat lah.''
'' Baiklah, hati-hati.'' Reno pun melajukan mobilnya meninggalkan pekarangan rumah Amaira.
Malam yang di pikirannya akan menyebalkan tapi Reno bisa menanganinya dengan baik, karena dia berpikir akan melakukan misi penolakan dengan rapih tanpa ada yang merasa terluka karena tindakan nya kelak.
Mahendra pun tidak mempersalahkan kelak keputusan Reno akan memutuskan apa yang dia mau, Mahendra hanya berusaha untuk anak sulungnya yang dia kira belum juga memiliki wanita untuk di jadikan sebagai seorang istri nya kelak.
'' Halo Mir, aku akan mengatakan sesuatu padamu, jika nanti di antara anak kita memberikan keputusan untuk kedepannya walaupun keputusan nya tidak sesuai harapan kita, aku harap di antara kita tidak ada yang merasa kecewa.'' Ucap Mahendra di sebrang telpon.
'' Ya Hen, aku tau, kita juga tidak bisa memaksakan kehendak anak kita kan, semua tergantung anak-anak kita.'' Timpal Amir.
'' Ya kau benar, kalau begitu aku tutup ya,''
Perbincangan antara dua pria yang tidak lagi muda itu berakhir karena sudah larut.
TBC..
__ADS_1