Cinta CEO Arrogant

Cinta CEO Arrogant
Lamunan Puspa


__ADS_3

Budayakan Like sebelum atau setelah Membaca ya aka aka ku tersayang 😊😊


Dan tolong tinggalkan jejak komentar nya doong, biar Author lebih semangat nulisnya 😊😊😊..


Banyak maunya yaaπŸ˜„ iya emang πŸ˜†πŸ˜†


eettt satu lagi,, VOTE nya jangan lupa😁✌✌


Serta tipsnya bila perluπŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ Nglunjak kata orang sunda mah yaa...πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


...πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€...


Daniel sudah pergi dari Mansion Huang yang sangat besar itu, Devita menatap mobil berwarna hitam bright itu di balkon ruang kantor sang Ayah, mobil yang semakin menjauh dan menghilang membuat Devita menghela nafasnya perlahan.


Mengingat Daniel dan sang Ayah seperti Tom and Jerry, Ia sedikit ragu pada hubungan nya dengan Daniel.


Apa bisa aku menjalaninya sampai ke jenjang serius? pertanyaan itu tiba-tiba muncul dalam benak Devita.


Lamunan itu tak luput dari pandangan Mahendra, Ia mengerti apa yang putrinya rasakan saat ini, tapi rasa egois karena rindu pada sang anak gadisnya membuat dirinya mengesampingkan itu.


''Devi, apa kau menyesal dengan keputusan mu?'' tanya Mahendra yang sudah berada di samping anaknya.


''Tidak Ayah, aku tidak sama sekali menyesal.'' Ucap Devita dengan lembut.


Wajah anak gadisnya mengingatkan dengan sang istri yang telah tiada itu, wajah yang sangat di rindukannya, gadis kecilnya kini sudah beranjak dewasa, dan Mahendra akan menyiapkan hati jika ada seorang pemuda yang ingin mengambilnya kembali dari dirinya untuk di persunting sebagai istrinya.


Di Toko yang di beri nama Depu Flowers, seorang gadis sedang di sibukan dengan para customer yang sedang memilih bunga-bunga yang di inginkan nya.


Nafas beratnya menandakan ia tengah lelah, setelah seharian bekerja mengurus usahanya yang di bangun bersama sahabat nya itu Ia sangat merasa beruntung karena tidak sia-sia.


Toko yang semakin hari semakin ramai pembeli serta peminatnya, dan sampai ada sebuah kantor yang berlangganan dengan tokonya.


Dengan di bantu satu karyawan wanita membuat Ia sedikit terbantu, pandangan nya menatap jauh ke depan sana.


''Devita, kau dimana?'' bibirnya berucap sesuai isi hatinya.


Sosok Sahabat yang di rindukan, yang beberapa hari ini entah tau dimana, bagaimana keadaan nya, sehat atau tidak? seperti seorang ibu yang mengkhawatirkan anak gadisnya, itulah pikiran seorang Puspa.


Hati yang lembut membuat Puspa sangat menyayangi Devita dengan tulus, bahkan melebihi seorang sahabat.


''Ka, mau di belikan makan?'' tanya seorang gadis yang bernama Citra.


Citra mahasiswa beasiswa yang di kenalnya sangat rajin membuat Puspa memintanya untuk membantu nya di Toko.

__ADS_1


''Aahh, tidak. tapi tolong belikan aku soda ya.'' Jawab Puspa dengan lembut.


''Baik ka, aku ke supermarket sebentar.'' Ucap Citra pamit.


Tatapan Puspa kembali jauh menerawang ke sembarang arah.



Seorang pria sedang berdiri dengan tangan yang di makukan di saku celananya. Tatapan lembutnya mengarah ke wajah cantik Puspa yang terlihat sedang memikirkan sesuatu dan pria itu sangat tau apa yang ada di benak Puspa.



''Wajah cantik mu tidak pantas untuk melamun,'' ucap Kemal mengejutkan Puspa.


Ya pria itu adalah Kemal yang sedari tadi memperhatikan Puspa.


''Sedang apa kau disini?'' tanya Puspa dengan expresi datarnya.


''Aku tidak sengaja lewat, dan berniat untuk mampir.'' Jwab Kemal yang ikut duduk du samping Puspa.


Puspa tidak menjawab, Ia hanya diam dan tangannya yang di sibukan dengan ponselnya.


''Apa yang sedang kau pikirkan?'' tanya Kemal.


''Devita sudah ketemu.'' Ucap Kemal, dan membuat Puspa menatap Kemal dengan mata yang berbinar.


''Dimana? keadaan nya bagaimana? sehat kan?'' pertanyaan demi pertanyaan di layangkan Puspa ke Kemal.


''Tadi saja aku di cuekin, sekarang malah banyak tanya,'' sindir Kemal dengan jailnya.


Puspa memutar matanya malas. Kenapa pria kebanyakan suka sekali membuat para wanita merasa bersalah, pikir Puspa.


''Ya Maaf, cepat katakan apa yang kau tau,'' ucapnya dengan tidak sabar.


''Devita bersama Ayahnya, dan keadaan dia sangat baik kau tidak perlu khawatir,''


''Ayahnya? kau tidak lagi membual kan?'' ucap Puspa yang memang tidak begitu percaya dengan ucapan Kemal.


''Apa untung nya aku membual pada mu,''


''Bagaimana bisa, Ayahnya Devita kan sudah meninggal 12 tahun yang lalu, dan sekarang kau mengatakan Devita bersama Ayahnya.'' Puspa keukeuh tidak percaya.


''Tapi memang itu kenyataan nya.''

__ADS_1


''Tapi jika kau mengatakan benar, apa kau tidak curiga dengan pria yang mengaku sebagai Ayah nya Devita, bisa saja kan dia Pria hidung belang dan bisa juga dia komplotan penjualan gadis untuk di jadikan wanita-wanita malam.'' Ucap Puspa dengan panjang lebar.


Sentilan mendarat di kening Puspa yang tak hentinya bercuap.


''Bibir mu bisa diam tidak, kalau tidak akan ku makan dengan lahap.'' Ucapan Kemal berhasil membuat Puspa diam dengan tatapan ngeri.


''Mesum,'' gumam Puspa dengan pipi yang memerah.


Kemal puas karena ucapannya membuat Puspa diam seketika, wajah Puspa yang memerah takbluput juga dari pandangan Kemal.


''Aku masih menunggu jawaban mu, Puspa.'' Ucap Kemal tiba-tiba.


''Jawaban, jawaban apa?'' tanya Puspa dengan heran.


''Kau tidak ingat? apa pura-pura tidak mengingat nya.''


''Jawaban apa yang dia maksud,'' gumam Puspa dalam hati.


Lama Puspa diam, karena sedang berusaha mengingat apa yang di maksud Kemal.


Matanya melebar setelah mengingat apa yang di ucapkan Kemal tempo hari padanya.


Expresi yang sudah mengingat apa yang di maksud, Kemal terus memperhatikannya.


''Sudah ada jawabannya?'' tanya Kemal.


Apa dia serius dengan ucapannya, tapi aku benar-benar belum percaya ataupun yakin padanya. Pikir Puspa.


''Belum ya?''


''Apa kau tidak percaya dengan ucapan ku. Karena kau masih menganggap, bahwa kau mengira aku membuat mu sebagai pelarian ku.'' Kemal terus berucap tiada henti, namum Puspa masih diam membisu.


Mencari celah tanda kebohongan di mata Kemal, tapi yang di dapat hanya tatapan ketulusnya.


''Apa aku harus percaya padamu?'' tanya Puspa dengan jelas.


''Aku tidak berhak membuat mu mengharuskan percaya dengan ucapan ku, tapi aku memang tidak sedang membual.'' Jawab Kemal yang terus meyakinkan Puspa.


''Bisa ku pegang ucapan mu.''


''Silahkan,''


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2