
Hari telah berlalu, Minggu telah di lewati dan sudah satu bulan berlalu, Kemal yang sudah melewati masa kritis dan sadar dari maut telah pulih dan sudah kembali ke rumah pribadinya.
Daniel menyuruh Kemal tinggal bersama Dinar juga ayahnya tapi Kemal menolak nya secara halus, karena dia sangat tahu kalau di mansion masih ada ibu tirinya yang sangat membenci nya.
'' Tuan, siang nanti mau makan apa?'' tanya Bi Marni pembantu di rumah Kemal.
'' Terserah bibi, apapun yang bibi masak, aku pasti makan,'' ucap Kemal dengan gurauan nya.
'' Tuan bisa saja, kalau begitu bibi masak Sup Ercis saja bagaimana?'' ucap bi Marni.
'' Iya bi, kebetulan aku juga sedang ingin makan itu,'' sahut Kemal.
Bi Marni pun berlalu ke dapur ingin memasak untuk makan siang, tapi bunyinya bel membuat langkah bi Marni terhenti dan berbalik ingin membukakan pintunya.
'' Bi, biar aku saja,'' cegah Kemal dan di angguki bi Mirna.
Kemal berlalu menuju pintu rumahnya.
'' Kamu, mau apa kesini?'' tanya Kemal dengan wajah datarnya.
'' Kemal, bagaimana keadaan mu?'' tanya seseorang yang berada di hadapan Kemal.
'' Keadaan ku sudah sangat baik,'' jawab Kemal.
'' Eemmm syukur deh, oh ya. Maaf ya waktu kamu sakit aku tidak sempat menjenguknya, karena aku sedang ujian,'' ucapnya.
'' iya tidak apa-apa.'' Kemal berdiri tanpa mempersilahkan orang itu masuk ke dalam rumah nya.
'' Emmm, kalau begitu aku permisi,'' ucap nya untuk pamit.
'' Iya, hati-hati.'' Jawab Kemal yang langsung berlalu dan menutup pintunya kembali.
'' Sampai hati kami tidak mempersilahkan aku masuk Kemal, ya sudah tidak apa, aku mengerti,'' gumam Amaira. Ya orang itu adalah Amaira mantan kekasih Kemal.
Bukan maksud Kemal bersikap kasar tapi itulah sikap Kemal yang harus dilakukan nya semata-mata hanya untuk menjaga perasaan Puspa.
Tidak lama kemudian, bel kembali berbunyi, Kemal menarik nafasnya dengan berat dan kembali ke pintu untuk membukakannya.
'' Ada apa lagi!'' ucapnya dengan kesal.
'' Kemal, kamu kenapa? aku tidak boleh datang kesini?'' tanya seseorang yang ternyata adalah Puspa yang dia kira Amaira.
'' Astaga sayang, maaf. Aku tidak tau kalau yang datang itu kamu,'' jawab Kemal.
'' Memang nya yang datang sebelum aku siapa?'' tanya Puspa dengan tatapan menyelidik.
Kemal terdiam, ia bingung harus menjawab dengan jujur atau tidak, ia takut jika dia berkata yang sebenarnya, Puspa akan marah karena salah paham.
'' Kem, kenapa diam?'' tegur Puspa.
__ADS_1
'' Kalau aku mengatakan nya apa kamu tidak akan marah?'' tanya Kemal.
'' Tidak, memangnya siapa?''
'' Amaira,'' jawab Kemal, Puspa terdiam sejenak namun ia berpikir secara positif karena tanggapan Kemal yang tadi menyambutnya dengan ketus yang dia kira Amaira menandakan kalau Kemal telah menjaga hatinya untuk nya.
'' Terus dianya kemana?'' tanya Puspa yang celingukan mencari Amaira.
'' Mungkin sudah pergi, ayo masuk.'' Ucap Kemal yang menarik lembut tangan Puspa.
Di balik gerbang ternyata Amaira menyaksikan itu semua dengan wajah yang tersenyum walau hatinya terluka, ia benar-benar masih mencintai Kemal tapi dia sangat sadar diri kalau Kemal kekasih hatinya dulu sudah bahagia dengan dunianya bersama kekasih barunya.
'' Aku harus ikhlas,'' gumam Amaira dan berlalu pergi dengan menyetop taksi yang kebetulan lewat.
Di apartemen milik Daniel, Daniel sedang merayu Devita agar mendapatkan jatahnya, tapi Devita yang menurut apa kata dokter yang mengatakan kalau trimester pertama tidak boleh dulu melakukan hubungan suami istri otomatis membuat Devita menolak ajakan Daniel.
'' Honey, ayolah hanya sebentar saja.'' Bujuk Daniel.
'' Tidak Daniel, aku tidak mau titik.'' Keukeuh Devita yang tetap dengan pendiriannya.
'' Dia sudah menagih honey, lihat dia sangat lapar,'' ucap Daniel menunjuk alat tempurnya.
'' Hissshhh, kau ini, sudah sana,'' usir Devita.
Daniel menghela nafasnya, dia harus mengerti kondisi istrinya, Daniel beranjak dari tempat tidur tanpa mengucapkan apapun pada Devita.
'' Kau mau kemana, Daniel?'' tanya Devita.
'' Bermain arisan dengan siapa? kok ke kamar mandi?'' tanya Devita lagi tapi Daniel tidak menjawab nya dia hanya diam menutup pintu kamar mandi dengan sedikit lebih keras.
'' Dia aneh sekali,'' gumam Devita yang melanjutkan membaca bukunya tentang panduan ibu hamil.
'' Oh mungkin Daniel ingin mandi dulu barulah pergi arisan,'' lanjutnya.
Beberapa waktu kemudian, Daniel keluar hanya dengan menggunakan handuk yang melingkar di pinggang nya.
Daniel melirik Devita yang masih betah duduk bersandar dengan buku di tangannya tanpa mempedulikan Daniel.
'' Ekhemm,'' dehem Daniel mencari perhatian istrinya.
'' Ekhemm,'' Dehem Daniel sekali lagi.
'' Kau sakit tenggorokan Daniel?'' tanya Devita tanpa melihat ke arah Daniel.
'' Tidak,'' ketus Daniel, Devita kembali terdiam.
Saat Daniel sedang memakai pakaian tiba-tiba Devita berteriak sehingga membuat Daniel langsung berlari ke arah Devita dengan panik.
'' Honey, kau kenapa?'' tanya Daniel dengan rasa khawatirnya.
__ADS_1
'' Perut ku kram, Daniel,'' lirih Devita.
'' Apa kita perlu ke dokter?'' Devita menggelengkan kepalanya.
'' Tidak Daniel, menurut buku yang ku baca, perut kram pada ibu hamil sudah biasa terjadi,'' ucap Devita yang sudah lebih baik.
'' Buku? buku apa yang kau baca?'' tanya Daniel.
'' Itu,'' tunjuk Devita ke arah buku yang tergeletak di atas ranjangnya.
Daniel menoleh ke arah dimana Devita menunjuk.
'' Ohh kamu sedari tadi membaca buku ini sampai mengabaikan aku, astaga istri ku ini,'' kekeh Daniel.
'' Aku kan hanya ingin menjadi ibu yang baik,'' ucap Devita dengan suara pelan.
'' Iyah honey, itu sangat bagus.'' Sahut Daniel mengusap lembut kepala Devita.
Ponsel Daniel berdering yang tertera ada nama Zen disana. '' Sebentar yang ya honey, di pengganggu ini sedang berulah,'' ucap Daniel dan di angguki Devita sebagai jawaban nya.
'' Ada apa?'' tanya Daniel setelah sambungan telepon itu sudah tersambung.
'' Tuan saya ingin mengambil cuti, apa boleh?'' tanya Zen di sebrang sana.
'' Cuti? tumben sekali kau meminta cuti mu, apa kau mah mendaki gunung atau menyebrang lautan?'' ucap Daniel bergurau.
'' Saya serius Tuan,''
'' Ya boleh saja, tapi kau harus membayar itu dengan mahal,'' ucap Daniel dengan serius.
'' Membayar?''
'' Ya, membayarnya dengan undangan, hahahaha,'' goda Daniel dengan jahil.
'' Hiissshhh, tidak lucu,'' ketus Zen.
'' Astaga lagipula siapa juga yang mau menikah dengan manusia salju seperti mu,'' ejek Daniel tanpa mengucapkan apapun Zen menutup sambungan telpon nya dengan sepihak.
Daniel tertawa geli karena merasa telah berhasil membuat Zen kesal dengan nya.
'' Aku tau Zen, apa yang membuat kau ingin mengambil cuti mu,'' gumam Daniel di sela-sela tawanya.
Di tempat lain.
Zen yang merasa kesal dengan ejekan Daniel hanya bisa mendengus kesal.
'' Sial, bisa-bisanya dia itu mengejek ku,'' gerutu Zen.
Hari ini hari Minggu, Zen yang masih di apartemen nya sudah menyiapkan kopernya yang di taruh di sudut kamarnya.
__ADS_1
'' Penerbangan Delay, berarti aku masih punya waktu untuk menyegarkan otak ku dulu,'' gumam Zen yang berlalu ke kamar mandi.
TBC..