Cinta CEO Arrogant

Cinta CEO Arrogant
Hujan


__ADS_3

Devita dan Daniel sudah berada di mobil, dan bertepatan hujan pun datang dengan derasnya.


Suasana yang syahdu untuk sepasang kekasih ini, di dalam mobil hanya berdua, pikiran Daniel sudah jauh melayang namun berbeda dengan Devita.


Gadis polos itu seakan tidak menyadari kegelisahan Daniel. Ia menurunkan kaca mobil dan menadangi tetesan demi tetesan air hujan ke telepak tangannya layaknya anak kecil.


Mobil bergerak meninggalkan area pemakaman itu, Devita masih memainkan tetesan air hujan, Daniel hanya bisa tersenyum melihat nya.


Jarang sekali Ia melihat keceriaan Devita, tapi hanya dengan hujan Devita bisa terus tersenyum seperti itu, itulah yang membuat Daniel merasa bahagia.


''Kau suka hujan?'' tanya Daniel.


''Sangat. Dulu Mama sering mengajak ku ke halaman belakang di saat hujan, Mama mengajak ku bermain air hujan, karena kata Mama, hujan itu menyenangkan dan bisa membuat hati tenang.'' Jawab Devita dengan sedikit bercerita masa lalunya.


''Kau sangat dekat dengan Mama?'' tanya Daniel lagi.


''Ya kami sangat dekat, karena sedari kecil aku bersama Mama dan Ayah selalu sibuk mengurus perusahaan.''


''Tapi aku sempat merasakan kesepian karena aku tidak boleh sembarangan bermain dengan orang luar, karena Mama takut ada yang berniat mencelakai ku, sampai pada akhirnya Mama meminta keluarga Paman untuk tinggal bersama.''


Expresi Devita yang semula ceria berubah muram, karena sudah masuk tentang cerita Paman nya. Daniel tetap diam mendengar kan.


''Mama berniat meminta mereka tinggal bersama kita karena aku kesepian dan Chloe lah yang menjadi teman ku saat di rumah.'' Pandangan Devita jauh kedepan karena mengingat masa-masa pertama keluarga Paman nya masuk ke kehidupan nya.


''Tapi.. aku bahkan tidak tahu kalau mereka sudah merencanakan semua itu,'' air mata kembali lirih, Daniel melihat nya hingga merutuki ucapannya yang mengungkit masa lalu Devita.


''Ssttt, kemarilah. Aku kan sudah bilang, aku sangat membenci air mata.'' Daniel menarik lembut tangan Devita agar lebih dekat darinya dan menyenderkan kepala Devita ke pundaknya.


''Kau benar-benar suka hujan kan?'' tanya Daniel yang sengaja mengalihkan kesedihan Devita.

__ADS_1


Devita menyusut airmatanya sendiri dan mengangguk menjawab pertanyaan Daniel.


''Kalau kau benar suka dengan hujan, maka kamu tidak akan menangis di kala hujan, karena hujan akan merasa kalau kamu membencinya bukan menyukai nya.'' Ujar Daniel dengan penuturan sangat lembut.


''Baiklah aku tidak akan menangis,'' ucap Devita dengan senyum namun masih tersisa jejak air mata di pipinya dan itu yang membuat Daniel merasa gemas melihat nya.


''Kau sangat menggemaskan,'' gemas Daniel mencubit lembut pipi chubby Devita.


Devita yang di cubit hanya bisa memanyunkan bibirnya beberapa centi ke depan.


''Jangan seperti itu, kalau kamu tidak mau aku menyerang mu sekarang juga,'' ucap Daniel dengan tangan mengusap bibir cery Devita.


Pipi Devita bersemu merah karena mendengar ucapan frontal Daniel.


''Emm, kau mau berkeliling Jakarta?'' tanya Daniel dengan cepatnya Devita menganggukan kepalanya.


Mereka terus berkeliling sampai hujan pun reda, hanya ada ricikan yang tersisah.


''Kau pernah kesini, Daniel?'' tanya Devita, ya wajar saja Devita bertanya seperti itu karena Daniel yang sangat tahu jalan dan letak dimana tempat wisata.


''Aku dulu pernah tinggal di sini hanya beberapa tahun karena kakek ku mempunyai anak perusahaan disini, tapi sekarang sudah tidak ada karena di pindah,'' jawab Daniel.


Setelah membeli tiket, mereka pun masuk dan berjelajah mencoba berbagai wahana dan memasuki akuarium raksasa itu, yang terdapat berbagai jenis makhluk laut di dalamnya.


.


.


.

__ADS_1


Di bagian negara lain dan di waktu yang berbeda, ya karena Indonesia dan negara asal Daniel dan Devita berbeda 5 jam lebih lambat.


Seorang gadis baru saja menyelesaikan kelas nya, dan Ia sedang duduk makan bersama pria, sahabat nya.


Ya gadis itu yang tak lain adalah Puspa bersama dengan Jonathan yang sedang berada di kantin kampusnya.


''Apa cuti Devita masih lama?'' tanya Jonathan memulai pembicaraan.


''Ya sepertinya begitu,'' jawab Puspa yang pandangan dan jarinya di sibukan dengan ponselnya.


''Kau sedang apa, sepertinya sibuk sekali,'' dengan jahilnya Jonathan merebut ponsel Puspa.


''Ponsel ku, kembalikan Jo.'' teriak Puspa.


''Tidak, aku ingin melihat nya sebentar,'' ucap Jonathan dengan berusaha membuka kunci Puspa, namun ponsel Puspa hanya bisa di buka dengan sidik jari sang pemilik.


''Isshh kau curang, Pu.'' Dengus Jonathan yang masih berusaha membuka kunci dengan menarik tangan Puspa untuk di tempelkan ke layar ponsel.


Namun ada tangan yang cepat merebut ponsel milik Puspa, dan membuat Puspa dan Jonathan menoleh ke arah seseorang itu.


Banyak gadis yang berteriak histeris karena melihat pesona pria yang merebut ponsel Puspa dari tangan Jonathan itu.


Kemal, ya pria itu Kemal Lee yang sedang menatap tajam Jonathan.


''Kau mengerti soal kata, PRIVASI bukan?'' ucap Kemal dengan menekankan kata 'Privasi.


''Tuan Kemal, jangan terlalu serius, aku hanya sedang bercanda dengan sahabat ku sendiri.'' Jawab Jonathan dengan santai.


''Iya Kem, kita hanya sedang bercanda kok,'' timpal Puspa yang tidak ingin ada keributan di kantin kampus.

__ADS_1


Tidak ada jawaban dari mulut Kemal, ia hanya terus menatap Jonathan, Jonathan yang di tatap bersikap tenang tanpa merasa takut sedikit pun.


Dua pria tampan sedang beradu tatap dengan sengitnya, pria idola kampus dengan pria yang entah datangnya dari mana, namun pesonanya bak seorang pangeran. Itulah isi berita kampus yang tersebar hari ini.


__ADS_2