
...Budayakan Like sebelum atau setelah Membaca ya aka aka ku tersayang ππ...
***Dan tolong tinggalkan jejak komentar nya doong, biar Author lebih semangat nulisnya πππ..
Banyak maunya yaaπ iya emang ππ
eettt satu lagi,, VOTE nya jangan lupaπββ
...πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ***...
Seperti biasa, Devita berangkat ke kampus di antarkan Daniel yang memang satu arah dengan kantornya.
Daniel yang selalu tersenyum membuat Devita merasa heran, ''Ada apa dengan dia?'' batin Devita selalu bertanya-tanya.
''Emmm Daniel,'' panggil Devita.
''Ya Vita, kenapa?'' jawabnya dengan cepat.
''Kau kenapa?'' pertanyaan Devita membuat Daniel mengerutkan alisnya.
''Kenapa, kenapa apanya?'' tanya Daniel.
''Sejak tadi, kau selalu tersenyum apa ada yang lucu di diriku ya.'' Tanya Devita dengan polos nya mengecek wajahnya di kaca spion Daniel.
''Tidak, kau malah cantik kok, aku tersenyum karena sedang bahagia.'' ..
''Bahagia, kenapa?''..
''Tadi malam aku mendapatkan kejutan yang membuat ku merasa terbang di awan-awan.'' Jawaban Daniel membuat Devita tengah berfikir, setelah tau maksud dari ucapan Daniel, Devita segera memalingkan wajahnya.
''Hei, kau tidak ingin tahu kejutan apa yang ku dapat tadi malam.'' Ucap Daniel dengan menggoda Devita.
''Tidak, aku tidak ingin tahu.'' Jawab Devita dengan cepat.
''Kau yakin, kalau kau bertanya aku akan menjawab nya.'' Daniel terus menggoda Devita yang tengah merasa malu itu.
''Aku tidak ingin tahu.'' Ucap Devita memperjelas ucapannya.
''Haaahh, ya sudah kalau begitu, padahal gara-gara aku mendapatkan kejutan itu, aku bahkan mandi dengan tidak mencuci wajah ku lho.'' Ucapan Daniel berjlhasil membuat Devita menoleh ke arahnya.
''Kau tidak mencuci wajah mu? isshhh jorok sekali.'' Ucapnya dengan pandangan jijik.
''Aku tidak akan mencuci wajah ku sampai kapanpun, kalau tidak mendapatkan kecupan di sebelah kirinya juga.'' Ucap Daniel dengan enteng.
''Daniel kau sungguh mesum,'' ketus Devita.
''Aku tidak mesum, Vita.''..
''Karena, rasanya kurang kalau hanya sebelahnya saja,'' lanjutnya.
Devita tidak menggubris ucapan Daniel.
''Berhenti disini saja, jangan sampai masuk ke pelataran kampus.'' Ucap Devita mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
''Oh tidak, seorang Ratu, harus di antarkan sampai tujuan,'' goda Daniel lagi.
''Apa kau selalu menggoda para wanita juga, Daniel.'' Tanya Devita dengan tatapan tajam.
''Oh tentu tidak, Aku hanya bisa menggoda pada dirimu saja.'' Jawabn Daniel membuat Devita tidak sepenuhnya langsung percaya.
''Aku saja heran, kenapa sikap ku padanya bisa berbanding terbalik dengan sifat asli ku.'' Batin Daniel, Daniel yang belum pernah menggoda wanita manapun itu, bahkan dekat saja tidak kecuali dengan 2 wanita yaitu kakanya dan teman masa kecilnya.
Daniel benar-benar tidak menanggapi ucapan Devita yang meminta di turunkan di jalan, dia malah memasuki pelataran kampus Devita.
''Keras kepala.'' Gumam Devita.
''Sudah sampai, Nona.'' Ucap Daniel dengan bergurau.
''Terima kasih, Tuan,'' balasnya.
''Ya sudah aku masuk kelas ya, kau hati-hati di jalan.'' Devita yang ingin keluar mobil segera di tahan oleh Daniel.
''Tunggu.''..
''kenapa?'' tanya Devita.
''Apa kau tega, membiarkan aku tidak mencuci wajah ku.'' Ucap Daniel dengan wajah memelas.
''Lalu, aku harus apa.'' Tanya Devita dengan polosnya.
Daniel tidak menjawab, dia hanya menunjuk pipi sebelah kirinya saja. ''Kenapa dengan pipi mu?'' tanya Devita yang masih belum mengerti.
''Balasan yang tadi malam.'' Ucapan Daniel membuat Devita gugup karena malu.
''Tidak akan ada yang melihat nya, kaca mobil ku tidak tembus pandang dari luar.'' Ucap Daniel meyakinkan.
Dengan malu-malu Devita mendekatkan wajahnya kearah pipi kiri Daniel dan 'Cup. sebuah kecupan singkag mendarat apik di pipi kiri Daniel.
''Sudah, aku turun.'' Dengan tergesa-gesa Devita turun dati mobil Daniel dan berlari menjauhi mobil Daniel.
Daniel terkekeh melihat tingkah polos Devita, bagi dia hanya Devita yang mempunyai sisifat polos dan baik, yang lain dia anggap wanita ya sama saja.
Dengan raut wajah yang bahagia, Daniel menancapkan gas nya meninggalkan pelataran kampus Devita untuk menuju kantornya.
Tibalah di gedung yang menjulang tinggi, Daniel turun dari mobil nya dengan senyum yang merekah.
Banyak para karyawan yang merasa heran serta kagum dengan senyuman Daniel yang tidak pernah di lihatnya.
''Parkiran dengan baik.'' Ucap Daniel melemparkan Kunci mobil pada penjaga pintu kantor yang sigap menangkap nya.
''Haahh, kecupan Devita membuat mood ku sangat baik.'' Gumam Daniel.
''Selamat pagi, Tuan.'' Sapa Pria keturunan Hindi itu yang tak lain adalah Zen Batla.
''Ya ya, selamat pagi juga, Zen'' Jawabn Daniel yang belum pernah terucap dari mulutnya membuat Zen heran.
''Apa aku tidak salah dengar, Tuan menjawab salam ku?'' batin Zen.
__ADS_1
''Zen hari ini beri bonus ke semua karyawan, jangan sampai ada terlewat seorang pun termaksud para OB dan OG.'' Perintah Daniel.
''Baik Tuan.'' Jawab Zen walau Ia tidak mengerti kenapa Bosnya tiba-tiba ingin memberikan bonus ke semua karyawan yang bahkan tidak terhitung jumlahnya.
''Masalah jumlah untuk per orang nya, kau atur saja sesuka mu.'' Ucapnya lagi.
''Baik Tuan.'' Jawabnya lagi.
Daniel memasuki Lift khusus dirinya dengan di ikuti Zen, Saat tiba di lantai paling atas tepat di ruangan nya Daniel segera masuk.
''Zen ada jadwal apa hari ini untuk ku.'' Tanya Daniel yang sudah duduk di kursi kebesarannya.
''Jam 9 nanti ada meeting para dewan direksi, dan jam makan siang ada pertemuan dengan LK Group dan setelahnya ada pertemuan lagi dengan AD Group, Tuan.'' Ucap Zen menjelaskan dengan detail.
''Ya ya, baiklah, kau boleh kembali ke ruangan mu, dan jangan lupa untuk bonus para pekerja.'' Ucap Daniel dengan mata dantangan yang sibuk dengan laptopnya.
''Baik Tuan, saya permisi.'' Zen berlalu keluar setelah mendapatkan Deheman dari Daniel.
Zen bertanya-tanya dengan sikap Daniel hari ini yang berbeda dengan biasanya.
''Apa Tuan Daniel, baru memenangkan Tender? tapi Tender apa yang di menangkan nya.'' Zen tidak habis fikir dengan ke anehan Daniel hari ini.
Di Kampus, Gosip yang menyebar luas bahwa Devita yang di antarkan dengan seorang pria jauh lebih tua darinya mencuat ke kelas Devita.
''Dev, jangan di pikirkan ya dengan gosip seperti itu.'' Ucap Puspa dengan perhatian nya.
''Aku bahkan tidak mempermasalahkan, Pu.'' Jawab Devita dengan cueknya.
''Apa kau yakin, Dev.'' Tanya Puspa dengan melihat wajah Devita.
''Iya Puspa, aku tidak mempermasalahkan nya, memang itu kenyataan nya.'' Jawabnya lagi.
Puspa tersenyum lega mendengar nya, Ia takut sahabat nya akan kepikiran dan terganggu dengan gosip yang sudah tersebar luas itu.
''Syukur lah, aku sekarang bisa tenang.'' Ucap Puspa dengan mengusap pundak Devita.
Persahabatan Mereka sudah dari semenjak Puspa dan Devita masuk ke Universitas, sampai 6 semester ini yang berarti selama 3 tahun ini mereka selalu bersama.
Beberapa bulan lagi Devita maupun Puspa akan wisuda dan mendapatkan gelar Doktor di S3 nya.
Di kantor Daniel yang tengah serius dengan beberapa berkas harus di tunda karena ponselnya yang berbunyi.
''Emmm.'' Daniel mengangkat telponnya.
''Benarkah? baiklah nanti wku sendiri yang akan menjemput kalian.'' Ucap Daniel dengan riang.
''Iya iya, ya sudah ya aku tutup dulu, Bye.'' Daniel tersenyum senang mendengar kabar dari seseorang yang tadi menelponnya.
...βBersambung β...
Siapa yang menelpon Daniel??
Kok sepertinya Daniel senang sekali?
__ADS_1
Hayoooo siapaππππ..
ikuti terus jalan cerita nya ya aka akaπππ