
Daniel duduk dengan menyilangkan kakinya, tatapan tajamnya terarah ke pintu menunggu datangnya seseorang yang ingin sekali di temuinya.
Pintu diketuk dan di buka oleh Nadia orang yang telah di tunggu nya.
''Daniel, ada apa? apa iya kamu kesini hanya untuk menemui ku.'' Ucap Nadia dengan senyum manisnya.
''Duduklah,'' ucapnya dengan dingin.
''Sepertinya pembicaraan kitabakan serius ya,'' ujar Nadia masih bisa tersenyum.
Daniel diam sesaat dan menatik nafasnyabserta membuangnya dengan perlahan.
''Katakan apa yang kau lakukan kemarin,'' tanya Daniel, Nadia mengernyitkan alisnya karena tidak paham dengan pertanyaan yang di layangkan Daniel padanya.
''Apa? kemarin aku tidak melakukan apapun.'' Jawab Nadia.
''Ck, apa kau menemui Devita?'' tanya Daniel langsung pada intinya.
''Menemui Devita? untuk apa?'' elak Nadia.
''Sudahlah Nad, aku bertanya untuk di jawab, bukan di pertanyakan lagi,'' jengah Daniel.
''Apa Devita yang mengadu pada mu,'' tanya Nadia dengan senyum yang sudah menghilang.
''Bahkan dari kemarin Devita belum juga mengaktifkan ponselnya, dia menjauhi ku itu semua karena kamu, Nadia,'' ucap Daniel dengan meninggikan suaranya.
Nadia membuang mukanya, rasa kesal dan kecewa bercampur menjadi satu, kesal karena rencananya telah di ketahui Daniel, dan kecewa karena Daniel membentaknya.
''Ya aku memang menemui Devita,'' ujar Nadia dengan lantang.
''Buat apa?''
''Aku rasa kamu juga sudah tahu, buat apa aku menemui Devita,'' ucap Nadia dengan pelan.
''Nadia kau sudah sangat keterlaluan,'' ketua Daniel.
''Aku keterlaluan?''
''Ya, bahkan kau juga menemui Kemal, untuk menawari kerja sama menghancurkan hubungan ku dengan Devita, gadis yang aku cintai,'' emosi Daniel sudah berada di puncaknya namun sebisa mungkin Ia tahan.
__ADS_1
''Kau egois Nadia, kau sungguh egois!!!.'' bentak Daniel.
''Ya aku memang egois, apa salah aku menginginkan kamu, Daniel.'' Nadia berbicara dengan nada yang tak lah tingginya dan dengan air mata yang sudah bercucuran di pipi mulusnya.
''Ya kau sangat salah, karena kau sudah ku anggap sebagai adik ku sendiri, Nadia.''
''Tapi aku tidak ingin bersetatus sebagai adik mu, Daniel. Hiks hiks hiks.'' Tangis Nadia pecah dengan tubuh yang luruh kelantai.
Daniel menatapnya dengan tatapan datarnya, ada rasa iba di hatinya tapi dia tak ingin sikapnya di salah artikan lagi dengan Nadia.
''Kau harus tau Nadia, aku hanya menganggap mu sebagai adik ku, karena sedari kecil kita sudah hidup bersama dengan Dinar juga, dan satu yang perlu kau ingat, Gadis yang saat ini menempati hati ku hanya dia, Devita Maharani.'' Ucap Daniel begitu tegasnya. Daniel melangkahkan kakinya meninggalkan Nadia yang sedang menangis.
''Tunggu,'' teriak Nadia, Daniel yang sudah ingin membuka knop pintu terhenti karena teriakan Nadia.
''Kau boleh berkata demikian, tapi ingat Daniel, kau tidak punya hak untuk melarang ku untuk memperjuangkan cinta ku, KAU INGAT ITU!!'' ucap Nadia dengan teriakan di akhir kalimat nya.
''aku rasa kau harus pergi ke psikiater, Nadia.'' Ucap Daniel dengan nyalang dan berlalu pergi dari ruangan kerja milik Ayah nya.
''Aaaaakkkhhhh,'' teriakan frustasi keluar dari mulut Nadia.
Nadia bangkit dari duduknya dan menghapus air matanya dengan kasar.
.
.
Di toko bunga yang di beti nama DePu flowers.
Devita dan Puspa sedang merangkai beberapa tangkai bunga mawar pesanan pelanggan nya.
''Dev, kau sehat kan?'' tanya Puspa karena melihat wajah Devita yang pucat dan murung.
''Aku sehat kok, kenapa?''
''Tidak, aku hanga bertanya.'' Ucap Puspa.
''Oh ya, kemana ponsel mu?'' tanya Puspa lagi.
''Ada di tas, kenapa?''
__ADS_1
''Kenapa kau tidak mengaktifkan nya.''
''Sedang tidak berselera memegang ponsel,'' kilah Devita.
''Jangan menghindari nya jika hati mu berat meninggalkan nya. Aku tahu kau sangat mencintai Daniel, tapi kenapa kau menyerah begitu saja.'' Ucapan Puspa tidak lagi terjawab oleh Devita.
''Ingat Dev, dia pria yang membawa mu dari lembah duka mu, dia pria yang menyelamatkan mu dari jerat para iblis dunia, dan ingat! dia pria pertama yang membuat mu merasakan indahnya cinta.'' Ucap Puspa memberi semangat dalam kata untuk sahabat nya.
''Jangan pernah memperdulikan kata orang jika menurut mu itu salah, seperti Nadia, apa kau rela jika nantinya Daniel harus terjerat dengan wanita sepertinya.'' Ucapan Puspa kali ini membuat Devita terpaku, tangannya yang terampil menghias rangkaian bunga seketika terhenti.
''Lalu aku harus apa?'' tanya Devita tanpa menoleh ke arah Puspa.
''Memperjuangkan, itu lah satu-satunya yang harus kau lakukan.'' Jawab Puspa memberikan semangatnya.
''Tapi Nadia yang lebih mengenal Daniel,''
''Ya, tapi bukan dia wanita yang di cintai Daniel, Dev.'' Puspa berkata dengan keras bertujuan agar Devita bisa mengerti dengan cepat.
Devita menghela nafasnya dengan pelan.
''Terima kasih, Pu.'' ucapnya dengan senyum yang beberapa hari ini sirna.
Mereka pun saling berpelukan, ikatan persahabatan yang begitu slerat terjalin dengan alami di antara mereka.
Di CR Corp.
Kemal baru saja keluar dari ruangan meeting bersama Zen dan beberapa kolega-kolega serta rekan-rekan bisnis Daniel.
Ucapan selamat terus terucap untuk Kemal dari Orang-orang yang mengikuti meeting itu.
Kemal dan Zen kembali ke ruangan Daniel setelah semua kolega-kolega penting meninggalkan kantor.
''Kem, aku tidak menyangka, ternyata kau juga berbakat seperti kakak mu.'' Puji Zen dengan tulus.
''Kau tidak tahu Zen, jantung ku serasa ingin meledak mengahadapi Orang-orang penting itu.'' Ucap Kemal dengan tangan yang terus mengelus dada bidangnya.
''Tapi kau bisa kan, kuncinya satu. Yakin.'' Jawab Zen dengan senyum langkanya.
''Sungguh aku membayangkan kalau kita kalah tender dan itu karena aku, aku pastikan, aku akan mati di tangan kakak ku sendiri.'' Ucap Kemal dengan polosnya dan membuat Zen tertawa sampai terpingkal-pingkal.
__ADS_1
''Kau sungguh berlebihan,'' tawa Zen.