Cinta CEO Arrogant

Cinta CEO Arrogant
Kandang Singa


__ADS_3

Sebenarnya enggan untuk mengantarkan Devita ke kampusnya, bukan karena tidak perduli tapi tatapan dan teriakan para betina yang membuat Daniel menatapnya jijik karena tidak suka.


Tapi Daniel rasa tanggung jawabnya untuk memastikan keselamatan gadisnya itu penting dengan cara mengantarkan nya langsung ke pelataran kampus nya.


''Ya sudah aku pamit ya, kabari aku kalau jam kuliah mu selesai,'' pamit Daniel dengan lembut walau hati sedang dongkol.


''Iya, kau hati-hati,'' jawab Devita dengan melambaikan tangannya.


Daniel pun melajukan mobilnya meninggalkan pelataran kampus, banyak teriakan tidak rela karena Daniel pergi, seorang gadis dengan dua temannya menghamoiri Devita yang masih menatap mobil Daniel yang kian menjauh.


''Dev, sebenarnya dia itu siapa kamu?'' tanya gadis yang bernama Karin.


''Dia? memangnya kenapa?'' bukan menjawab Devita malah bertanya balik.


''Bisa kan kau kenalkan kami dengan dia,''


''Bisa, sangat bisa. Tapi tunggu aku menyebarkan undangan ya,'' ucapan Devita membuat ketiga gadis itu kian berpikir keras, ucapan Devita tidak langsung membuat mereka paham.


''Aku duluan, bye.'' Devita berlalu menuju gedung fakultasnya meninggalkan ketiga gadis itu.


'Heh, memperkenalkan. Mana mungkin aku memberi milik ku dengan buaya betina seperti mereka' batin Devita menyeringai.


''Rin kamu paham dengan yang di ucapkan Devita,'' tanya salasatu dari mereka. Yang bernama Karin itu hanya menggeleng karena Ia benar-benar tidak paham apa maksud dari ucapan Devita.


Devita baru saja melangkahkan kakinya masuk ke kelasnya, tali teriakan seseorang membuat Ia terkejut bukan main.


''Devi,,'' teriak seorang gadis yang ternyata itu adalah Puspa Tan.


''Astaga Puspa, kau mengejutkan aku,'' omel Devita dengan tangan yang mengelus dadanya.

__ADS_1


''Kau dari mana saja, apa kau sudah bosan dengan waktu cuti mu.'' Ucap Puspa dengan tatapan menyelidik.


''Jangan menatap ku seperti itu, mata mu seperti sedang menghakimi seorang mafia, tau.'' Ucap Devita meraup wajah Puspa.


''Isshhh, menyebalkan,'' ketus Puspa.


Devita merangkul Puspa untuk duduk di kursi masing-masing nya, tapi pangan Puspa tertuju tepat di jari manis Devita yang terdapat sebuah cincin berlian yang Puspa tau itu tidaklah murah, dan yang notabene nya Devita sama sekali tidak pernah memakai aksesoris apapun di tangannya terkecuali jam tangan.


''Dev, ini.'' Mata Puspa melotot kembali dengan menarik tangan Devita agar bisa Ia lebih jelas melihat cincin itu.


Devita hanya mengigit bibirnya, dengan expresi seperti ketangkap basah selingkuhan.


''Dev, kau tidak ingin mengatakan apapun dengan ku,'' mata Puspa memicing.


Devita menghela nafasnya dengan kasar.


''Baiklah nanti saat di kantin aku akan menceritakan semuanya,'' pasrah Devita.


Tidak lama mereka berbincang satu persatu mahasiswa serta Seorang dosen pun sudah datang, dengan serius Devita menyimak apa yang dosen nya sampaikan.


Di CR Corp.


Daniel sedang memimpin sebuah rapat penting mengenai pengeluaran perusahaan yang tidak seperti biasanya, dan per'oprasian tambang mandek di tengah jalan.


BRAKKKK


Daniel menggebrak meja meeting dengan sangat keras, meha yang tebuat sebagian dari kaca sampai retak di bagian yang Ia gebrak sangking kerasnya pukulan Daniel.


Dengan deru nafas yang memburu, Daniel melonggarkan dasi yang terikat di lehernya.

__ADS_1


''Saya tidak ingin ada kesalahan,'' ucapnya dengan penekanan di setiap kata.


''Dan ingat saya tidak suka penghianatan, segeralah mengaku sebelum saya sendiri yang menyeret pelaku nya.'' Ucapnya lagi masih dengan mata yang menyalang menatap satu persatu karyawan yang hadir di dalam meeting tersebut.


Tubuh seluruh karyawan sudah gemetar takut, bahkan ada yang sudah terkencing karena rasa ketakutanya, keringat yang membasahi para pelipis karyawan sangat kentara.


''Zen, bereskan secepatnya. Saya tidak ingin ada tikus berdasi yang hidup tenang setelah bermain-main dengan saya.'' Setelah mengucapkan kata-kata yang menyeramkan bagi para karyawan, Daniel berlalu pergi dari ruang meeting nya.


Setelah Daniel meninggalkan ruang meeting itu, karyawan tidak bisa langsung bernafas lega karena masih ada satu Pria yang tak kalah berbahayanya dan menakutkan nya dengan Daniel, yaitu Zen Batla.


''Kalian masih ingin bermain-main dengan Tuan Daniel?'' tanya Zen dengan tatapan mematikannya.


Para karyawan hanya diam tidak ada yang berani menjawab pertanyaan Zen asisten pribadinya Daniel, CEO yang terkenal sangat Arogan serta kejam.


''JAWAB!!!'' Bentak Zen dengan suara menggelegar nya.


Ketakutan para Karyawan semakin bertambah, sampai ada seorang pria yang terlihat usianya tidak lagi muda tiba-tiba menjatuhkan diri tepat di bawah kaki Zen untuk meminta Maaf.


''Maafkan saya Tuan Zen, saya khilaf. Saya akan membereskan kekacauan yang saya buat dengan segera,'' ucap pria itu dengan terus bersujud meminta ampunan.


''Oh rupanya kau yang sudah berani bermain-main di kandang singa ya, PRIA TUA!!'' Bentaknya lagi, tubuh pria itu semakin bergetar.


''Ampun Tuan,'' lirih pria itu.


Zen tidak mengidahkan ucapan pria itu, Ia merogoh saku celananya dan menghubungi seseorang.


''Cepat ke ruang meeting,'' ucap Zen dan langsung memutus sambungan telepon itu.


''Kalian perhatikan, lihat kejadian menjijikkan ini sebagai pelajaran kalian yang ingin bermain-main dengan Tuan Daniel walaupun hanya kata Niat atau coba-coba, PAHAM!!'' ucap Zen dengan suara tingginya.

__ADS_1


''Paham Tuan.'' Jawab para karyawan dengan kompaknya.


__ADS_2