Cinta CEO Arrogant

Cinta CEO Arrogant
Kesambet Pohon Mangga


__ADS_3

'' Apa kau keberatan jika istri ku beristirahat di kamar ku sendiri?'' ucap Daniel yang tiba-tiba datang dan menyela pembicaraan Ibu mertua dan menantu nya.


'' Daniel,'' tegur Devita agar Daniel tidak berbicara kelewatan dengan ibunya.


Mata Mirna memicing tidak suka ke arah Devita.


'' Kau istirahatlah sayang, aku tahu kau pasti sangat lelah, aku sudah meminta Linda membuatkan air lemon untuk mu,'' ucap Daniel dengan lembut.


'' Dan nyonya Mirna, maaf bisa tidak menutup pintunya kembali setelah keluar dari sini,'' ucap Daniel menatap dingin ke arah Mirna.


Tanpa mengucapkan apapun lagi, Mirna berlalu pergi dan menutup pintu kamar dengan sangat kasar sampai membuat suara kencang memenuhi ruangan itu.


'' Isshhh wanita itu,'' gerutu Daniel.


'' Daniel kenapa kau bicara seperti itu pada Ibu mu sendiri,'' tanya Devita.


'' Sudahlah sayang ku, lanjutkan istirahat mu, aku akan kembali ke kamar Ayah,'' ucap Daniel dan berlalu meninggalkan Devita di kamar.


Di lantai bawah, Linda yang sedang membuat air lemon pesanan Daniel untuk di berikan kepada Devita, dia tidak tahu kalau ada seseorang yang sedang memperhatikan nya dari jarak jauh.


Tapi semakin lama Linda merasa ada yang sedang memperhatikannya, namun Linda yang cuek dengan apapun itu tidak menghiraukan nya.


Setelah minumannya jadi, Linda segera bergegas menuju lantai atas menggunakan lift bertujuan agar cepat sampai ke tempat tujuannya, tapi saat tangannya ingin menekan tombol lift ada tangan lain yang juga menekan nya dengan berbarengan.


Linda menoleh mengikuti arah tangan yang terulur ke tombol itu yang ternyata dia adalah Zen.


Pria yang sangat di bencinya, pria yang di anggap monster, pria yang menurut nya hanyalah pria yang paling menyebalkan, saat ini berada di hadapan nya sedang menatap dirinya.


Tanpa ingin berdebat seperti biasanya Linda memutuskan untuk pergi menjauh dari Zen tapi lagi-lagi ada sesuatu yang membuat langkah nya terhenti.


Tangan kekar milik Zen mencekal kuat lengan Linda, Linda menghela nafas nya dengan kasar dan berbalik kembali menatap langsung wajah Zen.


'' Sebenarnya apa mau anda Tuan?'' tanya Linda.


'' A-aku ingin mengatakan sesuatu padamu,'' ucap Zen yang sedikit gugup.

__ADS_1


'' Apa?''


'' Lanjutkan pekerjaan mu setelah itu temui aku di halaman belakang,'' ucap Zen yang setelah mengatakan itu dia berlalu meninggalkan Linda yang sedang menatapnya heran.


Setelah mengantarkan minuman ke kamar Daniel untuk Devita, Linda langsung keluar dari kamar itu.


Pikirannya terganggu dengan ucapan Zen, apa yang ingin di katakannya, kenapa harus di halaman belakang? pikir Linda.


Ia tengah gundah, antara menemui Zen atau menghiraukan perintah nya, tapi jiwa penasaran nya bergejolak hebat dan pada akhirnya ia melangkah kan kakinya menuju halaman belakang.


Matanya mencari sosok Zen namun ia tidak melihat nya, Linda berbalik ingin meninggalkan halama belakang namun sebuah batu kecil melayang dan mengenai lengannya.


Tuukk


'' Awwww..


Linda berteriak karena batu kecil berukuran sebesar biji kelereng mengenai lengan telanjangnya.


'' Siapa itu,'' teriak Linda.


'' Jangan berteriak bodoh, kemari saja,'' ucap seseorang yang diyakini Linda adalah Zen.


'' Di balik pohon Mangga,'' jawabnya sedikit berbisik.


Dengan langkah perlahan, Linda melangkah mendekati pohon besar dan terlihat lah seorang pria menggunakan sweater tipis duduk menghadap kolam ikan dengan kaki yang menjuntai ke air kolam.


'' Sedang apa kau Tuan, disini?'' tanya Linda.


'' Menunggu mu, apalagi,'' jawabnya dengan santai.


'' Tidak maksud ku , kenapa kau menyuruh ku menemui mu disini,''


'' Duduklah,''


Linda menurut, dia duduk namun dengan posisi yang lumayan jauh dari Zen, dia sedikit canggung karena mereka hanya berdua saja di tempat yang minim cahaya itu.

__ADS_1


'' Cepatlah katakan, aku masih ada pekerjaan,'' ucap Linda dengan ketus.


'' Ini,'' Zen menyerahkan paperbag berukuran sedang dan Linda tidak menanggapinya karena tidak mengerti maksud Zen apa.


'' Apa itu,''


'' Terimalah, ini milik mu,'' ucap Zen, Linda mengambil paperbag itu dari tangan Zen.


'' Skincare?''


'' Iya itu milik mu kan? waktu itu tertinggal di apartemen ku,'' ucap Zen, Linda mengingat-ingat setelah mengingatnya Linda menepuk dahinya sendiri dengan sangat kencang.


'' Kenapa aku melupakan nya,'' gerutu Linda.


'' Hei apa kau gila, dahi mu bisa memar,'' ucap Zen yang langsung beranjak dan memeriksa dahi Linda yang memang sedikit memerah.


Linda terkejut karena tindakan Zen, ia benar-benar merasa heran dengan apa yang terjadi pada Zen.


'' Tuan kau sepertinya kesambet,'' ucap Linda, Zen meliriknya, alis lebatnya menyatu karena merasa asing dengan ucapan Linda.


'' Apa? apa tadi yang kau katakan,'' ucap Zen.


'' Apa, aku hanya mengatakan sepertinya kau kesambet,''


'' Kesambet, apa itu?''


Linda tercengang ia baru sadar kalau bahasa yang dia katakan Zen tidak mengertinya.


'' Astaga, kesambet itu seperti kau terkena gangguan makhluk yang tak kasat mata,'' Linda terkekeh geli menjelaskan nya.


Wajar saja jika Zen tidak mengerti, kesambet kan hanya orang Indonesia yang mengerti artinya, batin Linda yang mentertawai ucapannya sendiri.


Zen hanya diam, ia menatap wajah Linda yang bercahaya karena terkena pantualn sinar bulan malam dari kolam di tambah wajah cantik itu sedang tertawa-tawa sendiri.


'' Ya sudah, kau hanya ingin mengatakan ini kan, aku akan kembali bekerja,'' ucap Linda yang ingin pergi namun lagi-lagi tangan kekar Zen menghalangi nya lagi.

__ADS_1


'' Sebenarnya aku ingin minta maaf padamu,'' ucap Zen dengan pelan.


Tbc...


__ADS_2