
Di sebuah bangunan yang menjulang tinggi ada dua orang pria yang sedang tertawa dengan puasnya karena merasa sudah berhasil mengecoh beberapa berkas kerja sama dengan CR Corp yang di pimpin oleh Daniel Carroll.
''Mereka sangat bodoh, dengan mudahnya percaya dengan laporan palsu itu.'' Ucap seorang pria dengan prawakan yang cukup tegap dan wajah yang terbilang tampan.
''Iyah kau benar, tidak di sangka asisten pribadinya itu tidak curiga dengan apa yang kita perbuat.'' Tawa mereka menggelegar sampai mengisi ruangan bercat merah hitam itu.
Pria yang duduk di kursi kebesarannya dengan bertuliskan CEO Lucky Matthew di atas mejanya itu, melirik jam yang melingkar di tangannya dan Ia pun segera beranjak.
''Mau kemana kau.'' Tanya pria yang duduk di sofa dengan menyilangkan kakinya.
''Aku ada urusan, kau urus sisahnya.'' Pria yang ternyata adalah Lucky Matthew itu berlalu pergi dari ruangannya.
''Haah.. Sudah biasa, aku yang selalu mengurus sisahnya,'' gerutu pria itu.
Di kampus, di sebuah kelas yang sudah mulai sepi karena jam mata kuliah sudah selesai, ada 3 anak manusia yang sedang asik berbincang dan lebih tepatnya hanya dua orang di antaranya yang asik mengobrol, sedangkan yang satunya lagi hanya menjadi pendengar setia saja.
''Kemal tadi menelpon ku, menayangkan kita yang jadi melihat ruko atau tidak.'' Ucap Puspa dengan wajah yang berseri setiap kali menyebut nama Kemal, ya gadis itu selalu mengingat perkataan Kemal yang memuji dirinya semakin cantik.
''Lalu kau bilang apa?'' tanya Devita menanggapi.
''Ya aku bilang, jadi. Apa lagi,'' jawabnya.
Devita mengangguk, ''Jo kau ikut?'' tanya Devita pada Jonathan yang sedang asik memainkan ponselnya.
''Apa boleh?''..
''Ya tentu saja boleh, siapa yang melarang mu.'' tawa Puspa dengan mata yang mengecil.
''Kalau begitu aku akan ikut, oh ya aku ke kamar kecil dulu ya.'' Pamit Jonathan dengan langkah kaki yang menuju keluar kelas.
Tapi langkah kakinya sedikit melambat karena pertanyaan Puspa untuk Devita yang menurut Jonathan pembicaraan itu harus di dengar nya.
''Dev, apa kamu menjalin hubungan dengan Tuan Daniel?'' pertanyaan itu lah yang membuat perhatian Jonathan teralihkan dan berniat untuk memasang telinga dengan baik di balik tembok.
''Sebenarnya aku dengan dia sudah sepakat untuk mencoba membangun chemistry kita masing-masing, Pu.'' Ujar Devita membuat Puspa melebarkan matanya.
Ungkapan Devita membuat Jonathan yang memang sengaja menguping di balik tembak seketika memegangi dadanya yang terasa sesak.
''Mencoba? apa maksudnya, Dev?'' tanya Puspa yang masih belum memahami maksud dati kata 'Mencoba.
''Ya Mencoba, dia yang mengucapkan itu.'' Ucap Devita dengan polosnya.
'' Kau tahu arti dari kata mencoba itu apa, dia hanya berniat bermain-main dengan mu, Devita.'' Ucap Puspa dengan pemikiran nya sendiri.
''Tidak, tidak mungkin Daniel hanya mempermainkan aku.'' Tangkis Devita dengan yakin.
''Terserah kau saja lah, tapi yang aku tau arti dari kata mencoba itu ya seperti itu, dia bisa saja memutuskan hubungan kapan saja yang Ia mau, karena ya kalian kan bersatu hanya dengan kata 'mencoba.'' Ucap Puspa masih dengan berspekulasi sendiri.
''Tidak, aku sangat yakin dengan Daniel, dia pria yang baik.'' Ucapnya lagi masih dengan hati yang yakin dengan tujuan Daniel.
__ADS_1
''Apa aku kurang baik.'' Gumam Jonathan yang masih berdiri di balik tembok itu.
''Ya sudah, Maafkan aku jika aku mengatakan apa yang aku fikiran, karena aku takut kau tersakiti, Dev.'' Ucap Puspa dengan perhatian.
''Tidak apa-apa Pu, aku sangat mengerti apa maksud mu kok.'' Jawabnya dengan tersenyum lembut.
''Ya sudah yuk, kita berangkat, Kemal bilang kita ketemuan di tempat saja, dia juga sudah mengirimkan letak lokasinya.'' Ucap Puspa dengan beranjak berdiri dan menyambar tasnya.
''Eeh sebentar, Jonathan mana?'' tanya Devita yang merasa heran karena Jonathan tak kunjung kembali.
Jonathan yang mendengar pertanyaan Devita gelagapan, Ia langsung masuk ke kelas seolah-olah Dia baru saja kembali dari toilet.
''Hei kalian sudah mau berangkat.'' Jonathan berbicara dengan setenang mungkin, karena Ia tak ingin Devita dan Puspa curiga.
''Kau lama sekali Jo di toilet, curiga aku.'' Goda Puspa dengan di iringi tawa dari Devita.
''Fikiran mu terlalu luas, Pu.'' Ketus Jonathan.
''Ha ha ha, jangan marah Jo, aku kan hanya bergurau, kau seperti anak perawan yang baru datang bulan saja.'' Ucap Puspa dengan gaya comelnya.
Mereka pun berlalu dan menuju parkiran khusus mobil di kampusnya.
Saat kaki sudah ingin masuk ke mobil yang di kemudikan Jonathan, Devita terkejut ada tangan yang menariknya dengan kasar.
''Lepas, kamu apa-apaan sih.'' Teriakan Devita mengundang perhatian penduduk kampus, dan Jonathan serta Puspa yang sudah duduk di dalam mobil sampai keluar lagi.
''Ikut dengan ku, Devita.'' Ucap Pria yang tempo hari datang ke kampusnya juga hanya untuk memaksakan perasaan nya di balas.
''Hei Tuan, kenapa kau tidak bisa mengerti bahasa manusia normal, hah.'' Ucap Jonathan yang menghempaskan tangan Pria itu dari lengan Devita.
''Kurang ajar!! sudah ku bilang jangan ikut campur!!'' bentak pria itu.
''Heh Tuan, tidak usah meninggikan suara mu, atau aku akan menyuruh penghuni kampus ini mengeroyok mu, mau.'' Gertak Puspa dan membuat Pria itu sedikit takut.
''Sudah Dev, kau masuk cepat.'' perintah Jonathan.
Devita masuk ke mobil, Pria itu sempat ingin menghalangi nga lagi tapi keburu Jonathan menghadiahkan sebuah bogeman di rahang tegasnya.
BUGH 👊
''Jangan ganggu Devita lagi.'' Ucapan yang mengandung sebuah peringatan itu keluar dari mulut Jonathan.
Jonathan masuk ke mobilnya dan melajukan dengan kecepatan sedang.
''Shit!!!! aku di kalahkan dengan bocah ingusan, memalukan.'' Maki Pria itu dengan kaki yang menendang angin.
Pria itu merasa risih dengan para mata yang memandangnya aneh, Ia pun berlalu dengan mobil mewahnya meninggalkan pelataran kampus dengan hati yang dongkol.
Di sebuah bangunan kosong di tengah-tengah kota, seorang pria sedang asik dengan game di ponselnya.
__ADS_1
Sangking serunya dia bermain game, sampai tidak menyadari kehadiran tiga orang yang berjalan menghampirinya.
''Hooiiii,'' teriak Puspa mengejutkan Kemal.
''Isshhh kau ini kebiasaan sekali.'' Omel Kemal yang di sambut gelak tawa ketiga orang yang di hadapan nya.
''Ini tempat yang kau maksud?'' tanya Puspa dengan mata yang terus memperhatikan sekeliling ruangan dengan pintu kaca itu.
''Bukan, ini adalah pemakaman umum,'' ketus Kemal.
''Isshh kau ini, begitu saja marah.'' Ucap Puspa dengan memberikan puppy eyes nya.
''Sudah ah berisik sekali kalian ini, aku ingin berkeliling dulu.'' Devita berlalu untuk melihat-lihat keadaan bangunan yang ingin di sewanya.
Ponselnya berdering menandakan panggilan telepon yang masuk ke ponselnya.
Terdapat nama Tuan Daniel disana, ya dia belum sempat menganti nama kontak Daniel.
''Iya Daniel.'' Ucap Devita setelah panggilan itu tersambung.
''Vita, kau dimana?'' tanya Daniel di sebrang sana dengan suara yang lembut.
''Aku sedang Survei tempat untuk aku jadikan tempat usaha, Daniel.'' Jawab nya.
''Tempat usaha, usaha apa? kenapa aku tidak tau.''' Ucapnya dengan heran.
''Oh Astaga, maafkan aku, aku lupa memberi tahu mu. Daniel,''..
Daniel hanya diam, tidak buru-buru menjawab permintaan maaf Devita.
''Daniel, apa kau marah,'' lirih Devita.
''Lalu sekarang kau sedang bersama siapa dan dimana?'' tanya Daniel dengan suara yang dingin. Devita yakin Daniel tengah merajuk.
''Aku sedang bersama Puspa Jonathan dan...'' Devita agak ragu menyebutkan nama Kemal, karena terakhir kali Daniel tau dirinya bersama Kemal Daniel bereaksi aneh.
''Dan, Dan siapa, Vita.'' tanya Daniel dengan tidak sabar dengan jawaban Devita yang menggantung.
''Ke-Kemal,'' jawabnya gugup.
Terdengar dengan jelas Daniel berdecak kesal saat Devita menyebutkan nama Kemal.
''Daniel ku mohon kau jangan salah paham, Kemal hanya membantu ku dan Puspa mencarikan tempat untuk usaha ku yang ingin ku jalani bersama Puspa nanti.'' Ucap Devita dengan khawatir.
''Kau bisa meminta ku untuk membantu mu, Vita'' Suara Daniel melemah tersirat kekecewaan di dalamnya.
''Maaf Daniel,'' hanya itu yang dapat Devita ucapkan.
''Kirim lokasi tempat nya sekarang.'' Tanpa menunggu jawaban Devita, Daniel mematikan sambungan telponnya.
__ADS_1
Devita menghela nafas dengan gusar, dia masih belum mengerti kenapa Daniel tidak suka dengan kedekatan nya bersama Kemal.
Bersambung..