
Di kamar, Devita sedang bersiap untuk tidur tapi sebelum itu dia melakukan rutinitas seperti biasanya yaitu memakai beberapa jenis skincare.
Setelah melakukan perawatan wajah sebelum tidur, dia menghampiri Daniel yang sedang memainkan ponselnya sembari merebahkan tubuhnya.
'' Daniel,'' panggil nya dengan lembut, ia merangkak dan tidur di dada bidangnya Daniel, jari yang terus bergerak membentuk lukisan abstrak tanpa mengatakan apapun lagi.
Daniel menyadari ada suatu hal yang ingin di sampaikan istri kecilnya itu, Daniel menangkap jari Devita agar berhenti melukis tanpa tinta di dadanya, dan matanya saling bertemu '' Ada apa?'' tanya Daniel dengan sangat lembut.
'' Lusa kita akan pergi piknik, apa boleh aku mengajak seseorang orang lagi,'' ujarnya dengan expresi lucunya.
'' Memangnya istri ku ini, ingin mengajak siapa lagi, hem.'' Daniel mengusap lembut pipi chubby nya Devita.
'' Emmm, Chloe,'' jawabnya dengan ragu, ia sangat paham dengan suaminya itu, Daniel sangat tidak menyukai Chloe dan orang tuanya.
Daniel terdiam, ia tidak menjawab ucapan Devita dan melanjutkan bermain dengan ponselnya. '' Daniel,'' panggil Devita lagi.
Daniel menanggapi nya hanya dengan sebuah deheman, Daniel memang sangat tidak menyukai keluarga paman Devita karena perlakuan mereka di masalalu pada istrinya dan membuat Daniel membenci nya sampai sekarang.
'' Daniel, Chloe sudah berubah, dia juga sudah meminta maaf pada ku, dan dia juga sudah menerima akibat dari perilakunya di masalalu, lantas apa kita pantas menghukum nya dengan cara membenci dirinya,'' ujar Devita panjang lebar.
'' Bagaimanapun, dia tetap saudari ku, Daniel,'' lanjutnya, Daniel menghela nafasnya dengan pelan, ia benar-benar tidak bisa menolak permintaan istri kecilnya itu.
'' Baiklah, lakukan apa yang kau ingin lakukan, tapi ingat ya honey, serigala tetaplah serigala,'' ucap Daniel dengan peringatan nya.
Devita tersenyum, ia sangat yakin kalau saudaranya itu sudah berubah menjadi lebih baik dari sebelumnya.
__ADS_1
Devita mengambil ponsel nya yang terletak di atas nakas samping ranjangnya, mengirim satu pesan untuk Chloe dan meletakan nya kembali ke tempatnya.
'' Sudah, aku sudah mengirimkan pesan pada Chloe,'' ucap Devita dengan ceria.
'' Ya sudah, sekarang giliran aku yang meminta satu hal pada mu,'' ucap Daniel dengan menaik turunkan alis tebalnya.
'' Apa? kau meminta apa,'' tanya Devita, Daniel mendekatkan bibirnya ke daun telinga Devita lalu membisikkan sesuatu di sana. '' Daniel, kau nakal.'' Ucap Devita dengan pipi yang sudah memerah.
'' Bagaimana, kau akan memberikan nya atau tidak?'' Devita mengulum bibirnya sendiri dan mengangguk dengan pelan.
Senyum Daniel tersirat dan ia mulai menindih tubuh Devita, Malam pergulatan itu terjadi lagi sampai menjelang pagi barulah Daniel menghentikan nya karena melihat Devita yang sudah tertidur karena kelelahan.
'' Terima kasih, honey. Tidurlah.'' Ucap Daniel dan mengecup singkat kening Devita yang sudah terlelap dari tidur nya.
Sinar mentari menyinari sebuah kamar dari celah jendela yang sedikit terbuka dan menyilaukan seseorang yang masih ingin memejamkan matanya namun terganggu dengan kesilauan sinar matahari.
'' Selamat pagi, honey,'' ucap Daniel yang sedang berpakaian.
Devita mengerjapkan mata menyesuaikan pencahayaan lampu ruangan yang begitu terang, matanya melirik ke jam besar yang tergantung di dinding dengan seketika Devita langsung bangun.
'' Jam Delapan, kenapa kau tidak membangun aku,'' ucap Devita dengan kesal
'' Memangnya kau mau kemana?''
'' Hari ini ada ujian, Daniel.'' Devita langsung berlari dengan membungkus tubuh telanjangnya dengan selimut tebalnya.
__ADS_1
Daniel terkekeh dan melanjutkan bersiap-siap karena hari ini dia harus ke kantor.
Hanya lima belas menit Devita sudah keluar dari dalam kamar mandi dengan menggunakan baju handuknya dan menuju walk in closet dengan sedikit berlari.
'' Pelan-pelan kau bisa terpeleset!'' teriak Daniel.
Setelah berpakaian rapih Devita hanya perlu memoles sedikit wajahnya dengan skincare juga mengoleskan sedikit lipbalm di bibir merah muda nya.
'' Daniel kau belum berangkat?'' tanya Devita yang sedang memakai sepatunya.
'' Aku menunggu dirimu,''
Merekapun berangkat bersama, jarak Apartemen ke kampus Devita tidaklah jauh hanya memerlukan waktu lima belas menit.
Setelah mengantarkan Devita kekampus nya, Daniel segera melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh karena dia pun mempunyai meeting penting dengan client pentingnya.
'' Dev,'' panggil seseorang yang ternyata ia adalah Jonathan.
'' Jo, kau baru sampai?'' tanya Devita.
'' Ya, kau serius mengajak ku untuk pergi bersama kalian?'' tanya Jonathan dan di angguki Devita dengan yakin.
'' Kalau aku mengajak seseorang untuk pergi bersama ku, apa tidak masalah?'' tanya Jonathan lagi. '' Tidak masalah, ajak saja lagipula semakin ramai semakin seru kan,'' jawabnya dengan suka hati.
'' Kalau begitu aku tidak jadi ikut,'' ucap seseorang yang sedari tadi mendengarkan obrolan Devita dan Jonathan.
__ADS_1
Tbc..