
Di sebuah Apartemen seorang gadis sedang tertidur dengan gelisahnya, yang seperti nya dirinya sedang bermimpi buruk.
''Daniel.'' Devita terbangun dengan menyebut nama pria yang saat ini baru selesai melakukan pelampiasan alamiahnya.
''Kenapa Aku bermimpi Daniel, tapi kenapa mimpi itu terlihat nyata.'' Gumam Devita dengan gusarnya.
Devita mengusap wajahnya dengan kasar dan beranjak menuju kamar mandi. Setelah mencuci mukanya, Devita keluar kamar untuk mengisi air minum di gelas kosongnya.
Setelah menenggak satu gelas penuh air meneral, Devita duduk di kursi meja makan, pandangannya nanar menatap satu kursi yang ada di depannya.
Bayangan Seorang Daniel yang tersenyum ke arahnya jelas terlihat. Devita menunduk dalam dia yakin perasaan yang saat ini Ia rasakan adalah perasaan yang sangat merasa bersalah.
Devita belum menyadari yang sebenarnya Ia rasakan itu apa, apa sebuah rasa cinta? bahkan Devita kerap sekali menangkis apa yang Ia rasakan itu.
''Ini hanya sebuah rasa bersalah, ya rasa bersalah pada orang yang sudah sangat baik dengan ku.'' Gumam Devita, Ia tak ingin mengakuinya.
Hari weekend ini Devita tidak ada jadwal mata kuliah, dan hari ini Ia hanya ingin mengistirahatkan otaknya yang tengah merasa lelah.
Dengan menonton drama favorit nya, Devita harap bisa mengalihkan fikiran mumetnya.
Suara bel terdengar yang menandakan ada seseorang yang mendatanginya, Perasaan bahagia Devita muncul dengan seketika, yang Ia pastikan seseorang itu adalah orang yang sedang memenuhi fikirannya.
Dengan langkah riangnya Devita berlari kecil untuk membuka pintunya dan mempersilahkan seseorang itu masuk.
Tapi setelah pintu itu dibuka nya, senyum yang semula mengembang, berubah seketika. Bukan tidak senang karena dua Sahabat mengunjunginya, tapi yang Ia harapkan Bukanlah mereka.
Devita tersenyum dengan terpaksa, ya yang datang adalah Puspa dan Jonathan.
'' Devi, Bagaimana keadaanmu?'' tanya Puspa.
'' Kalian datang, aku sudah lebih baik,'' jawab Devita.
''Syukurlah, harusnya kemarin kita kesini tapi tiba-tiba Ibu ku menelpon menyuruh ku pulang.'' ujar Puspa.
''Apa kita tidak di persilahkan masuk, Dev?'' tanya Jonathan menyindir.
''Aah iya, maaf aku lupa.'' Ucap Devita mempersilahkan masuk dua sahabat nya.
Mereka pun masuk dan duduk di sofa ruang tamu, Devita berlalu ke dapur mengambil minuman untuk dua sahabatnya.
''Devi tinggal disini? Bukannya dia hanya bekerja di cafe,'' tanya Jonathan.
''Apartemen ini pemberian Tuan Daniel, Jo,'' jawab Puspa.
''Tuan Daniel?'' ucap Jo dengan muka bertanya-tanya.
Belum Puspa menjawab pertanyaan Jonathan, Devita sudah datang membawa 2 gelas jus untuk mereka.
'' Maaf ya cuma ada ini saja, soalnya stok makanan sudah habis semua.'' ujar Devita.
'' Tidak apa Dev, kami juga ke sini hanya untuk menjenguk kamu.'' Timpal Jonathan.
__ADS_1
'' Dev hari ini kan hari weekend, Bagaimana kalau kita pergi ke Mall sekalian membeli keperluan kamu,'' ajak Puspa dan di setujui dengan Jonathan.
Devita berfikir sejenak, dan Ia pun menyetujuinya, hitung-hitung mengalihkan fikiran yang sedang kalut itu.
'' Kalau begitu aku siap-siap dulu ya, kalian tunggu, ok.'' Devita berlari menuju kamarnya yang ada di lantai atas untuk bersiap diri.
Mandi dengan cara kilat, berpakaian Ala kadarnya dan memoles sedikit lip balm di bibir tipisnya, penampilan seperti itu saja sudah sangat cocok untuk Devita.
Dengan memakai baju kaos dan luaran cardigan serta celana jeans dengan dipadukan sepatu kets dan tas kecil yang mengalung di pundaknya, sungguh manis penampilan Devita hari ini.
Suara sepatu yang di kenakan Devita terdengar jelas, Puspa dan Jonathan menoleh ke arah tangga dimana Devita turun.
Mata Jonathan tidak berpindah, ia sangat terposa dengan penampilan sederhana Devita.
''Nah seperti ini kan cantik,'' Celetuk Puspa dengan nada menggoda.
Mereka bertiga berangkat dengan menaiki mobil yang di kendarai Jonathan. Sampai di suatu Mall terbesar di Kota itu, mereka berjalan dengan berdampingan.
Banyak pasang mata menatap pesona mereka, terutama Devita yang berjalan dengan di samping nya Jonathan, semua mengira Devita dan Jonathan adalah sepasang kekasih.
''Jo lebih baik kau berjalan di belakang kita,'' ujar Puspa dengan ketus.
''Lho kenapa memangnya?'' Jonathan merasa heran dengan satu sahabat nya ini.
''Lihat, semua menatap kita karena mereka menganggap kau dan Devita adalah sepasang kekasih dan aku di anggap orang ketiga kalian, sungguh menyebalkan.'' Cebik Puspa, ya Puspa sempat mendengar kasak kusuk mereka.
Devita dan Jonathan tergelak geli, tapi dalam hati Jonathan, Ia sangat mengharapkan ucapan mereka itu akan kenyataan.
Mereka sedang berada di sebuah SuperMarket di dalam Mall, Devita yang memang tujuannya ingin membeli keperluan kebutuhan nya seperti stok makanan yang sudah habis dan peralatan mandi lainnya.
Saat tangan Devita ingin mengambil Buah Kiwi yang sudah terbungkus styrofoam ada tangan yang ikut mengambilnya.
''Kemal, kita ketemu lagi.'' Ucap Devita dengan senyum manisnya.
''Devita, kau dengan siapa disini.'' ..
''Aku dengan Pu..'' Belum Devita menyelesaikan ucapannya, Puspa sudah ikut menyambar.
''Dengan ku, kenapa kau bertanya-tanya,'' ketus Puspa, Kemal menoleh ke asal suara.
''Nona Koffie kita ketemu lagi, kau semakin cantik saja.'' Ucapan yang bernada gurauan itu membuat wajah Puspa memanas.
''Tidak lucu,'' cetusnya.
''Memang nya siapa yang melawak.'' Ucap Kemal yang sengaja menggoda Puspa, entah kenapa semenjak Ia bertemu dengan Puspa, Kemal senang sekali menggoda Puspa. Ada kesenangan tersendiri mungkin.
''Kalian sudah ketemu buah Kiwi nya?'' tanya Jonathan yang baru saja menghampiri mereka.
Kemal menoleh ke asal suara ''Seperti tidak asing.''
Kemal terlihat sedang berusaha mengingat sesuatu tapi lamunannya buyar karena suara Puspa yang mengejutkan nya.
__ADS_1
''Hei Tuan Koffie, melamunkan apa kamu.'' Tegur Puspa dengan memukul lengan Kemal.
''His rese sekali kamu ini.'' ketus Kemal.
''Sudah-sudah, kenapa kalian kalau bertemu selalu saja berdebat,'' omel Devita.
''Oh ya, kenalkan ini Kemal, Jo'' ucapnya lagi.
''Saya Kemal, calon jodoh antara Devita dan Puspa.'' Gurau Kemal yang di sambut gelak tawa Jo dan Devita sedangkan Puspa menatap Kemal dengan tajamnya.
''Kalau kau mau, ambilah wanita yang ada di sampingmu itu.'' Timpal Jonathan menunjuk Puspa.
''Jo!!!'' teriak Puspa yang langsung di dekap Kemal menggunakan tangannya.
Pandangan keduanya terkunci dengan debaran di masing-masing jantung nya.
''Kan cocok,'' ucapan Jonathan membuat keduanya tersadar.
''Hei kau Nona koffie. Bisa tidak, tidak usah berteriak disini bukan lapangan stadion, mengerti.'' Ujar Kemal dengan sedikit gugup namun Ia bisa menyembunyikan rasa gugupnya itu.
Puspa hanya mencebikan bibir mungilnya, ia berlalu dengan menghentakan kaki.
Setelah membayar belanjaan, mereka menuju kesebuah foodcourt yang banyak menjual berbagai macam makanan.
Pesanan merekapun datang, obrolan yang nampak seru jika di lihat orang lain dan suara cempreng Puspa sebagai pelengkapnya.
Sejenak Devita bisa melupakan rasa sedihnya karena adanya sahabat nya serta teman barunya yaitu, Kemal.
''Oh ya, sebenarnya aku sudah menemukan tempat yang cocok untuk kalian membuka usaha, tapi aku yang tidak punya kontak kalian berdua membuat aku kesulitan untuk mengabarinya.'' Ujar Kemal dan di sambut binar mata dari Puspa dan Devita.
''Benarkah Tuan koffie, dimana itu.'' Ucap Puspa dengan antusias.
''Di tengah-tengah kota, yang pastinya akan menguntungkan untuk kalian,'' jawab Kemal.
''Bisa kau antarkan kami kesana?'' Ujar Puspa.
''Bisa, tapi tidak sekarang.''..
''Lalu kapan?'' lirih Puspa
''Mungkin esok hari saat aku pulang dari kantor.'' ..
Setelah bertukar kontak, mereka pun berpisah.
Kemal yang pergi lebih dulu menyisakan Devita Puspa dan Jonathan.
''Aku ke toilet dulu ya.'' Devita beranjak berlalu mencari toilet wanita yang ada di dekat foodcourt.
Setelah menuntaskan buang air kecilnya Devita berniat untuk kembali ke Puspa dan Jonathan tapi langkahnya terhenti karena matanya menangkap seorang pria yang sedang makan dengan seorang wanita di satu meja.
Dadanya seketika terasa sesak, matanya memanas, Devita terus memperhatikan seseorang itu dengan hati yang pilu.
__ADS_1