
Budayakan Like sebelum atau setelah Membaca ya aka aka ku tersayang ππ
Dan tolong tinggalkan jejak komentar nya doong, biar Author lebih semangat nulisnya πππ..
Banyak maunya yaaπ iya emang ππ
eettt satu lagi,, VOTE nya jangan lupaπββ
...ππππππ...
Acara pembukaan Toko berjalan dengan lancar, banyak yang menghadiri acara tersebut, yang memang hanya mengundang teman satu kelasnya saja, tapi ini di luar expetasi, orang-orang berkelas pun datang untuk memberi selamat dan tidak lupa berbelanja bunga yang di jual Devita dan Puspa.
Perbuatan siapa lagi kalau bukan Daniel Carroll, hanya untuk menyenangkan hati gadisnya itu.
Ada satu orang paruhbaya yang mencuri perhatian Devita, di sepanjang acara, beliau tidak melepaskan masker dan kaca mata hitamnya, fostur tubuh yang tidak asing membuat nya terus berpikir.
''Dev, kau kenapa?'' tanya Puspa yang melihat Devita tengah melamun di halaman belakang toko.
''Aah tidak, aku hanya lelah,'' elaknya.
''Jangan berbohong, aku tau kau sedang memikirkan sesuatu, cepat katakan.'' Devita menghela nafasnya, Puspa yang memaksa untuk di beritahu keadaan nya membuat Devita terpaksa mengucapkan apa yang di rasakan nya.
''Tadi saat acara berlangsung, ada satu orang paruhbaya yang mencuri perhatian ku.'' Ucapnya dengan tidak bersemangat.
''Yang mana?''
''Itu lho, pria paruhbaya yang memakai jaket kulit berwarna coklat dan memakai masker serta kaca mata hitam.'' Ucap Devita mengucapkan apa yang di lihat nya.
''Wait, wait. Yang berdiri di sudut sana.'' Ucap Puspa dengan jari yang menunjuk ke arah sudut depan Toko.
''Iya benar, aku seperti tidak asing dengan orang itu.'' Devita murung lagi.
''Sudahlah, mungkin hanya perasaan mu saja, oh ya tadi Daniel ingin pergi kemana katanya, sepertinya terburu-buru sekali,''
''Entahlah, saat menerima panggilan di ponsel nya, dia langsung pamit pada ku.''
''Mungkin ada urusan pekerjaan.'' Timpal Puspa.
Devita kembali bungkam, seseorang yang di lihatnya itu membuat Ia terus berpikir.
Pintu terbuka Daniel kembali datang dengan wajah khawatirnya.
''Kau tidak apa-apa?'' tanya Daniel yang membuat Devita heran.
__ADS_1
''Bukannya kau ada urusan, Daniel.'' Bukannya menjawab, Devita malah kembali bertanya.
Dengan Devita yang kembali balik bertanya, membuat Daniel bernafas lega karena itu menandakan tidak terjadi apa-apa.
Puspa melihat Daniel yang datang bersama Zen dengan raut wajah yang tidak biasa membuat Puspa gagal paham.
''Ada apa ini?'' tanya Puspa.
''Tidak, tidak apa-apa. Zen antarkan Puspa ke rumahnya.'' Perintah Daniel pada Zen.
''Eh, aku bisa pulang sendiri,'' tolak nya, tapi dengan melihat tatapan Daniel yang tidak ingin ada bantahan membuat Puspa bergidik ngeri.
''Mari Nona.'' Ucap Zen menegur Puspa untuk segera pergi dari sana.
''Dev, aku pulang ya.'' Pamit Puspa yang di angguki Devita.
Dengan wajah polos nya, Devita melongok wajah Daniel yang posisinya sedang menunduk.
''Daniel,'' panggil Devita.
''Hem
''Sebenarnya ada apa?'' tanya Devita dengan lembut.
''Tidak Vita, aku hanya berlebihan mengkhawatirkan keadaanmu saja.'' Daniel belum ingin menceritakan apa yang terjadi, mungkin nanti jika ada waktu yang tepat.
Flashback
Saat Daniel masih berada di Toko bunga menemani Devita menerima ucapan selamat dari para tamu, ponselnya berdering.
''Temui aku di kantor mu, jika kau ingin tahu siapa aku.'' Ucap seseorang yang di sebrang sana.
Ya beberapa hari ini, Daniel seperti diteror seseorang yang mengatakan bahwa Ia orang terdekatnya Devita, Ia merindukannya, dan akan mengambilnya dari Daniel.
Tapi Daniel hanya menganggap itu hanyalah bualan seseorang yang iseng terhadap nya.
Tapi semakin lama, Daniel mulai geram dengan terus di teror seseorang itu. Dari mulai mengirimkan foto seorang anak kecil yang di baliknya terdapat nama Devita Maharani di sertai tanggal lahirnya, mengirimkan barang-barang yang di sukai Devita dan masih banyak lagi.
Sungguh mengganggu bagi Daniel, dan saat seorang itu menelpon, Daniel merasa Ia harus menemuinya langsung.
Tapi dalam perjalanan hampir sampai prusahaan nya, seorang bodyguard yang di perintahkan Daniel memantau Devita di kala Ia tidak bersamanya menelpon dan mengatakan bahwa ada seorang pria paruhbaya yang mencurigakan dengan terus mengawasi gerak-gerik Devita.
Dan di saat itulah, Daniel sangat panik dan memerintah Zen memutar balik untuk kembali ke Toko Depu Flowers untuk melihat Devita.
__ADS_1
Flashback of.
''Kita pulang ya.'' Ucap lembut Daniel dengan mengusap surai rambut Devita.
Devita hanya tersnyum dan mengangguk, dengan lembut Daniel meraih tangan Devita untuk di genggamnya dan membawa ke mobilnya.
Di tempat yang berbeda.
Puspa yang notabennya gadis cuek, sedari tadi hanya diam memandang luar mobil.
Zen sesekali menoleh ke arah Puspa, seperti ingin menanyakan sesuatu tapi mulutnya seperti enggan untuk terbuka hanya sekedar bertanya.
''Ada apa kau melihat ku terus?'' Ucap Puspa masih dengan mata yang tertuju ke luar jendela mobil.
''Eemmm, boleh saya bertanya?'' akhirnya Zen membuka mulutnya.
''Hemm
Hanya itu yang keluar dari mulut Puspa.
''Apa Nona Devita pernah bercerita perihal orang tuanya?'' tanya Zen dengan nada serius.
''Orang tua Devita sudah meninggal dunia di kala Ia berusia 12 tahun karena suatu kecelakaan, hanya itu saja yang aku tahu.'' Jelas Puspa dengan singkat.
''Kecelakaan apa?''
''Detailnya aku tidak tau pasti.''..
''Tapi, Nona pernah melihat foto wajah salasatu orang tua Nona Devita?'' tanya Zen lagi.
''Pernah tapi foto itu tidak terlalu jelas, karena sudah sedikit rusak.'' Jawab Puspa.
''Oh ya sudah, Terima kasih.'' Zen tidak lagi bertanya, karena Ia tau bahwa Puspa pun tidak mengetahui nya dengan pasti.
''Memangnya ada apa kau bertanya soal itu.'' Puspa berbalik tanya karena merasa heran dengan pertanyaan Zen perihal orang tua Devita.
''Suatu saat nanti, saya akan membutuhkan anda untuk membantu saya, Nona.'' Ucapan Zen membuat Puspa tidak terlalu paham namun Ia hanya diam.
''Stop disini saja tidak usah sampai masuk.'' Ucap Puspa dengan mendadak sehingga membuat Zen menginjak pedal rem dengan mendadak juga.
''Untung aku menggunakan seatbelt,'' ketus Puspa.
''Maaf Nona, apa kau tidak apa-apa?'' tanya Zen dengan wajah yang datar.
__ADS_1
''Tidak. Dan please, jangan memanggil ku dengan sebutan 'Nona, karena aku bukan wanita belanda.'' Ucap Puspa yang langsung keluar dari mobil Zen.
''Aneh,'' gumam Zen.