
Tetesan air hujan membangunkan Puspa yang tertidur di kursi taman rumah sakit.
'' Astaga, ternyata itu mimpi, tapi kenapa seperti nyata sekali,'' gumam Puspa, ia mengusap wajahnya dan merasakan ada bekas air mata yang masih tersisa di pipi mulusnya.
'' Aku menangis?'' ucap Puspa dengan tangan yang terus mengusap pipi nya.
'' Kemal,'' lirih Puspa yang langsung beranjak dari duduknya dan berlari menuju kamar Kemal.
Puspa terus berlari, sampai ia bertemu dengan Linda dan Zen yang sedang berdebat, karena tidak ingin tau atau memang karena tidak peduli Puspa pun melanjutkan langkah nya menuju kamar Kemal.
Braakkk.
Puspa membuka pintu kamar dengan keras sampai menimbulkan suara yang kencang karena benturan antara pintu dengan dinding.
Puspa menoleh ke arah ranjang, matanya memicing karena Dinar sedang duduk di samping ranjang dengan wajah yang ceria, dan Daniel juga Devita yang bercanda ria di sofa yang letaknya tidak jauh dari ranjang Kemal.
'' Pu, ada apa?'' tanya Devita yang merasa aneh dengan Puspa.
'' Kemal?'' tanya Puspa dengan suara seraknya.
'' Sayang,'' ucap seseorang dengan suara yang lemah dan membuat Puspa menegang di tempat.
'' Suara itu?'' gumam Puspa.
'' Sayang, apa kau tidak merindukan aku?'' ucap seseorang itu lagi, dengan meyakinkan dirinya Puspa pun perlahan menolehkan kepalanya dengan mata yang terpejam.
'' Pu, kau sedang apa, Kemal memanggil mu,'' ucap Devita dengan kekehannya.
__ADS_1
Mata Puspa seketika terbuka dan melebar setelah apa yang di lihatnya. '' Kemal,'' ucap Puspa dengan wajah terkejut nya.
'' Kemarilah,'' suara yan tadi di dengar nya kali ini bersuara lagi yang di ternyata itu suara Kemal.
Air mata Puspa kembal menetes, perlahan ia melangkah, karena tahu apa yang di rasakan Puspa, Dinar pun menyingkir dari sana memberi ruang untuk Puspa juga Kemal.
'' Daniel, Devita, ayo.'' Ucap Dinar mengajak adik dan adik iparnya untuk keluar sebentar dari kamar itu.
'' Mau apa?'' tanya Daniel buang tidak mengerti maksud Dinar.
'' Daniel berilah ruang buat mereka,'' timpal Devita.
'' Ruangan ini cukup luas, apa perlu kita pergi juga dari sini?'' ucap Daniel keukeuh yang tetap ingin berada di sana.
'' Daniel,'' ucap Devita dengan mata yang melebar dan gigi yang di rapatkan.
'' Baru kali ini aku merasakan rasanya di usir,'' gerutu Daniel.
Di kamar itu hanya ada Puspa dan Kemal yang masih terbaring karena komanya yang sudah satu bulan dan membuatnya masih lemas belum kuat untuk duduk.
'' Kemal, kau sudah sadar,'' lirih Puspa yang sudah duduk di kursi samping ranjang Kemal.
'' Iya, sayang. Ini berkat doa kamu juga kan,'' jawab Kemal dengan suara seraknya.
Puspa tersenyum dengan air mata yang terus meleleh, perlahan Kemal mengangkat tangannya dan mengusap lembut pipi halus Puspa yang sangat di rindukan nya itu.
Sentuhan Kemal membuat Puspa terpejam sebentar karena ia benar-benar merindukan kelembutan kekasih nya.
__ADS_1
'' Jangan menangis lagi, kau terlalu banyak menagis,'' ucap Kemal terbata-bata.
'' Kemal,'' Puspa memeluk tubuh Kemal dengan hati-hati karena masih terpasang beberapa selang di tubuh Kemal.
'' Terimakasih Kemal, terimakasih sudah mau bangun,'' ucap Puspa yang masih memeluk tubuh Kemal.
'' Aku bangun karena janji ku yang belum terlaksana,'' ucap Kemal dengan tangan yang mengusap lembut kepala gadisnya.
'' Janji?'' Puspa melepaskan pelukannya dan menatap bingung karena ucapan Kemal.
'' Iya, janji ku padamu, apa kau tidak mengingat nya? aku sudah berjanji kalau aku akan menikahi mu.'' Ucap Kemal mengingatkan janjinya pada kekasihnya.
Pipi Puspa merona merah, ia tersipu malu dengan apa yang di ucapkan Kemal.
'' Tapi maaf,'' lirih Kemal, Puspa mengangkat wajahnya dan menatap Kemal.
'' Maaf untuk apa?'' tanya Puspa.
'' Maaf karena cincin yang aku siapkan untuk melamar mu sudah hilang,'' ucapan Kemal membuat Puspa menghela nafas nya dengan lega dan tersenyum memamerkan gigi putih nya.
'' Ini,'' ucap Puspa yang mengangkat tangannya dan mengarahkan nya ke depan wajah Kemal agar Kemal melihat bahwa cincin yang di maksud nya telah ia kenakan saat di hari Kemal kecelakaan.
'' Cincin itu kan,''
'' Iya, ini cincin yang kau maksud kan?'' Kemal mengangguk dengan wajah bahagia nya.
Walaupun wajah yang tegas itu sudah menirus dan memucat tetaplah senyuman Kemal yang paling manis di mata Puspa.
__ADS_1
TBC...