
Budayakan Like sebelum atau setelah Membaca ya aka aka ku tersayang ππ
Dan tolong tinggalkan jejak komentar nya doong, biar Author lebih semangat nulisnya πππ..
Banyak maunya yaaπ iya emang ππ
eettt satu lagi,, VOTE nya jangan lupaπββ
...ππππππ...
Hari sudah berganti malam, esok adalah acara pembukaan Toko Depu Flowers yang hanya mengundang teman-teman sekelas di Fakultas nya.
Devita dan Puspa sedang berada di sebuah taxi menuju Apartemen tempat Devita tinggal, ya malam ini Puspa berencana akan bermalam di tempat Devita agar esok bisa berangkat bareng ke kampus.
''Sepertinya alasan mu mengajak ku bermalam di tempat mu bukan karena itu kan, karena kau kesepian bukan.'' Ucap Puspa.
''Tidak, siapa bilang kesepian,'' elak Devita.
''Ellleehh, mengaku saja lah.'' ..
''Tidak Puspa,'' keukeuh Devita.
''Ah ya sudah lah, terserah apa katamu.'' Ucap Puspa mengalah.
Mobil taxi yang di taiki Puspa dan Devita sudah sampai di pelataran gedung Apartemen, setelah membayar ongkos taxi, mereka pun memasuki Apartemen itu.
Saat Devita ingin menekan tombol lift, ada tangan yang mencekalnya dan menarik Devita ke dalam pelukannya.
Kejadian itu begitu cepat sampai Devita pun tidak bisa menolaknya, dekapan itu begitu erat.
''Hei lepaskan Devita.'' Teriak Puspa, tapi tidak di gubrisnya.
''Lepasss.'' Devita terus meronta tapi dekapan itu terlalu kuat, sehingga Devita tidak bisa melepaskan kungkungan pria itu.
Saat Devita berusaha mengangkat kepalanya karena ingin melihat siapa yang telah berani memeluk nya, seketika matanya melebar, emosinya memuncak.
Dengan sekuat tenaga Devita meronta dengan di bantu Puspa yang ikut memukuli bagian belakang tubuh lelaki itu.
''Dev, apa salah saya, kenapa kamu tidak bisa membalas perasaan saya.'' Ucap pria itu dengan raut sendu.
''Jangan paksa perasaan saya, Ka.'' Ucap Devita yang terus meronta.
''Tapi apa kurangnya saya, Dev.'' Ucap nya lagi.
''Ka, Devi mohon. Lepaskan Devi Ka.'' Mohon Devita sudah mulai putis asa.
''Kamu harus ikut dengan ku ya.'' ..
Devita menggeleng dengan kuat, Ia menolak ajakan pria itu dengan mentah-mentah.
''Tidak Ka, tolong lepaskan Devi.'' Devita akhirnya menangis karena takut, rasa trauma nya beberapa bulan lalu muncul lagi.
''Saya benar-benar mencintaimu mu, Dev.'' Pria itu memasang wajah sedihnya.
__ADS_1
Devita menoleh ke arah Puspa yang tengah panik melihat nya, Devita memasang wajah memohon untuk membantunya.
Karena suasana sedang sepi Puspa pum berlari ke arah pintu masuk dan berniat untuk meminta tolong pada pengamanan di sana.
''Pak, tolong teman saya, ada pria gila yang sudah berbuat tak sopan pada teman saya.'' Ucapnya dengan nafas yang memburu.
''Dimana Nona.'' ..
''Disana, ayo Pak.'' Puspa pun berlari lagi untuk kembali ke tempat Devita di peluk tadi.
Pada saat Puspa kembali Pria itu sudah melepaskan pelukannya, terlihat ada noda darah di bagian dadanya karena bekas gigitan Devita yang mungkin begitu kuatnya.
Devita berdiri di pintu lift dengan memeluk tubuhnya sendiri terlihat sekali Ia sedang ketakutan berhadapan dengan seorang pria yang bertubuh kekar yang ada di hadapannya dengan mata yang menyalang ke arahnya.
''Devi, kau tidak apa-apa?'' tanya Puspa khawatir, tapi Devita tidak menjawab pertanyaan Puspa.
''Pak tolong amankan pria itu.'' Teriak Puspa.
''Tuan, silahkan ikut kami ke kantor ..'' Ucapan penjaga itu terpotong karena pria itu.
''Kalian berani memerintah Lucky Matthew, Hah!!'' Ucap Pria yang mengaku bernama Lucky itu dengan tatapan tajam dan menyalang ke arah dua penjaga itu.
''Tu-tuan Lucky.'' Lirih penjaga yang bertubuh kecil.
''Saya tidak kenal dengan Anda, yang saya tahu, Nona itu adalah calon Nona muda kami.'' Tegas penjaga bertubuh besar.
''Cih, Nona muda, kalian tahu gadis ini adalah calon istri saya.'' Teriak Lucky.
Penjaga itu tak gentar dengan teriakan Lucky, Ia malah menghubungi seseorang dari HT yang di bawanya.
Terlihat dari raut wajah Lucky yang mulai panik.
''Sial, awas kau.'' Lucky berlalu pergi dari Gedung Apartemen itu dengan tergesa-gesa.
''Nona, tenanglah.'' Ucap penjaga itu.
''Terima kasih Pak,'' Puspa membawa Devita yang tengah syok itu memasuki lift untuk menuju lantai dimana kamar Devita berada.
Puspa terus berusaha menenangkan Devita yang tengah menangis itu.
''Pu, aku takut.'' Lirih Devita.
''Ya aku tahu, kau tenang lah Nona muda.'' Ucapnya dengan di selingi candaan.
Di belahan negara lain, Daniel baru saja mengistirahatkan tubuhnya yang tengah lelah itu, Ya dia baru saja pulang dari kantor cabangnya untuk menangani masalah yang ada.
Ponselnya bergetar di saku celananya, Daniel berdecak kesal karena baru saja Ia ingin memejamkan matanya tapi harus terganggu karena getaran ponselnya.
Saat Ia membuka ponselnya dan jarinya menakan Aplikasi Chatting matanya memerah dengan guratan Amarah.
Buku-buku tangannya mengepal dengan memeras ponselnya, terlihat ponselnya sudah mulai retak dan 'Krek, ponselnya sudah tidak bernyawa di tangannya.
''Sial, apa-apaan ini, Berani sekali mengusik ku.'' Geramnya dengan gigi yang beradu menahan emosi.
__ADS_1
Tangannya mengambil gagang telpon yang ada di atas nakas samping tempat tidurnya.
''Zen urus kepulangan ku, sekarang juga.'' Ucap Daniel yang terdengar sedang menahan emosinya.
''Tapi tuan, besok kita akan melakukan pemeriksaan ulang.'' ..
''Aku tidak peduli, aku bilang urus kepulangan ku, SEKARANG!!'' Bentak Daniel dan menaruh gagang telpon itu ke tempat semula dengan kasarnya.
''Kau sudah mengibarkan bendera perang, Lucky Fedric.'' Gumamnya dengan geram.
.
.
.
Di suatu Rumah yang besar, Pria yang bernama Lucky itu sedang menumpahkan kekesalan nya di sebuah ruangan yang terdapat ada beberapa samsak di dalamnya.
''Apa kurang ku.'' ..
'Bhug.
''Dan Apa lebih dirinya.''..
'Bugh.
Lucky terus menonjoki Samsak itu dengan racauannya.
''Luck, tanang lah. Jangan karena seorang wanita kau berbuat bodoh dengan cara melakukan itu di tempat umum seperti tadi.'' Ucap seorang Pria yang duduk dengan menyilangkan kakinya.
''Aku tidak peduli.'' Jawab Lucky yang masih menonjoki samsak itu.
''Kau tahu, akibat nya dari perbuatan mu, bisa saja Daniel Carroll tahu, dan akan memutuskan kerja sama perusahaan nya dengan perusahaan kita, Mengerti.'' Bentak pria yang sedang duduk itu.
''Jangan berteriak pada ku.'' Lucky tidak terima dengan bentakan Pria yang ternyata adalah Kakaknya.
''Cih, kau benar-benar gila, mestinya aku tetap membiarkan mu di dalam rumah sakit jiwa waktu itu.'' Ketus Pria itu.
Dengan Tawanya Lucky berjalan menghampiri Kakak nya yang sedang duduk itu, tatapan nyalang dengan seringai di wajahnya, Lucky terus berjalan ke arah Kakak nya.
''Mau apa kau?'' Sang kakak beranjak dari duduk nya dengan tatapan heran.
''Kau bilang apa barusan. Gila, ya aku memang sudah gila.'' Ucapnya dengan wajah memelas dan dengan seketika Tawanya pecah lagi.
''Ha ha ha, Tapi kau tidak boleh menyebut ku Gila, kau Paham!!'' Bentak Lucky.
''Bertahun-tahun, aku menunggu Devi agar siap aku nikahi, dan mempunyai Anak-anak yang lucu, dan kau tahu, aku akan memberi nama ku pada anak-anak yang dilahirkan Devita kelak, Haaaaa sungguh indah.'' Racau Lucky.
''Tapi, Tapi. Devi bahkan tidak pernah ingin berniat membalas perasaan ku.'' Lucky menangis tersedu-sedu.
Sang kakak hanya bisa melihat dan mendengarkan keluh kesah sang adik dengan hati yang seperti teriris Silet.
Hati yang sakit melihat adikny menderita karena cinta, dan terkadang adiknya harus di ikat paksa karena sering sekali berniat mencelakai diri nya sendiri.
__ADS_1
Dengan gangguan mental sang Adik, hanya dirinya yang tahu, dengan bersusah payah Ia menutupi jati diri adiknya dari luaran sana.