
Budayakan Like sebelum atau setelah Membaca ya aka aka ku tersayang ππ
Dan tolong tinggalkan jejak komentar nya doong, biar Author lebih semangat nulisnya πππ..
Banyak maunya yaaπ iya emang ππ
eettt satu lagi,, VOTE nya jangan lupaπββ
...ππππππ...
Happy Reading π.
................
Di sebuah kamar bercat mendominan warna merah muda, seorang gadis sedang duduk memeluk kakinya dengan tubuh yang gemetar, Ia adalah Devita.
Rasa takutnya membuat Ia berpikir sangat jauh, dan trauma yang belum sepenuhnya hilang menjadi menambah parah.
''Kenapa hidup aku begini.'' Racau nya dengan tangis pilunya.
''Siapapun, tolong keluarkan aku,'' teriaknya.
Suara langkah kaki terdengar jelas membuat Devita beringsut takut, tangan nya gemetar meremas selimut dengan cepat Ia meraih bantal untuk tameng dirinya.
Ceklek
Pintu pun terbuka dan seseorang masuk menuju ranjang yang Devita duduki.
''Nona, makan lah dulu. Dari semalam Nona belum juga makan.'' Ucap seorang wanita dengan memakai baju pelayan.
Tidak ada jawaban dari Devita, ia masih memeluk bantal itu dan membenamkan wajahnya di balik bantal.
''Nona, kalau Nona tidak makan, maki kami yang akan mengalami masalah,'' ucap wanita itu dengan memelas.
Perlahan Devita melepaskan bantal yang di peluknya, Ia merasa iba dengan ucapan wanita itu.
''Kau siapa?'' tanya Devita dengan lirih.
''Saya pelayan yang di percayakan untuk menjaga Nona.'' Ucapnya memperkenalkan dirinya.
''Nama mu?'' tanya Devita lagi.
''Saya Mimi, Nona.''..
__ADS_1
''Mimi, apakah kamu bisa membantu saya?'' tanya Devita.
''Bantu apa, Nona?''..
''Pertemukan aku dengan Tuan besar rumah ini,'' pinta Devita dengan wajah yang memohon.
''Kalau itu, saya tidak tau bisa atau tidak Nona, karena itu bukanlah bagian saya.'' jawabnya dengan wajah menyesal.
''Lalu siapa yang bisa bantu aku untuk bertemu dengan Tuan besar.''
''Tuan Reno, Nona. beliau yang kemarin membawa Nona kesini.'' Jawab Mimi dengan lembut.
''Pria itu? pria sedingin dia mana bisa aku meminta bantuan,'' ucapnya dengan putus asa.
.
Di tempat lain dengan waktu yang sama, Daniel masih berusaha mencari tau dengan apa yang terjadi. Dengan penampilan kacaunya Daniel merebahkan tubuhnya di ranjang besarnya.
''Siapa, siapa yang membawa kamu Vita, semoga kamu baik-baik saja,'' lirihnya, Daniel tidak tidur dari kemarin karena rasa khawatir yang tidak bisa terkontrol dengan baik.
Dengan sigap Daniel bangkit dari rebahan kilasnya, Ia menuju kamar mandi untuk menyegarkan dirinya, dan akan melanjutkan pencarian dan penyelidikan nya.
Sepuluh menit di dalam kamar mandi, akhirnya Daniel keluar juga, wajah yang sudah lebih segar dari sebelumnya, Ia pun bergegas ke lemari pakaian dan memilah apa yang ingin dipakai nya.
Dengan langkah yang tegas Daniel menuju parkiran basement tempat mobil sportnya terparkir.
''Aku sedang menuju kediaman Matthew, emm.'' Daniel menutup panggilan nya dengan kasar.
''Aku tidak akan membiarkan mu lolos Lucky.'' Ucapnya dengan mengeraskan rahang tegasnya.
Dengan bekal sebuah senjata api berjenis Glock 45 GAP yang selalu di simpan di kantung dalam jass nya, Ia bernekat untuk datang ke kediaman Lucky Matthew untuk memberi pelajaran yang setimpal.
Daniel memberhentikan mobilnya tidak jauh dari gerbang utama yang sudah di jaga 2 bodyguard Lucky, rasa rakut sama sekali tidak ada di dalam diri Daniel, Ia turun dari mobil dan menuju gerbang besi yang menjulang tinggi itu.
Saat Daniel sudah semakin dekat, ada tangan yang menariknya begitu kuat.
''Terry, sedang apa kau disini?'' tanya Daniel, ya orang itu adalah Terry sahabat nya.
''Aku tau apa yang sedang terjadi, aku akan membantu mu, tapi kita jangan gegabah Niel, jumlah mereka tidaklah sebanding dengan kita berdua. Strategi, ya kita butuh strategi.'' Ucap Terry menenangkan nafsu Daniel yang sudah melampaui batas.
''Ya kau benar,'' ucap Daniel.
''Lihat mereka berdua, mereka memegang senjata berlaras panjang, kapan saja kita bisa mati di tangan mereka kalau berbuat gegabah,'' lanjut Terry.
''Kita bereskan saja sekarang.'' Daniel dan Terry saling pandang dan memberikan kode dengan mimik muka jahatnya.
__ADS_1
''Aku sudah lama tidak bermain-main.'' Ucap Terry yang mengerti maksud Daniel.
Dengan gaya santainya Daniel mengarahkan senjatanya ke arah kepala bodyguard sebelah kanan gerbang dan Terry mengarahkan ke arah bodyguard lainnya.
Duarrr.
Dua senjata api melepaskan diri untuk menuju mangsanya, dan benar saja peluruh yang di arahkan ke mereka tepat pada sasaran dengan sekejap dua bodyguard itu sudah tergeletak di tanah dan yang pastinya sudah tidak bernyawa lgi.
''Masih bagus juga kemampuan mu, Niel.'' Ucap Terry meremehkan.
''Jangan pernah meragukan ku, Terr.'' Ucap Daniel dengan menatap tajam, Terry tersadar kalau ucapannya bisa saja membuat Daniel tersinggung dan tamatlah riwayat nya.
''Maaf, aku tidak bermaksud.'' Ucap Terry dengan takut.
Daniel dan Terry menuju gerbang yang sudah tidak terjaga itu, saat Daniel dan Terry masuk terlihat ada beberapa penjaga yang sedang berdiri seakan menyambutnya.
''Tuan Daniel, kau berani sekali menerobos masuk.'' Ucap penjaga Lucky dengan tangan yang memegang senjata api.
Dengan tenangnya Daniel dan Terry semakin mendekat ke arah mereka tanpa ada rasa takut.
''Panggilkan Tuan mu, kami tidak ada urusan dengan kalian.'' Ucap Terry dengan wajah sangarnya.
''Urusan Tuan, urusan kami juga.'' Keukeuh si Penjaga itu.
''Baik, kalau itu jalan yang kau pilih.'' Ucap Daniel, tanpa aba-aba Daniel melepaskan peluruh ke arah mereka tepat di dada dan tumbanglah mereka semua.
''Iisssh, kau ini kenapa tidak memberi kode, aku juga kan ingin memberi hadiah ke mereka,'' Cetus Terry.
''Sudah lah Ter, ini bukan waktunya bercanda.'' Daniel melangkah meninggalkan Terry.
Suara tembakan membuat penghuni rumah tau kalau ada yang datang dan mengalahkan anak buahnya dengan cepat, Lucky dengan cepat pergi ke ruangan yang menyimpan banyak berbagai jenis senjata, dan memilih senjata berjenis Desert Eagle Mark XIX Pistol, pistol yang mampu membunuh lawan dengan sekali tembakan.
''Daniel Carroll rupanya kau datang untuk memberikan nyawa mu pada ku.'' Ucap Lucky dengan menyeringai.
Dengan langkah yang hati-hati Lucky mengintai Daniel dari balik lemari kaca, ya Daniel dan Terry sudah berada di dalam rumah Lucky dan berhadapan dengan beberapa orang di antaranya ada Fedric yang tak lain adalah kaka dari Lucky.
Baku hantam terjadi, Daniel yang menguasai ilmu bela diri yang terbilang Ia lah jagonya tidak akan merasa kesulitan hanya untuk melawan beberapa cecunguk itu.
Begitupun Terry, ia yang tidak semahir Daniel juga tidak merasa takut karena hanya untuk melawan sebagian dari mereka Ia pun masih sanggup.
''Daniel Carroll, ucapkan selamat tinggal pada dunia yang kau banggakan, hem.'' Ucap Fedric dengan sombongnya.
Daniel sama sekali tidak merasa terancam dengan apa yang Fedric katakan.
Duarrr.
__ADS_1
''Daniel,'' teriak Terry.