Cinta CEO Arrogant

Cinta CEO Arrogant
Apa yang salah?? (Puspa Kinara)


__ADS_3

Budayakan Like sebelum atau setelah Membaca ya aka aka ku tersayang 😊😊


Dan tolong tinggalkan jejak komentar nya doong, biar Author lebih semangat nulisnya 😊😊😊..


Banyak maunya yaaπŸ˜„ iya emang πŸ˜†πŸ˜†


eettt satu lagi,, VOTE nya jangan lupa😁✌✌


...πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€...



HAPPY READINGπŸ“–..


πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Interogasi itu berlanjut setelah Zen melayangkan pertanyaan lagi.


''Dimana pemakaman orang tua Devita?'' tanya Zen.


''Orang tua Devita di makamkan di negara kelahiran nya di Indonesia.'' Kali ini yang menjawab adalah Chloe.


''Chloe,'' bisik Sari.


''Kenapa Mih,'' tanya Chloe yang berbisik juga.


''Di Indonesia? tapi kata Devita Jasad orang tuanya hancur bercampur dengan kerangka mobil dan abunya di kuburkan di halaman belakang kan.'' Ucap Puspa lagi.


''Tidak, kata Papih dan Mamih jasad Bibi dan Paman di kebumikan di Indonesia.'' Ucap Chloe dengan keukeuh.


''Paman, Bibi. Jawaban mana yang benar? aku tau itu dari Devita langsung karena kalian yang mengatakannya pada Devita kan.'' Ucap Puspa lagi.


''Kau lihat kan Tuan, inilah tujuan ku membawa Nona Puspa kesini.'' Bisik Zen ke telinga Daniel, Daniel hanya tersenyum tipis dan mengagguk.


''Cukup, pertanyaan yang ingin kami tanyakan sudah cukup.'' Ucap Daniel Tiba-tiba.


''Sekarang aku meminta foto wajah orang tua Devita.'' Ucap Daniel lagi.


''Baik sebentar Tuan,'' Sari berlalu menuju kamarnya, untuk mengambil apa yang di pinta Daniel.


Tidak berselang lama, Sari kembali dengan album foto berukuran kecil yang di dalamnya terdapat foto-foto orang tua Devita.


''Ini Tuan, didalamnya semua foto orang tua Devita.'' Ucap Sari yang menyerahkan album itu dan di terima Zen.


Daniel dan yang lainnya pun berlalu keluar dari rumah itu tanpa ada kata apapun yang terlontar.


''Biar Puspa pulang bersama ku.'' Ucap Kemal yang langsung menarik lengan Puspa.


Zen dan yang lainnya hanya menatap heran, dan berlalu begitu saja.


''Kau naik lah,'' ucap Kemal dengan dingin.


''Tidak, aku bisa pulang sendiri,'' tolak Puspa dengan kaki yang sudah melangkah namun terhenti karena Kemal kembali menarik tangan Puspa.

__ADS_1


Dari balik jendela bergorden putih, Chloe melihat Kemal yang menarik tangan Puspa dan membawanya masuk ke mobilnya dengan hati yang cemburu.


''Ternyata pria itu dekat dengan Puspa,'' gumam Chloe dengan tangan yang meremat kain gorden itu.


''Aku sudah terlanjur menyukai nya,'' lanjutanya.


Di dalam mobil yang sudah melaju.


Kemal dengan seriusnya menyetir mobilnya, dengan sesekali matanya melirik Puspa yang tengah menyenderkan kepalanya di kaca mobilnya.


''Kenapa diam saja?'' tanya Kemal.


''Tidak,''..


''Tidak apa?''


Puspa tidak lagi menaggapinya karena sibuk dengan game di ponsel nya.


''Puspa aku sedang mengajak kau bicara,'' ucap Kemal dengan gemas.


''Bicara saja, aku mendengar kok,'' ucapnya dengan cuek.


Kemal menghela nafasnya dengan kasar, Ia paham Puspa masih salah paham dengan nya.


''Mpus, aku ingin berbicara sesuatu.'' Ucap Kemal dengan lembut.


''Sedari tadi kau juga sudah berbicara,'' ucapnya masi dengan mode acuh.


''Sebenarnya dugaan kamu waktu itu salah,'' ujar Kemal dengan ragu.


''Perihal aku mendekati mu untuk lebih dekat dengan Devita.'' Dengan keberanian yang sudah di tekatkan Kemal mengatakan itu.


''Terus?'' masih dengan game di tangannya.


''Ya karena aku menyukaimu.''


Deg'


Jari Puspa yang sedang berperang dengan gamenya langsung terhenti karena mendengar ucapan Kemal. 1 detik, 2 detik sampai 5 detik, Puspa masih bungkam dan ke enam detik Puspa tertawa terbahak-bahak.


Kemal yang melihat Puspa tertawa merasa heran. Ada apa? apa ada yang salah dengan ucapan ku? itulah yang ada di benak Kemal.


''Humor mu sangat bagus, Tuan koffie.'' Ucapnya masih dengan tawanya yang sulit di reda sampai ada linangan airmata di ujung pelupuk matanya.


Seketika Kemal mengerem dengan mendadak membuat Puspa tiba-tiba memberhentikan tawanya walau itu sulit.


''Kenapa berhenti?'' tanya Puspa masih dengan nada sisah dari tawanya.


''Aku serius Puspa Kinara.'' Bentak Kemal.


Wajah Puspa yang semula memerah karena tawanya sekarang wajahnya beralih menjadi pucat pasih karena bentakan Kemal.


''Aku memang menyukai mu.'' Ucapnya lagi dengan nada sedikit melembut.

__ADS_1


Puspa menatap langsung kedua manik mata Kemal untuk mencari kebohongan di dalamnya. Apa kau serius dengan ucapan mu kemal? ucapnya dalam hati.


''Aku akan pulang sendiri.'' Ucap Puspa yang langsung turun dari mobil.


''Puspa, tunggu.'' Kemal berusaha mengejarmengejarnya tapi kalah cepat karena Puspa sudah terlanjur menaiki taxi yang kebetulan lewat itu.


''Aaah Siall!!'' Teriak Kemal dengan prustasi.


''Apa ucapan ku kali ini salah lagi.'' Gumamnya masih dengan rasa putus asanya.


Apa yang salah dengan ucapan Kemal, jujur dengan perasaan yang di punya itu lebih baik kan, ketimbang harus menyimpan nya yang entah sampai kapan itu terungkap.


.


.


.


Di Rumah yang seperti istana itu, Devita tengah berada di meja makan bersama Mimi dan Reno kepercayaan Tuan besar rumah itu.


Devita makan dengan diam begitu pula kedua manusia itu, setelah ia menyelesaikan makannya, Devita memberanikan diri untuk berbicara pada Reno yang berwajah datar tanpa expresi itu.


''Tuan Reno, apa aku boleh meminta sesuatu?'' tanya Devita dengan ragu.


''Katakanlah, Nona.'' Ucapnya dengan menatap langsung manik mata Devita.


''Emmmm, apa boleh aku bertemu dengan Tuan besar rumah ini.'' Ujar Devita dengan hati-hati.


Reno tidak langsung menjawab nya, matanya


yang semula menatap langsung Devita seketika Ia mengalihkan pandangan itu.


''Tuan?'' tanya Devita lagi.


''Nanti akan ku sampaikan pada Tuan besar permintaan mu itu, istirahatlah, aku akan kembali bekerja.'' Ucap Reno dan langsung berlalu begitu saja meninggalkan Devita dan Mimi.


''Mimi, bagaimana ini. Tuan Reno sepertinya tidak mengizinkan aku untuk bertemu dengan Tuan besar.'' Rengek Devita pada Mimi, ya 3 hari terkurung di bangunan seperti istana ini membuat Devita merasa dekat dengan Mimi.


''Sabar ya Nona, mungkin Tuan Reno akan menyampaikan permintaan Nona terlebih dulu,'' ucap Mimi menenangkan Devita.


''Huuuff, aku merindukan seseorang, Mi.'' Ucap Devita lepas menghela nafasnya, dengan pandangan menatap ke atas yang menyiratkan kerinduan pada seseorang.


''Merindukan siapa, Nona?'' tanya Mimi ingin tau.


''Seseorang yang membuat ku kembali bangkit, seseorang yang membuatku bersemangat kembali, dan seseorang yang membuat ku kuat.'' Jawab Devita menjajarkan gambaran seseorang itu.


''Seorang Pria kah?'' tebak Mimi dengan tepat.


''Ya, dia Pria yang memberikan kehidupan baru pada ku, berkat dia aku keluar dari neraka Dunia yang menjeratku.'' Jawab Devita dengan bibir yang terus tersenyum.


''Nona mencintai nya?'' tanya Mimi lagi.


''Aku tidak tau apa itu cinta, yang aku tau, aku sangat nyaman berada di dekatnya,'' ucapnya.

__ADS_1


Tanpa Devita sadar seseorang telah merekam semua ucapannya dengan diam-diam.


__ADS_2