
'' Apa kau tidak mengenali ku, paman.'' Ucap orang yang baru saja tiba.
Alis Arnes menyatu karena pertanyaan Daniel yang sangat membingungkan baginya.
'' Te-tentu aku mengenal mu, Daniel,'' jawab Arnes yang sudah memundurkan langkahnya.
'' Kalau saya?'' kini giliran Zen yang bertanya, Arnes menoleh ke arah Zen, lagi-lagi alisnya menyatu.
'' Kau temannya Melinda kan,'' jawab Arnes.
Zen dan Daniel saling melempar tatapan dan saling memberi kode.
Zen melirik ke arah Linda yang dengan keadaan duduk dan terikat, dan parahnya lagi keadaan pakaian Linda sudah tidak lagi utuh dan dia juga melihat ada tanda merah di leher jenjang Linda yang sedikit basah karena ulah anak buah Arnes.
Zen melangkah kan kakinya menuju Linda dan beberapa pria yang telah mengerjai Linda.
Pria-pria yang ada di dekat Linda mundur teratur, tatapan Zen terus tertuju pada Linda tepatnya leher jenjang Linda, dengan kasar Zen mengangkat kepala Linda untuk melihat dan memastikan apa yang di lihatnya memanglah apa yang telah ia duga.
Setelah melihat dan memastikan, tatapan Zen beralih ke arah tiga pria yang sudah mundur jauh dari posisinya.
'' Brengsek!!!'' bentak Zen yang langsung berlari dengan emosi yang sudah sampai pada puncaknya.
Bagh Bigh Bugh 👊💥
Zen menghajar ketiga pria itu dengan bringas dan tanpa kata ampun, satu persatu pria suruhan Arnes tumbang dengan keadaan yang sudah babak belur.
Linda tidak berani mengangkat kepalanya karena keadaannya yang menurutnya sangat menjijikkan saat ini, setelah mengurus ke tiga anak buah Arnes Zen menoleh ke arah Arnes yang sedang melihat ke arahnya juga.
Daniel yang berdiri di belakang Arnes hanya melihat dan memperhatikan nya saja tanpa melakukan apapun, karena dia sangat paham dengan apa yang di inginkan Zen.
Daniel sengaja memberikan kesempatan Zen meluapkan emosi nya selain itu Daniel juga ingin tahu perasaan Zen pada Linda sudah sejauh mana.
Zen melangkah menuju Arnes, dan langsung menghajarnya tanpa ampun, Arnes yang hanya pria tua tentunya tidak bisa berbuat apa-apa kecuali pasrah dengan amukan Zen yang menyeramkan itu.
Setelah keadaan Arnes sudah sekarat, Daniel mencegah Zen untuk bertindak lebih jauh karena Daniel sangat paham dengan hukum di negara ini, kalau saja kejadian ini di negara dia sendiri sudah di pastikan nasib Arnes dan yang lainnya tentunya sudah di pastikan akan berakhir dengan tragis.
'' Sudah Zen.'' Tegur Daniel dengan tegas.
__ADS_1
Zen menatap tajam Daniel karena tidak terima kalau kegiatan nya di hentikan dengan tiba-tiba karena sesungguhnya ia belum cukup puas menghajar Arnes kalau tidak sampai Arnes kehilangan nyawanya.
'' Ini bukan negara kita Zen,'' ucap Daniel lagi, tidak lama kemudian suara sirine mobil polisi terdengar dan datanglah beberapa polisi untuk menahan keempat pelaku itu.
'' Hah.. Siall!!!'' teriak Zen, ia benar-benar marah karena emosinya tidak terluapkan dengan tuntas karena Daniel yang mencegahnya juga datangnya polisi yang membuat Zen benar-benar emosi.
Zen berlalu begitu saja tapi saat dia melewati Linda yang masih terduduk menundukkan kepalanya dengan keadaan yang masih terikat tangan dan kakinya, langkahnya terhenti.
Zen melepaskan ikatan yang mengikat Linda, dan membantunya untuk berdiri.
'' Zen antarkan Linda ke rumah sakit, aku akan ikut polisi untuk bersaksi agar memberikan mereka hukuman yang setimpal atas apa yang mereka lakukan,'' ucap Daniel dan hanya di angguki Zen.
Zen membantu Linda berjalan menuju mobilnya. Tidak ada pembicaraan antara mereka.
Zen yang masih marah dengan dirinya sendiri karena telat untuk datang dan sudah membuat para bajingan itu sampai berbuat tidak senonoh pada Linda.
Dan Linda yang bahkan tidak percaya diri dengan dirinya sendiri karena baginya dirinya sudah tidak lagi suci sehingga untuk mengeluarkan suaranya saja ia tidak mampu di depan Zen.
'' Tidak perlu ke rumah sakit, antarkan saya ke rumah saya saja,'' ucap Linda dengan pelan dan dengan kepala yang tertunduk.
Tidak ada lagi pembicaraan antara mereka, dan sampailah mereka di rumah.
Zen membantu Linda untuk turun dari mobil dan mengantarkan nya ke dalam kamarnya dengan menggendong nya ala bridal style.
'' Lho, nona kenapa?'' tanya pembantu Linda dengan panik karena melihat majikan nya yang pulang dengan keadaan di gendong Zen.
'' Bi, buatkan saja air lemon dan antarkan ke kamar Linda,'' ucap Zen yang melanjutkan langkahnya menuju kamarnya dengan menggendong Linda.
Sampailah ia di kamar, Zen pun meletakkan Linda dengan perlahan ke ranjang besarnya.
Zen berlalu ke dalam kamar mandi dan kembali dengan segayung air dengan handuk sekalian di tangannya.
Zen duduk di samping Linda dan meyibakan rambut Linda yang terurai menutupi leher jenjang Linda.
Perlahan ia mengelap leher Linda agar sisah air liur para brengsek itu hilang namun saat matanya kembali melihat tanda merah di leher bagian kanan Linda entah kenapa emosi Zen kembali terpancing sehingga membuat Zen mengelap tanda merah itu dengan sangat kencang.
Zen semakin memperkencang gosokan handuknya di tanda merah itu dengan tujuan agar hilang atupun memudar tapi yang ada hanya membuat Linda meringis kesakitan.
__ADS_1
'' Sstttttt, sakit,'' lirih Linda yang sudah meneteskan air mata nya dan membuat Zen tersadar dengan tindakannya yang melukai Linda.
'' Aakkkhhhh!!'' teriak Zen yang membanting handuk itu ke lantai dengan emosinya.
Linda menangis dengan isakan pelan, ia mengira Zen telah jijik dengan dirinya.
Zen melangkah ke arah balkon kamar untuk menetralkan emosinya. Linda turun dari ranjangnya dan menghampiri Zen.
'' Tuan Zen, anda bisa pergi dari sini, biarkan aku sendiri dulu,'' ucap Linda yang berdiri jauh di belakang Zen yang membelakangi nya.
Zen berbalik dan menatap Linda dengan tatapan yang sulit di artikan.
Zen melangkah menuju pintu kamar, Linda tertunduk karena mengira Zen benar-benar meninggalkan nya tapi yang Zen lakukan bukanlah pergi melainkan menutup pintu kamar dan menguncinya.
Zen pun melangkah kembali ke arah Linda yang masih tertunduk, Zen membalikan tubuh Linda dengan kasar dan tindakan Zen kali ini benar-benar di luar batas karakter Zen langsung menyerang Linda di daerah leher Linda dengan mulut dan lidahnya.
'' Aku tidak mau ada bekas sisah dari bajingan itu,'' ucapnya di sela-sela kegiatan nya.
'' Lepas,'' lirih Linda yang berontak meminta di lepaskan.
Tapi karena Zen sudah tidak bisa lagi menahan amarahnya saat mengingat apa yang para bajingan itu lakukan pada Linda membuat dirinya benar-benar buta dalam bertindak.
Zen terus menelusuri lidahnya ke leher Linda dan menimpa tanda merah yang ada di Linda dengan tanda merah lagi yang dia lakukan.
'' Zen lepas!!'' bentak Linda dengan air mata yang sudah bercucuran karena marah dengan tindakan Zen. Zen terdorong oleh Linda beberapa langkah dari tempat ia semula.
Nafas Zen tersengal-sengal karena nafsunya yang tidak lagi terkendali, mata Zen memerah dengan wajah yang ikut memerah juga.
'' Apa yang kau lakukan, Zen?'' ucap Linda yang tidak terima dengan tindakan Zen.
'' Aku hanya tidak ingin ada sisah dari tindakan para bajingan itu,'' ucap Zen dengan nafas yang tidak beraturan.
'' Apa harus seperti ini hah!! kalau begini sama saja kau dengan para bajingan itu, Zen. Aku sudah kotor Zen, dan perbuatan mu semakin membuat aku kehilangan harga diriku sendiri.'' Tangis Linda semakin pecah dan membuat Zen seketika tersadar dari perbuatannya yang bisa saja membuat Linda semakin merasa tertekan dan bisa saja menambah rasa traumanya.
'' Linda, maafkan aku,'' lirih Zen yang langsung memeluk Linda walaupun dengan berontakan namun Zen tetap memeluknya dengan erat.
TBC...
__ADS_1